Langsung ke konten utama

ANALISIS LATAR SOSIAL BUDAYA DALAM NOVEL DAERAH SALJU KARYA KAWABATA YASUNARI DITERJEMAHKAN DARI YUKIGUMI OLEH MATSUOKA KUNIO DAN AJIB ROSIDI


A.      SINOPSIS
            Novel Daerah Salju karya Kawabata Yasunari diterjemahkan dari Yukigumi oleh Matsuoka Kunio dan Ajib Rosidi ini, menceritakan tentang lika-liku kehidupan yang ada di Jepang khususnya di penginapan di daerah pegunungan yang terdapat geisha atau wanita penghiburnya. Cerita ini berawal dari sebuah perjalanan di dalam kereta menuju ke penginapan di daerah pegunungan. Shimamura dan Yoko bersama kawannya setengah jam kemudian tiba di stasiun yang sama. Setelah itu Shimamura langsung menuju ke penginapan, dan di sana ia disambut oleh geisha. Rupanya ia sudah akrab dengan keadaan di sana dan sudah mengenal beberapa geisha yang ada di sana. 

Keesokan harinya, datanglah seorang wanita ke kamar Shimamura.  Mereka bercakap-cakap dan mulai merasakan adanya rasa persahabatan di antara keduanya. Mereka membicarakan tentang tarian-tarian barat, sampai membicarakan seorang wanita geisha. Sambil Shimamura menyesuaikan diri dengan warna terhadap sifat penduduk daerah yang dikunjunginya.  Wanita itu sering ke kamar Shimamura dan mulai membicarakan banyak hal. Wanita itu mengatakan tentang hubungan mereka yang tidak bisa lebih dari sahabat. Dan Shimamura bingung dengan maksud wanita tersebut. Wanita itu menangis karena merasa penjelasannya tersebut ditertawakan oleh Shimamura. 

Tiba-tiba wanita itu bercerita tentang catatan hariannya kepada Shimamura. Betapa terkejutnya Shimamura karena ia tahu bahwa ternyata wanita itu mencatat semua roman yang dibacanya sejak berumur lima belas atau enam belas tahun dan dan buku catatannya sudah mencapai sepuluh jilid.Kemudian dia membacakan roman-romannya tersebut pada Shimamura  dengan riangnya. Cerita wanita itu mengenai roman, tidak menyangkut sama sekali dengan istilah kesusastraan yang dipakai sehari-hari. Itu karena ia hanya menulis cerita tentang kehidupannya dari pertukaran majalah dengan penduduk kampung, sehingga ia membaca sendirian saja.

Geisha itu barnama Komako. Ia sering pergi ke acara perjamuan, tetapi tida lupa ia selalu menyempatkan diri ke kamar Shimamura. Wanita itu sering ke kamar Shimamura dan mandi di sana. Shimamura merasakan bahwa Komako berbeda dengan wanita geisha yang lain. Ada sesuatu yang membuat Shimamura tertarik degan Komako. Seperti sebelumnya, setelah pulang dari pejamuan dengan keadaan mabuk, Komako datang terhuyung-huyung menuju ke kamar Shimamura. Disana, mereka bercerita tentang gadis yang ditemui  Shimamura  ketika dalam perjalanan didalam kereta, dan Komako minta pamit pulang begitu saja setelah mereka selesai bercerita. Ia pulang ke rumah guru tarinya yang dulunya juga tempat bekas memelihara ulat sutera. Dan keadaan bilik tersebut sangat menyedihkan dan tidak layak untuk ditempati.

Shimamura diajak melihat keadaan kamar tersebut dan juga diajak ke kamar tempat si sakit anak dari guru tarinya. Kemudian Komako bercerita sedikit tentang anak guru tari tersebut. Dan di ssat itu terdengar suara gadis yang suaranya tidk asing bagi Shimamura. Ternyata suara itu adalah suara gadis yang dilihatnya di dalam kereta yang merawat laki-laki yang sedang sakit, gadis itu adalah Yoko. Walaupun sudah keluar dari bilik, tetapi ingatan himamura tidak bisa lepas dari Yoko, gadis yang ditemuinya di dalam kereta yang diam-diam pernah diamatinya. Ia berjalan semakin cepat sambil memandangi gunung-gunung yang berderet dan pemandangan disekitarnya. Sampai di puncak pendakian ia bertemu dengan seorang wanita tukang pijit. Sambil dipijit, ia berbincang-bincang dengan wanita itu. Mereka membicarakan tentang geisha yang ahli dalam memainkan shamisen (alat musik yang seperti gitar tapi lebih kecil dengan tiga buah senar). Mereka juga bercerita tentang Komako yang kabarnya menjadi geisha karena kepentingan tunangannya. Pemijatan sudah selesai dan akhirnya mereka menghentikan pembicaraan, setelah itu mereka saling berpamitan dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing. 

Di rumah penginapan itu diselenggarakan pertemuan untuk merundingkan persiapan menyambut para tamu pemain ski. Sementara itu Shimamura merasa hampa dan sedih karena Komako nantinya juga akan ada di situ untuk melakukan perjamuan. Tetapi sepulang dari perjamuan Komako mendatangi bilik Shimamura dengan keadaan mabuk. Ia berbaring dan mulai bercerita tentang sepanjang bulan Agustus Komako hanya menghabiskan waktunya tanpa melakukan apa-apa karena menderita kelemahan saraf dan tentang hal-hal lain sebagainya. Komako meras kawatir kalau nanti ia sampai gila.

Keesokan harinya ketika mereka terjaga dari tidur, tiba-tiba Shimamura teringat akan perkataan  tukang pijit wanita yang menanjurkan Komako untuk balajar pada wanita itu saja. Komako bangkit dan menelpon supaya buku latihan nagauta (nyanyian tradisional khas Jepang yang ketika dinyanyikan diiringi oleh shamisen) dan pakaian untuk salin diantarkan ke penginapan. Mengingat adanya telepon di rumah yang baru saja dikunjungi kemarin, Shimamura seraya ingat juga pada Yoko. Dan tiba-tiba Shimamura bertanya tentang kebenaran berita pertunangan Komako. Komako yang mendengarnya kemudian membatah berita tersebut, kemudian menceritakan cerita yang sebenarnya kepada Shimamura. Setelah  itu Yoko datang mengantarkan pakaian salin Komako kemudian langsung pulang dan tidak mengatakan apa-apa.

Sejak itu, walaupun Komako menginap, ia tida memaksakan diri untuk pulang sebelum fajar menyingsing. Terkadang ia bermain dengan memeluk anak gadis kecil di dalam kotatsu (alat pemanas bagian bawah tubuh). Kemudian Shimamura melihat Komako dan anak gadis tersebut, nampaklah juga orang yang berpakaian ski sedang bermai di ladang yang berada di ujung kaki gunung. Keesokan harinya shimamura akan pulang, ia bertukar pakaian dan berangkat dengan kereta jam tiga sore. Sebeum meninggalkan penginapan itu, ia membayar uang penginapan.Komako mengantarkan Shimamura ke stasiun. Sambil menunggu kereta datang, tiba-tiba Yoko datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeluk Komako. Yoko menyuruh Komako cepat kembali ke rumah karena anak guru tari yang rumahnya Komako tinggali dalam keadaan sekarat. Tetapi Komako tidak menghiraukannya. Ia malah ingin ikut Shimamura pulang dan tidak mau memnemui laki-laki yamg sakit itu.  Dengan berdalih ia tidak mau melihat orang meninggal. Mereka terdiam dan tidak bisa mengucapkan apa-apa. Kemudian kereta datang, Komako mengucapkan selamat jalan pada Shimamura.

Tiba saatnya musim serangga bertelur. Sehingga banyak serangga yang masuk ke dalam rumah-rumah. Shimamura datang ke penginapan lagi. Ketika shimamura sampai di tempat penerimaan tamu, ia diajak istri pemilik penginapan. Disana Shimamura bertemu dengan Komako lagi. Mereka berdebat sejenak tentang perpisahan mereka di waktu lalu. Komako sedikit protes pada Shimamura yang ingkar janji untuk datang pada tanggal yang dikatakan pada Komako. Dan Shimamura merasa bersalah karena ketidakdatangannya membuat Komako tidak menerima untuk marawat guru tarinya yang di pelabuhan sakit paru-paru. Karena pada tanggal mereka janjian, kemudian di hari berikutnya Komako mendapat telegram dan akhirnya ia mau merawat guru tarinya tersebut dan akhirnya guru tarinya tersebut meninggal. Shimamura merasa bersalah dan meminta maaf pada Komako. Tiba-tiba Komako mengeluh sakit lambung dan meniarap ke pangkuan Shimamura. Semenjak Guru tarinya meninggal, Komako pindah rumah dan ia benar-benar menjadi wanita geisha.

Pembicaraan tentang guru tari itu berakhir, mereka berpindah  membicarakan tentang Komako yang apabila ia sudah menikah nanti. Tiba-tiba Komako mengalihkan pembicaraan, ia Mengharap Shimamura akan tetap datang ke penginapan itu walaupun hanya setahun sekali. Komako mengatakan ia mungkin tidak akan bisa mempunyai anak. Ia pernah ingin dinikahi  oleh orang yang berasal dari pelabuhan, tetapi ia tidak mau dan mengelak dengan beberapa cara. Keesokan harinya Komako bangun pagi  dan segera pulang meninggalkan bilik Shimamura. Setelah Komako pulang, Shimamura berjalan-jalan ke kampung. Ia juga melihat aktifitas para penduduk saat itu. Sebelum berangkat, Shimamura membeli buku petunjuk tentang gunung-gunung di sekitar penginapan. 

Sepulang dari jalan-jalan, ketika turun dari mobil, Shimamura disambut oleh Komako dan dihujani oleh rasa penasaran Komako dari manakah Shimamura pergi. Tia-tiba mereka berdua melihat asap tebal dan nyala api membumbung di tengah kampung bawah. Rupanya yang terbakar adalah gudang ulat sutra. Komako ketakutan dan memeluk Shimamura. Kemudian mereka bergegas menuju tempat kebakaran itu. Pemadam kebakaran berdatangan berusaha memadamkan api yang  berkobar. Di dalam api yang membara itu terlempak sesosok wanita, dan tubuhnya terhempas ke tanah. Semua orang terkejut dan memjerit. Ternyata tubuh itu adalah milik Yoko. Komako dan Shimamura terpaku dan merasa tidak percaya bahwa gadis itu adalah Yoko. Komako langsung berlari dan merangkul tubuh Yoko sambil menangis. Shimamura hanya bisa melihat keduanya dalam lingkaran para penduduk tanpa mengucap sepatah katapun.

B.       ANALISIS NOVEL
1.      Dalam Daerah Salju, perempuan-perempuan yang hidup di pegunungan salju memiliki warna rambut yang hitam pekat. Warna rambut yang hitam menunjukkan rambut tersebut tebal dan kuat, sedangkan warna ungu memberikan gambaran bahwa rambut itu anggun dan indah berkilauan. Rambut adalah mahkota bagi wanita. Meskipun tinggal di daerah salju yang terpencil dan dingin, kebiasaan merawat rambut merupakan bagian dari aktivitas para perempuan di daerah salju. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk mengadam rambut, terutama para perempuan yang berprofesi sebagai geisha.
”Sya mau mengandam rambut,” kata Komako kepada Yoko, lalu berjalan di pematang sawah menuju kampung (Rosidi, 154)”
”Shimamura membelah rambut wanita itu dan memotong talinya.(Rosidi, 158)”

2.      Terdapat hasil kerajinan tangan di Jepang yang berasal dari penduduk pedalaman yang tidak pernah keluar dari dalam salju.
Chijimi rami dari daerah salju ini merupakan hasil kerajinan perempuan di pedalaman selagi terkurung lama-lama dalam salju,... (Rosidi: 188)

3.      Wanita dalam Daerah Salju diasosiasikan dengan kebutuhan seksual seorang laki-laki. Perempuan dalam Daerah Salju juga digunakan padanan kata onna untuk seorang perempuan yang tinggal di gunung, yang bersahaja dalam tradisi mereka.
...ketika bekerja sebagai pelayan di Tokyo untuk melayani tamu-tamu minum sake ia menjadi piaraan seseorang dan mendapat kesempatan berlatih untuk menjadi guru tarian Jepang di kemudian hari, tetapi kira-kira satu setengah tahun kemudian tuan yang memeliharanya itu meninggal. (Rosidi: 36)

4.       Bentuk rumah kebanyakan terbuat dari bambu. Karena di Jepang sering ada gempa karena Jepang berada pada derenan pegunungan.  Sehingga apabila rumah dibangun dengan semen, maka akan selalu rusak terkena goncangan gempa.
Kebanyakan rumah beratap sirap dan di atasnya terletak batu-batu yang berderet. Batu-batu yang bulat itu pada belahan atap yang tertimpa sinar matahari kelihatan hitam dalam salju, dan warna itu tidak seperti basah tapi seperti warna tinta hitam yang digosokkan oleh salju dan angin sedingin es. (Rosidi: 71)

5.      Daerah salju menceritakan tentang keadaan di suatu daerah di Jepang yang sangat dingin karena sedang mengalami musim salju. Musim salju tersebut terjadi dalam satu tahun sekali.
Yang pertama sekali tampak oleh Shimamura ketika turun dari kereta api ialah bunga putih di gunung itu yang berkembang di lereng yang curam di dekat puncak dan berkilauan warna perak, merupakan sinar matahari musim rontok.... (Rosidi: 121)
“Begitu dinginkah kau berpakaian seperti itu?”
“Ya, kami semua sudah siap menghadapi musim dingin Teristimewa dingin pada malam sebelum hari cerah sesudah turun salju. Malam ini agaknya suhu udara sudah di bawah titik beku. (Rosidi, 29)”

6.      Daerah Salju menggambarkan kehidupan masyarakat yang berada di daerah terpencil, desa. Hal ini digambarkan dalam Daerah Salju yang menggambarkan suatu kehidupan masyarakat Jepang di daerah terpencil, yaitu daerah salju yang berada di wilayah Jepang bagian barat. Daerah salju digambarkan sebagai tempat terpencil sehingga ketika hendak mengunjungi daerah tersebut, seseorang harus menempuh perjalanan yang jauh dengan mengendarai kereta api penumpang yang sudah usang, harus melewati terowongan baru sampai di daerah salju yang disekitarnya penuh dengan salju yang dingin.
“ Begitu keluar dari terowongan yang panjang di pebatasan, tibalah di daerah salju.(Rosidi, 19)”

7.      Kebiasaan pengunjung di daerah salju dan penduduk sekitar yang bermain ski saat musim salju.
..., tampaklah lima-enam orang yang berpakaian ski warna hitam sedang bermain di ladang yang terletak di ujung kaki gunung,... (Rosidi: 101)

8.      Tradisi bagi semua wanita di daerah salju (Jepang) yang menjadi geisha untuk mempelajari tarian dan alat musik. Itu nantinya akan digunakan saat ada perjamuan untuk par tamu atau pengunjung di penginapan tersebut.
  “…Sementara itu, wanita itu berkata terus terang, di luar dugaannya, bahwa ia dilahirkan di daerah salju ini dan ketika bekerja sebagai pelayan Tokyo untuk melayani tamu-tamu minum sakeia menjadi piaraan seseorang dan mendapat kesempatan untuk berlatih agar menjadi guru tarian Jepagdi kemudian hari.  (Rosidi, 36)”
“Untuk melayani tamu, yang utama tarian, dan yang saya pelajari pada waktu di Tokyo juga tarian Memetik shamisen saya tidak belajar secara penuh, maka kalau sekali lupa tidak ada lagi orang yang melatih saya, jadi hanya ini saya yang dapat menolong saya. (Rosidi, 94)”

9.      Kebiaasan minum sake bagi orang-orang di daerah salju
“Begini, Tuan. Kalau orang tidak minum sake ia tidak bisa merasakan nikmatnya, yaitu bisa melupakan segala sesuatu. (Rosidi, 82)”

10.   Setiap Jenis permainan musik yang dimainkan memiliki makna tersendiri bagi yang memahaminya.
 “Ketika Kanjincho selesai dimainkan barulah Shimamura merasa lega, dan, dan berfikir ah! Wanita ini sudah jatuh cinta kepadaku, dan hal itu juga membuatnya merasa menyesal.” (Rosidi, 96)”

11.  Adanya  perayaan-perayaan yang masih diperingati secara turun-temurun.
“Pada tanggal empat belas Februari ada perayaan Mengusir Burung. Semacam acara tahunan anak-anak yang cocok untuk daerah salju. (Rosidi, 123)”

12.  Penduduknya mayoritas berpenghasilan dari hasil pertanian.
“….Tempat itu merupakan lereng bukit yang menuju ke rimba pohon sugi dan di kebun tepat di bawah jendela penginapan ditanam sayur-sayuran seperti lobak, ubi jalar, bawang daun, talas dan sebagainya.  (Rosidi, 146)”

13.  Pakaian adat Jepang yang selalu digunakan dalam melakukan acara yang bersifat penting. Seperti acara perjamuan yang digambarkan dalam daerah salju.
“Ia mengenakan kimono awase terbuat dari kain tenunan muslin yang mewah berlengan bulat dannemaki yang berkerah hitam dengan ikat pinggang yang disebut datemaki…  (Rosidi, 158)”

14.  Bagi geisha, acara perjamuan untuk melayani tamu itu adalah suatu kewajiban.
“Tidak-tidak. Saya mau pulang. Karena ada perjamuan orang di sisni, semua orang pergi ke perjamuan yang berikut….  (Rosidi, 177)”

15.  Hubungan antara laki-laki yang tanpa ada ikatan dianggap syah-syah saja dan dianggap wajar. Seperti yang digambarkan oleh Shimamura dan Komako.
“Aku bangun,” kata Shimamura sambil memegang tangan wanita itu dan keluarbdari tempat tidurnya dengan sigap. (Rosidi, 146)”

Komentar

  1. terimakasih di atas keterangan tentang novel,, bagaimana pula dikaitkan watak kepada psikoanalisis Freud..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka dalam Rumah Tangga

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Hallloooo... selamat tahun baru 2021 semuanyaa.. semoga segala sesuatunya akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.  Sudah 3 tahun blog ini tidak pernah terisi karena yang punya malas akut buat nulis.. Selama 3 tahun itu banyak kisah yang terlewati, baik suka maupun duka. Apa kabar buah si dedek yang kami?? Alhamdulillah dedek yang kita nanti sudah lahir, cowok... sekarang usianya 3 tahun lebih 2 bulan. Sudah aktif sekali tidak bisa diam. Bisa dibilang hiperaktif😂 Sudah 5 tahun berlalu semenjak pernikahan ini, dan cobaan pun melanda. Yang dikatakan orang dalam usia pernikahan 5 tahun pertama, rumah tangga akan diuji. Dannn itu pun terjadi pada kami... Doain ya semoga kami bisa melewatinya dan akan tetap menjadi keluarga yang solid. Aamiin. Intinya pihak ketiga datang saat kami dalam keadaan jenuh...  Salah satu apk telah membuat candu untuk selalu berselancar dalam dunia halu. Hingga akhirnya aku dan suami bertengkar he...

JOGJA, TERUKIR CERITA SAATKU BERSAMAMU

"Monggo Pak" sapa Intan dengan sopan kepada bapak satpam di hotel itu. Lalu ia menuju pintu keluar menuju ke pinggir jalan dan menengok ke arah jalan. Rupanya ia mencari seseorang yang sudah berjanjian dengannya untuk bertemu. Ia melayangkan pandang ke seluruh arah jalan yang ada di depannya, hingga ia menemukan seorang pria yang sedang asyik duduk di atas sepeda motornya dengan memainkan hpnya. Karena belum yakin dengan dugaannya, Intan memandangnya lama dengan harapan pria itu melambaikan tangannya. Dan benar sekali pria itu segera melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya. Intan pun segera menghampirinya. Sesaat mereka berdua saling pandang dan tersenyum kemudian bersalaman. "Ehmm.. udah lama ya Mas nunggunya? Maaf tadi masih nunggu teman sekamar." Intan mengawali obrolan dengan rasa malu. "Iya ndak papa Mbak. Loh kamu ini ada acara apa to di hotel ini? Kok sampek lama seminggu. Itu acaranya ngapain aja?" Pria yang bernama Zaki itu bertanya deng...

Esai Gunung Kemukus

                            PUNCAK GUNUNG KEMUKUS YANG PENUH CERITA                                                              Oleh Siti Nurhasanah                    Mencengangkan bagi yang belum pernah mengetahuinya. Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Ka...