PUNCAK GUNUNG KEMUKUS YANG PENUH CERITA
Oleh Siti Nurhasanah
Menurut saya, cerpen ini sangat menarik untuk dibaca, dan penyajiannya dalam bentuk bahasa Jawa. Yang bagi yang ingin menambah pengetahuannya dalam bahasa jawa dapat menambah kosakatanya dalam bahasa jawa. Dari segi ceritanya, cerpen ini menghibur dan menambah pengetahuan pembaca tentang suatu daerah yang terdapat di Sragen, Jawa tengah yang sampai saat ini masih ada mitos dan ritual yang dipercayai tepatnya di puncak Gunung Kemukus.
Oleh Siti Nurhasanah
Mencengangkan bagi yang belum pernah mengetahuinya. Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Letak Geografis
Secara geografis, Objek Wisata Gunung Kemukus terletak sekitar ± 29 KM di sebelah utara kota Solo. Dari Sragen sekitar 34 KM ke arah utara. Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari kota Sragen dapat ditempuh selama ± 45 menit dengan kendaraan bermotor melewati jalan Sragen - Pungkruk/Sidoharjo - Tanon - Sumberlawang/Gemolong - Gunung Kemukus. Dari kota Solo dapat menggunakan kendaraan bermotor selama ± 30 menit, melewati jalan Solo – Purwodadi turun di Barong kemudian menuju Gunung Kemukus dengan perahu menyeberangi Waduk Kedung Ombo. Tiap hari makam ini didatangi banyak orang. Selain ziarah, Anda bisa mengukur kekuatan jantung dengan menapaki anak tangga menuju makam. Puncak kunjungan wisatawan/peziarah di Gunung Kemukus terjadi setiap malam Ju’mat Pon di bulan Suro/Muharam. Pengunjung malam Jum’at Pon di bulan Suro/Muharam mencapai 15.000 orang dan pada malam Jum’at Kliwon di bulan Suro/Muharam mencapai 7.000 orang. Pada hari pertama di bulan Suro/Muharam diadakan ritual pencucian selambu makam Pangeran Samudro, yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu/Larab Langse, yang dilanjutkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara rutin tahunan di objek wisata ini.
Pengarang mengambil salah satu cerita yang menceritakan tentang kehidupan yang dialami oleh salah satu wanita yang hidup sebagai wanita penghibur yang sangat laris diminati oleh para lelaki yang berziarah di makam tersebut. Kemudian dia suatu ketika bertemu dengan lelaki yang cukup sering mengunjungi dia dan sangat dekat dengannya. Dia ternyata menyukai lelaki pelanggannya itu. Bagaimanakah nasib wanita penghibur itu? Budaya yang seperti apakah yang dimaksud? Seberapa unikkah budaya yang diungkapkan dalam cerpen ini? Siapakah pengarang dan seperti apakah keinginan pengarang yang menulis Kembang Kemukus tersebut?
Dalam cerpen tersebut pengarang menunjukkan kisah antara kedua insan yang berada di sekitar gunung Kemukus yang mengalami kisah asmara yang berawal dari suatu ritual yang mewajibkan suatu syarat agar apa yang diinginkan terkabul, akan tetapi sebaliknya, kedua insane ini terjerat tali asmara yang berakhir dengan kebahagiaan. Mereka berdua bahagia dan tidak lagi mengikuti syarat yang seharusnya mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Cerpen Kembang Kemukus terlahir dari budaya yang terdapat di puncak gunung kemukus yang sangat terkenal dengan mitosnya yang dapat mendatangkan kekayaan bagi yang melakukan ritual yang diwajibkan bagi peminatnya. Menurut sejarahnya, penamaan Gunung Kemukus adalah seperti ini, Pangeran Samudro dan pengikutnya sebenarnya sangat diharapkan untuk kembali ke Kasultanan Demak oleh Sultan Demak, namun ajal terlebih dahulu menjemput Pangeran Samudro. Sultan Demak mengatakan, “Menurut hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak.
Selanjutnya diterangkan bahwa di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap (kukus). Karena hal itulah, penduduk setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini. Demikianlah asal-usul Gunung Kemukus.
Makam Pangeran Samudro diyakini memiliki tuah yang bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh. Sebut saja ingin sukses berdagang, mudah jodoh, atau karier cepat menanjak. Sayangnya, objek ini tercemar oleh mitos-mitos sesat. Misalnya, niat seseorang akan terpenuhi asal dia harus berhubungan seks dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya. Padahal, tidak ada dasar cukup kuat untuk membenarkan mitos ini. Hasto, sang kuncen, juga tidak pernah tahu dari mana mitos itu berasal.
Karena itu, kini pada hitungan 150 anak tangga menuju makam, Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen memasang pengumuman melarang perbuatan asusila. Namun, begitulah seks, selalu mempunyai daya magnetis yang kuat. Apalagi banyak orang yang percaya akan kebenaran mitos di atas.
Terlepas dari itu, bila kita ingin menikmati pemandangan Bukit Kemukus dan sedikit berolahraga dengan menaiki anak tangga kemudian berziarah, niscaya Anda akan mendapatkan kepuasan jasmani dan rohani. Bila Anda kemalaman, tak usah khawatir, di sekitar bukit, ratusan rumah penduduk menyediakan jasa penginapan.
Pengarang adalah Karkono Supadi Putra, Dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Kesehariannya ia mengajar bahasa jawa di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Selain itu ia menyempatkan diri untuk membuat karya tulis yang berupa cerpen. Salah satunya adalah Kembang Kemukus ini. Dalam cerpennya seolah-olah pengarang menunjukkan bahwa ternyata seorang wanita penghibur yang ada di puncak gunung Kemukus tidaklah semuanya menjadi wanita penghibur karena keinginannya, tetapi karena tuntutan hidupnya.
Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Tiap hari makam Pangeran Samudro dan R.Ay. Ontrowulan didatangi banyak orang untuk mendapatkan keinginannya terutama adalah kekayaan.
Pengarang mengambil salah satu cerita yang menceritakan tentang kehidupan yang dialami oleh salah satu wanita yang hidup sebagai wanita penghibur yang sangat laris diminati oleh para lelaki yang berziarah di makam tersebut. Kemudian dia suatu ketika bertemu dengan lelaki yang cukup sering mengunjungi dia dan sangat dekat dengannya. Dia ternyata menyukai lelaki pelanggannya itu. Akhirnya mereka bersatu dengan bahagia.
Menurut saya, cerpen ini sangat menarik untuk dibaca, dan penyajiannya dalam bentuk bahasa Jawa. Yang bagi yang ingin menambah pengetahuannya dalam bahasa jawa dapat menambah kosakatanya dalam bahasa jawa. Dari segi ceritanya, cerpen ini menghibur dan menambah pengetahuan pembaca tentang suatu daerah yang terdapat di Sragen, Jawa tengah yang sampai saat ini masih ada mitos dan ritual yang dipercayai tepatnya di puncak Gunung Kemukus. Bagi yang belum membacanya, segera cari dan bacalah cerpen Kembang Kemukus ini, dijamin akan membuat pembaca bermain dalam perasaan yang tersirat dalam cerpen ini. Dan bagi pembaca yang ingin menambah pengetahuan dalam bahasa jawa, maka sangat dianjurkan membaca cerpen ini.
Komentar
Posting Komentar