Cerpen dari Kisah Nyataku
| Photo kita berdua bersama snack. Aku (sebelah kiri) dan temanku bernama asli Dike (sebelah kanan) |
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sudah sangat siang bila itu pada hari aktif. Karena harus mangikuti jadwal les yang sudah ditetapkan di lembaga les yang aku pilih. Seolah-olah pagi itu sudah mengisyaratkan hal yang tidak baik. Ada pepatah yang mengatakan jangan bangun siang atau nanti rejeki akan hilang.
Cerita ini berawal dari keinginaku untuk berjalan menyusuri indahnya kota Pare yang ada di sekitar tempat aku dan temanku mengambil kursus bahasa Inggris. Cerita ini berawal ketika liburan semester 6. Karena waktu libur berkisar antara dua sampai 3 bulan, daripada menganggur di rumah, aku memilih untuk mengisi liburanku ke kampung bahasa inggris yang berada di Pare, Kediri untuk menambah kemampuanku berbahasa inggris.
Dan akhirnya niatku kesampaian juga, aku dan temanku mengambil kursus les bahasa Inggris di Pare, Kediri. Tempat les yang terkenal se-Indonesia. Hampir seluruh penghuni dari propinsi di belahan pulau-pulau yang hamper seluruh Indonesia mengetahuinya. Buktinya ketika di wilayah perkampungan bahasa Inggris tersebut terdapat pelajar dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Dari Makasar, Pemalang, Tanggerang, Ternate, Kalimantan dan masih banyak lagi.
Setelah dua hari di sana, aku dan temanku yang bernama Dita berniat untuk jalan-jalan pagi mengitari perkampungan di lingkungan kampong bahasa Inggris dimana kami berdua tinggal. Hari itu tepat jam tujuh pagi, badanku tiba-tiba bergoyang-goyang. Mataku langsung mengeriyip, mencoba membuka mata dan mencari sebab kenapa badanku serasa bergerak-gerak seperti ada yang mengoyak perlahan.
“Bangun An, ayo cepat bangun. Kita kan kemaren sore sudah berencana jalan-jalan pagi hari ini.” Dita berusaha membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhku yang sedang enak-enaknya tergeletak tak berdaya di atas ranjang tidur baruku di asrama tempat lesku.
“Ah bentar lagi Dit, aku masih ngantuk nih.”, dengan menggeliat dan menjawab dengan suara serak.
“Loh ini sudah jam tujuh pagi An, sudah telat nih. Cepat cuci muka lalu kita berangkat jalan-jalan.” Suaranya makin keras di telingaku.Aku langsung mengiyakan dan segera ke kamar mandi dan bersiap-siap berangkat. Jam setengah delapan kami baru berangkat. Padahal yang lainnya sudah berbondong-bondong pulang ke asramanya masing-masing.
Baru saja akan menyeberang di depan asrama, aku hamper disrempet sepeda motor, untung aku sigap melihat ke arah kanan dan segera berlari menyeberang jalan. Temanku Dita hanya berteriak menyuruhku cepat-cepat berlari menyebarang ke seberang. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, kaki kami terasa capek, dan temanku Dita mengajakku untuk beristirahat sejenak di halaman masjid. Masjid besar yang dinamai masjid AN-NUUR. Masjidnya sangat megah serta luas dengan nuansa warna merahnya yang sangat menarik. Menaranya yang tinggi menjulang dengan pernik di sekitar tembokya yang kokoh membuat mataku tak jemu-jemu menatap. Kudatanggi kolam berbentuk kotak persegi dengan airnnya yang menghijau karena tak pernah ada yang membersihkannya. Air berkecipak banyak ikan yang naik terlihat di permukaan air. Ingin ku memberinya makan, tapi tak secuil makanan pun aku bawa. Akhirnya aku hanya melihat ikan-ikan berwarna-warni itu berenang. Tak lama kemudian Dita memukulku dengan sikutnya dan memperlihatkanku sesuatu. Setelah kutengok ternyata ada snack tergeletak disekitar halaman masjid dan tak ada pemiliknya. Warnanya merah merona menggoda mata dan cacing yang ada dalam perutku.
“Kebetulan ini, belum sarapan pagi, eh ada snack tergeletak begitu saja. Seolah hadiah buat kita ini Dit” kataku pada temanku.
“An, enak itu, ayo kita ambil saja snacknya. Gak ada yang punya itu.” , ajakan Dita membuatku tertarik. Aku bengong sejenak tapi niatku sebelumnya memang seperti itu, terlintas dalam benakku untuk tidak mengambilnya setelah aku mendekatinya. Aku dudk melihat snack itu dan temanku terus saja mengomandoku dari jauh untuk segera mengambilnya.
“Apa benar tidak apa-apa jika aku mengambil snack ini?” pikirku dalam hati dan merasa aneh. Teringat kejadian saat aku masih SMP dulu. Aku pernah menemukan pulpen di jalan, dan besoknya aku baru menyadari setelah kucari dalam kelspun tak ada. Kotak pensil beserta isinya lenyap tak berbekas. Mungkin itu hanya kebetulan saja pikirku. Lalu niatku untk mengambil snack itu muncul kembali. Temanku justru mempunyai ide untuk memotretku saat mengambil snack itu
“Jangan mengambil barang yang tergeletak di jalan kalau itu bukan milikmu. Karena itu bukan hak milikmu.” tapi tiba-tiba tanganku kaku dan mengingat perkataan guru agama waktu di SMA ku dulu. Tapi aku tak percaya dan tetap saja mengambilnya. Aku dan temanku bergantian berfoto dengan snack itu. Aneh memang tapi kami berdua sangat senang sekali dan menganggapnya ini kejadian yang langka. Lalu aku mengambil snack itu dan memakannya bersama dengan duduk di bawah pohon. Tak lama kemudian setelah selesai memekan snack itu, kami berputar berjalan mengelilingi tiap sudut masjid tersebut.
Aku merasa ingin ke kamar mandi, dan aku merasa ada yang aneh saat aku keluar dari toilet. Aku langsung merogoh semua kantong sakuku. Di kedua saku jaket jamperku, dan semua kantong yang ada di celanaku tak ada yang tersisa kurogoh semua. Aku semakin bingung, segera ku keluar kamar mandi dan mondar mandir menyusuri jalan yang kulewati tadi berkali-kali. Temanku Dita yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat sangat bingung dan heran melihatku mondar-mandir kebingungan. Dia tetap berdiri di depan pintu kamar mandi, terdiam dan melihatku penuh tanya. Aku yang melihatnya langsung menatapnya dan bertanya tentang uangku. Karena aku tak sabar mendengar jawabannya, seraya ku ambil hpku dank u telepon teman sekamarku yang ada di asrama dan menanyakan apakah uangku aku taruh di dompetku yang ada di dalam almari. Dan ternyata tidak ada.
“Aku taruh mana ya tadi uangku, aku tarh di dompet atau di saku celanaku. Ya ampun kenapa bisa lupa sih au.” Aku sangat kebingungan saat itu dan tak tau harus bagaimana kalau uang itu benar-benar raib. Sejauh itu Dita hanya melongo saja melihat kebingunganku.
“Uang sakuku hilang semua Dit.” Kataku sambil ingin menangis. Dan Dita pun kaget mendengar apa yang aku ucapkan. Dia menenangkan aku dari kegugupanku. Dan aku mulai menceritakan uangku yang aku taruh di saku hilang jatuh tak tau dimana. Lalu kami berdua menyusuri kembali sepanjang jalan yang kita putari di sekeliling masjid.
“Tenang An, mungkin kamu lupa menaruhnya, memang dimana kamu menyimpannya, dan berapa uangmu yang hilang? Tanyanya ingin tahu.
“Ehm.. semuanya Dit, 400 ribu. Aku menaruhnya di saku celanaku.” Dita berteriak karena kaget. Akupun terdiam tanpa kata.
“Apa kamu yakin? Kenapa kamu bawa semua uangmu dan kamu taruh saku celana, kamu benar-benar ceroboh.” Katanya yang baru saja dia lontarkan padaku semakin membuatku sedih dan merasa menyesal.
“Ya sudahlah An, kalau benar-benar hilang, selama di sini kamu pinjam uangku dulu, masalah mengganyinya bias kapan-kapan kalau kamu memmpunyai uang. Gimana?” aku hanya mengangguk saja pertanda menyetujui idenya.
Tak kusangka, firasat yang kurasa sedari pagi tak satupun kucermati, dan akibat memakan snack yang kutemukan di masjid, uang sakuku selama satu bulan di Pare hilang, tanpa sisa, hanya dua ribu yang tersisa di dompetku. Percaya atau tidak tapi kejadian itu benar-benar terjadi dan pengalaman itu tak akan kulupakan sepanjang hayat.
“Sabar An, ini pelajaran untuk kita berdua”. Hanya kata itu yang kudengar dari temanku dan dan tentu saja sanagat merasa kehilangan. Tapi aku harus mengikhlaskannya, itu belum menjadi rejekiku, pikirku. Aku terduduk lemas di bangku yang terdapat di halaman masjid dekat kolam itu. Pelajaran berharga yang aku dapat adalah jangan sembarangan mengambil barang yang bukan milik kita.Karena itu bukan hak kita. Kita malah akan kehilangan yang lebih dari apa yang kita temukan tersebut.
“Awalnya hanya sebungkus snack yang tergeletak di sekitar masjid,akan tetapi menjadi pelajaran yang berharga”. Pikirku tak henti-hentinya. Hari itu hari yang sial, tak tau mimpi apaaku tadi malamnya, benar-benar tak terbayangkan akan terjadi kejadian yang telah aku alami ini. Tidak mendapatkan apapun melainkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Uh, tau begitu tak usah aku ambil snack itu. Ampun-ampun.” Selalu begitu berulang-ulang aku katakana bila mengingat kejadian itu. Memang penyesalan datangnya belakangan. Mataku menerawang jauh memandang langit biru dan mengingat-ingat kejadian yang menggelikan namun juga mengenaskan itu. Memandang langit biru yang kulihat jauh dari jendela kamarku.
“Akh mungkin semua itu karena aku kurang banyak brsedekah, sehingga Tuhan mengambilnya.” aku tersenyum dan merasa malu.
Komentar
Posting Komentar