Orang-orang yang berada di lingkungan sekitar tempat dia tinggal, akrab memanggilnya Jamal. Dia tinggal di sebuah dusun kecil yang bernama dusun Muntilan, terletak di Daerah plosok berlatar kebudayaan Jawa. Desa Muntilan termasuk dusun yang terpencil tetapi sudah mulai berkembang meskipun sebagian kecil warga penduduk. Mata pencaharian dari warga dusun Muntilan mayoritas adalah sebagai petani. Akan tetapi banyak warga yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan sukses, sehingga mereka bisa membangun rumah yang bagus dan membeli tanah luas untuk wilayah pertanian mereka dan juga keluarganya kelak. Akan tetapi tidak semua beruntung seperti nasib TKI yang sudah sukses.
Ada beberapa keluarga yang tetap saja terlunta-lunta dan hanya memanfaatkan lahan yang ada untuk mencari penghidupan karena pendidikannya pun terbatas hanya sekedar menempuh sekolah dasar karena mereka tak mempunyai biaya untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Itupun tidak semua beruntung bisa menamatkan sampai kelas enam SD. Dan salah satu warga yang kurang beruntung itu adalah Jamal, ia putus sekolah pada saat kelas tiga SD. Dan dia menyadari apa yang dilakukannya itu memang sudah maksimal, melihat tempat tinggalnya dan kondisi keuangan keluarganya dulu yang serba pas-pasan. Sampai sekarangpun nasib tak berpihak padanya, kehidupan yang tak jauh berbeda dia alami juga sama dengan apa yang dialami keluarganya dulu semasa dia kecil. Setelah dia mempunyai rumah sendiri dengan keluarga kecilnya yang diwariskan oleh bapaknya, dia tinggal di sana sampai sekarang. Rumahnya yang menjorok ke dalam dari pada rumah tetangga-tetangganya membuat rumahnya sulit dijangkau olehnya ketika pulang dari bepergian. Yang penting bisa hidup dengan aman dan tentram itu sudah cukup membuat Jamal dan istrinya senang. Dia hidup berdua dengan istrinya yang bernama Lastri, tiga tahun lebih muda selisih umurnya dari Jamal. Lastri sangat patuh dan tidak pernah melawan Suaminya. Mereka awalnya dijodohkan oleh pamannya Jamal. Dikenalkan dan setelah kelihatannya cocok, mereka mau menikah, dan merekapun dinikahkan. Pernikahannya pun hanya dilakukan di rumahnya dengan acara akad nikah dan makan makanan seadanya untuk kalangan keluarga dan tetangga sekitar saja. Tidak jauh, mereka hanya tetangga desa yang bersebelahan. Tapi mereka akhirnya menjadi pasangan yang rukun.
Dimata para warga di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, Jamal adalah orang yang tekun dan ulet dalam bekerja. Segala yang dimungkinkan untuk dilakukan dan menghasilkan uang akan dilakukannya yang penting halal. Kalau tidak ada tetangga yang meminta tolong padanya untuk menggarap sawah dan ladang miliknya, dia bekerja sampingan sebagai pencari barang bekas kemudian nantinya dijual kembali kepada pengepul. Begitu seterusnya ia lakukan seakan tiada rasa lelah.
“Kring, kring. Barang bekas, barang bekas”. Teriaknya mengitari desa demi desa sambil mengayuh sepeda bututnya dengan keranjang besar dan mengusap sebentar-sebentar mengusap keringatnya yang bercucuran dengan lengan kaos oblong bergambar salah satu pasangan calon legeslatif. Hal itu dia lakukan tanpa putus asa, dia terus mengayuh sepedanya dan berteriak-teriak supaya orang mengetahinya apabila mereka berniat menjual barang-barang bekas miliknya.
“Pak, barang bekas”. Teriak seorang ibu dari salah satu rumah yang berjejer diantara jalan raya. Jamal segera mengerem sepeda bututnya dan berbalik arah menuju halaman ibu yang memanggilya tadi.
“Ini pak saya punya 8 botol kecap. Saya ingin menjual botol ini pak, kira-kira berapa ya Pak?”. Tanya ibu itu sambil menaruh botol di dekat sepeda Jamal.
“Tak tumbas Rp 1600,- Bu iki”. Jawabnya dengan memegang botol kecap itu.
“Loh pak kok murah sekali, per botolnya Rp 500,- saja ya Pak, jadi semuanya Rp 4.000,-“. Tawar ibu itu. Ibu yang berprofesi sebagai guru itu berada di desa yang bersebelahan dengan desa Jamal.
“Waahh, ndak bisa Bu, terlalu mahal, saya berani membeli dengan harga saya tadi”. Ungkapnya lagi.
“Kalau begitu ndak jadi saya jual Pak, terlalu murah, terima kasih”. Ibu itu langsung meemunguti botol kecapnya dan langsung menghilang masuk rumah. Jamal hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah karena waktu sudah senja. Uang yang akan diterimanya tak jadi dikantonginya.
Sesampainya di rumah dia disambut istrinya dengan bahagia. Istrinya langsung menyiapkan menyiapkan makanan untuk suaminya. Sambil makan berdua, istrinya menanyakan hasil kerjanya seharian.
“Pak, lancar? Dapat uang banyak ndak hari ni?”. Jamal tersenyum dan mulai memakan hidangan sederhana berupa nasi jagung berlauk tempe dan sambel. Sambil makan Jamal menyanjung masakan yang dimasakkan Lastri untuknya.
Selesai makan, mereka bercakap-cakap sejenak di beranda rumah.
“Sepi banget ya pak. Amung urip wong loro ngene iki. Padahal ya wes suwe ya awake dewe ki wisan rabi. Pirang tahun pak?” Tanya Lastri dengan menatap Suaminya yang sedang terbaring kecapekan setelah seharian bekerja keras. Rabi dalam bahasa jawa sama istilahnya dengan menikah.
“Kira-kira 20-an tahun Bune, ana apa kok takone ngana? Sampeyan iku ana-ana wae”. Melihat ke arah istrinya dengan menghela nafas yang berat dan bergeleng.
“Awakku rasane kesel kabeh Bune, kene mbok ya aku dipijeti.” Kata Jamal merebahkan badan dan tengkurap berusaha membujuk istrinya dengan maksud mengalihkan pembicaraan yang sudah pernah dibahas namun selalu berujung pada kesedihan. Kemudian Lastri mendekati Jamal dan seraya memijat punggung suami yang dicintainya tersebut.
“ Ualah Pakne, kapan ya awake dewe iki duwe momongan? Wes kepengen banget aku pak. Mesi rame yen ketambahan siji wae nang omah iki” Wajah Lastri menunduk dan disangga kedua telapak tangannya.
“Uwes Bune istighfar. Ora oleh ngomong kaya ngono kuwi. Gusti Allah durung maringi rezeki lan amanah marang awake dewe Bune. Wes wengi ayo ndang turu wae ketimbang mikir ora karuan nglantur ngalor ngidul”. Ajak Jamal sambil berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat karena sudah larut malam.
“Ya Pak”. Jam menunjukkan arah jam 10 malam. Tapi Lastri masih terlarut dalam angannya dan percakapan dengan Suaminya tadi. Dia tetap terbayang-bayang rumahnya ramai dengan tangis bayi. Tidak lama kemudian mengusap pipinya dan menuju kamar menyusul suaminya tidur.
Terkadang di sela-sela kesantaian mereka, terbersit pikiran yang melintas diantara kebahagiaan mereka. Ada yang mengganjal, dirumahnya terasa ada yang kurang, tiada tangisan bayi dan teriakan-teriakan ibu memanggil dan menyuruh anak-anaknya mandi, pulang main, dan sebaginya seperti di tetangga sebelah. Sepeninggal suaminya ke dalam kamar, Lastri terdiam dan pikirannya jauh menerawang dan air mata keluar tanpa sengaja mengalir begitu saja di pipinya yang sudah mulai menampakkan garis-garis lekuk ketuaannya. Hal yang dinantikannya selama bertahun-tahun belum terkabul jua. Dia yang dulunya begitu sabar sekarang menjadi sosok wanita yang selalu mengeluh. Rasa yang dulu biasa saja, kini menjadi keharuan yang tak dikiranya.
“Pak, Pak Jamal”. Pagi-pagi diiringi kokokan ayam jantan, suara Pak Imam salah satu tentanganya mengetuk pintu dan memanggil-manggil Jamal berkali-kali. Pagi itu masih terlalu pagi untuk bertamu. Jam setengah lima pagi.
“Ya bentar ”. Suara Jamal keras dan serak terdengar dari dalam rumah menandakan dia baru saja bangun tidur.
“Pak Imam? Wonten napa Pak kok isuk-isuk sampun mriki?”. Sambut Jamal sambil mempersilahkan duduk. Setelah berbincang-bincang, Jamal hanya mengangguk-angguk dan tak lama kemudian Pak Imam pamit pulang.
“Ana apa to Pak?” Tanya istrinya yang baru selesai dari dapur memasak nasi.
“Untung buk, rejekine awake dewe teko, Pak Iman njaluk tulung nggarapne sawahe”. Jamal terlihat bahagia seperti kejatuhan uang Rp 100.000,-. Seratus ribu rupiah uang yang banyak sekali menurut meraka berdua.
“Alhamdulillah Pak. Ayo sampeyan ndang sarapan trus budal nang sawahe Pak Imam”. Ajak istrinya dengan wajah agak samar-samar kehitaman terkena asap di dapur ketika memasak tadi pagi, bekerja keras meniup tungku perapiannya karena sangat sulit mengobarkan nyala api.
“Iya Bune dina iki sampeyan ya sing golek pakanane wedhuse awake dewe ya. Aku tak nggarap sawahe pak Imam. Ora apa-apa kan Bune?”. Lastri mengiyakan dan mereka melakukan rutinitas seperti biasanya. Dalam bahasa jawa, kambing disebut wedhus. Kesehariannya Jamal menghabiskan waktunya di ladang tetangganya untuk bekerja. Karena dia tak mampu membeli sepetak tanah, jadi dia tak mempunyai ladang sendiri. Hidupnya sebagian besar tergantung pada ladang tetangganya, terkadang tetangganya meminta tolong padanya untuk menggarap sawah atau ladangnya yang kemudian nantinya dia diberi upah yang pantas. Para pemilik sawah dan ladang mau meminta tolong kepada Jamal karena mereka mengetahui keuletan Jamal saat bekerja. Sehingga mereka mempercayakan pada Jamal akan hasil olahan sawah dan ladang oleh Jamal pasti baik. Karena keseharian dari Jamal memang sebagai buruh tani yang sudah terampil menggarap sawah dan ladang para tetangga.
Di sela kesulitannya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Jamal masih menyempatkan untuk menabung dan hasil tabungannya dibelikan seekor kambing berwarna hitam. Jadi dia mempunyai satu ekor kambing berwarna hitam dan mempunyai kesibukan yang bertambah. Pagi dia bekerja dan sore sekitar jam tiga dia baru pulang dari sawah dan ladang milik tetangganya. Lastri yang bertugas mencarikan rumput untuk kambingnya di hutan. Sepeninggal suaminya ke sawah, Lastri segera Membawa bambu besar dan panjang yang ujungya ditali sabit dengan kuat, dalam bahasa jawa bambu panjang ini disebut “genter”, fungsinya untuk mengambil daun-daunan pada pohon yang tinggi.
Kemudian Lastri dengan terseok-seok menggendong seikat rumput dan dedaunan yang cukup berat dengan membungkuk dan meringis karena beban yang dibawanya sangat berat. Belum lagi menenteng genter yang panjang. Keringatnya bercucuran tapi tak dia hiraukan. Yang ada di fikirannya adalah cepat sampai di rumah dan memberikan rumput dan dedaunan itu pada kambing yang baru dia miliki dengan suaminya tersebut.
“Las, ngramban?”. Tanya tetangganya yang bertemu dan berpapasan di jalan setapak di antara hutan jati dan mahoni. Dalam bahasa jawa, ngramban maksudnya adalah mencari daun-daunan dari tangkai-tangkai pohon yang nantinya dibuat sebagai makanan kambing.
“Iya Yu, Mas Jamal pas kerja di sawahnya Pak Imam, dadi aku dhewe sing golek ramban”. Jawabnya dengan tersengal-sengal karena kecapekan menggendong dedaunan yang semakin lama semakin tersa berat itu. Sesekali dia menghentikan langkah sejenak untuk menghimpun tenaganya dengan menyandarkan tubuhnya di pepohonan.
Hutan di sekitar dusun Muntilan ini masih tergolong muda. Karena baru berumur belasan tahun. Akibat dari beberapa tahun silam terjadi penebangan hutan secara liar. Penebangan hutan missal itu kia-kira sekitar tahun 90-an. Orang dari setiap penjuru desa menyerbu habis-habisan pohon jati dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kayu jati. Sampai dikerahkan sekompi angkatan Brimob untuk mengatasi kekacauan ini. Akibatnya, semua hutan gundul dan bukit-bukit terhampar luas terlihat seperti ditelanjangi. Warga memanfaatkan tanah bekas hutan tersebut untuk dijadikan lahan ladang disamping ditanami bibit jati kembali. Dan sekarang sudah pulih keadaannya seperti hutan yang dulu meskipun pohonnya masih keci-kecil. Setidaknya sudah terjadi reboisasi dan kesadaran warga akan bahaya yang mengancam seperti banjir dan tanah longsor mengintai mereka.
Sesampainya di sekitar rumah Lastri mempercepat langkah dan kakinya terpleset di jalan setapak di dekat rumahnya karena terlalu sempit jalan setapak yang menuju rumahnya. Ia terjungkal karena tak kuat menahan beban yang berat, ini pertama kalinya dia membawa beban seberat itu, tak dapat mengira-ngira beban yang dia bawa. Dia segera melepas jarit yang melingkar di tubunya dan bangun sendiri karena tak ada yang melihatnya. Kemudian dengan terengah-engah menyeret makanan kambingnya itu ke kandangnya. Betapa terkejutnya dia melihat kambingnya tergeletak lunglai dengan busa di mulutnya. Karena kaget, Lastri langsung berteriak dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Tanpa berfikir panjang dia lari menuju sawah tempat Suaminya bekerja. Tanpa alas kaki ia berlari di antara kerikil-kerikil kecil yang tersebar di setiap jalan setapak yang ia lewati. Sakit tak ia rasakan karena rasa takut akan apa yang akan terjadi pada kambingnya.
“Pak, Pak, Pakne. Ndang muleh Pak.” Lastri berlari menuju arah suaminya bekerja dengan wajah pucat dan keringat mengalir membasahi bajunya.
“ Ana apa Bune kok sampean mlayu-mlayu kaya diuber maling?” Jamal kaget melihat istrinya yang gusar dan menghentikan mencangkulnya seketika.
“Anu, anu Pak, wedhuse kae lo keracunan. Ayo ndang muleh pak deloken wedhuse”. Setelah mendengar penjelasan istrinya yang terbata-bata, mereka berdua meninggalkan persawahan dan lari menuju rumah mereka. Melihat ciri-ciri yang dialami kambingnya, ternyata memang benar kambing mereka sepertinya keracunan. Jamal spontan lari mencari pohon kelapa yang ada di depan rumahnya dan tanpa berfikir panjang memanjat pohon yang tingginya kira-kira 4 meteran itu dan memetik satu buah kelapa muda dan segera dibuka, diambil airnya dan diminumkan pada kambingnya.
“Alhamdulillah, mugo-mugo ora telat Bune”. Sambil Jamal memberikan minum pada kambing dan membelai tubuh kambingnya yang lemas. Dia duduk tersandar lemas dip agar kandang kambingnya, menemani di dekatnya dengan mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari tadi.
“ Kok isa keracunan ngene to Pak, mangan apa jane ki? Kok ya ana wae masalah sing metu”. Lastri keheranan dan merasa sedikit hilang kesabaran.
“ Wes gak usah dipikir bu, biasa paling ya kembung gara-gara telat mangan iki wedhuse”. Sambil menata rumput di tempat makanan kambingnya. Kemudian mereka beranjak ke dalam rumah. Beberapa jam kemudian kambingnya sehat kembali dan bisa berdiri kembali serta makan dengan baik. Mereka berdua lega dan segera masuk ke dalam rumah untuk meneguk segelas air yang menyegarkan.
Di sebuah rumah tak jauh dari rumah Jamal terjadi perselisihan sengit tapi tak terdengar oleh siapapun karena hanya setengah berbisik-bisik. Perselisihan itu rupanya dari arah rumah Joko. Rumahnya hanya berjarak 3 rumah dari rumah Jamal.
“Pak sampeyan wes ora waras to? Kenapa sampek tegane ngracuni wedhuse Jamal iku loh”. Sumi istri dari Joko marah-marah setelah tahu atas apa yang diperbuat oleh suaminya.
“Wes alah Buk, ora usah kaya ngono kui sampeyan, iki urusanku karo Jamal. Ora usah melu-melu”. Jawab Joko dengan acuh dan tegas.
“Salah apa ta pak Jamal marang sampeyan? Pokoke sesok sameyan kudu njaluk sepuro marang Jamal Pak.” Istrinya berteriak dengan wajah sungguh-sungguh.
“Lha apa sampean ora eling Bu, jare jamal ora nduwe duwit gawe nyahur utange marang awake dwe? Tapi kok malah iso tuku wedhus. Apa kuwi ora ngapusi aku jenenge?”. Jelas Joko pada istrinya. Perdebatan dalam rumah tersebut terdiam memutuskan pembicaraan karena anaknya yang kelas 6 SD pulang sekolah. Mereka pergi sendiri-sendiri dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Keesokan harinya, suami istri yang sedang bertengkar sejak kemarin siang hanya saling diam dan tak ada kata yang menghiasi percakapan mereka. Hanya ritual seperti biasanya menyiapkan makanan dan sarapan pagi tanpa ada percakapan satupun. Joko semakin bingung, dan tak tenang hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk membuka percakapan dengan istrinya dan meminta maaf. Setelah itu mereka berdua menuju ke rumah Jamal. Sore itu sekitar pukul enam sore.
“Oh Sumi, Joko mangga pinarak”. Seperti itulah ciri khas orang jawa untuk mempersilahkan masuk tamunya ke dalam rumah.
“Nggeh suwun mbak Las”. Jawab Sumi dan mereka semua duduk dan bercakap-cakap di ruang tamu sambil menikmati jajan yang sudah Lastri sediakan di meja tamu. Setelah lama mereka bercakap, kemudian tiba-tiba Jamal menyela dan membicarakan masalah hutangnya pada Joko dan Sumi.
“Joko, sepurane ya aku urung nduwe duwit gawe mbayar utangku menyang awakmu. Duwite mari tak tukokne wedhus. Rencanaku yen wes kasil tak dol wedhuse, langsung tak gawe mbayar utangku nang awakamu”. Kata Jamal dengan rendah hati dan sungkan pada Joko.
Mendengar penjelasan dari Jamal, Joko meminta maaf pada Jamal karena tempo hari telah berbuat salah dan melakukan tindakan yang tercela pada Jamal dan istrinya. Kemudian Sumi menjelaskan semua yang telah dilakukannya pada kambing Jamal. Jamal agak terkejut, dia tidak menduga bahwa tetangganya yang paling dekat dengan rumahnyalah yang telah membuat kekacauan itu. Tapi setelah mendengar alasan dari Sumi Jamal bisa mengerti dan mereka saling bermaaf-maafan. Semua masalah sudah selesai, malampun sudah larut, Joko dan sumi pamit dan pulang. Jamal dan Lastri bertukar pandang dan tersenyum kemudian menutup pintu dan menuju kamar untuk beristirahat karena badan mereka sudah tak kuat menahan lelah yang sudah menjalar tubuh mereka dari pagi hingga sore tadi yang sudah bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi.
Di saat Jamal dan Lastri memejamkan mata, terdengar kambingnya mengembik.
“Emmbbeeekkkk….”.

Komentar
Posting Komentar