JERITAN RACHMAT DJOKO PRADOPO
Judul Antologi : Mitos Kentut Semar
Nama pengarang : Rachmat Djoko Pradopo
Tebal buku : 156 hlm
Cetakan : ke-1
Tahun terbit : Juli 2006
Nama penerbit : Pustaka Pelajar
Kota terbit :Yogyakarta
Peresensi : Siti Nurhasanah
Biografi: Rachmat Djoko Pradopo lahir di Klaten 3 November 1939. Umur 69 tahun. Tamat SD, SMP, (1955) di Klaten, SMA A2 (1958) di Yogyakarta. Tamat Sarjana Sastra Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1965), Penataran Sastra yang diselenggarakan Pusat Bahasa Jakarta kerja sama dengan ILDEP (1978), studi sastra di Rijksuniversiteit di Leiden, Netherland (1980-1981), kuliah kerja di School of Oriental and African Studies (SOAS), London (1981), Lulus Program Doktor (S3) Ilmu Sastra UGM (1989).
Dia menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra dan Kebudayaan (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) (Januari 1967 - Desember 2004). Hingga kini, dia masih memberikan kuliah bidang studi sastra (Kritik Sastra dan Stilistika) sebagai profesor emiritus. Diangkat sebagai guru besar madya (1993), dan guru besar penuh (2003). Di samping itu, dia pernah menjadi dosen tidak tetap di IKIP Sanata Dharma (1968-1969), IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Sastra Unej Jember (1968-2003), dan memberikan kuliah Kajian Puisi dan Kritik Sastra di Fakultas Sastra Undip Semarang (1967 sampai sekarang). Selain memberi kuliah di S-1 Fakultas Ilmu Budaya, dia juga memberi kuliah di Program Studi Sastra Sekolah Pascasarjana UGM. Selama tiga tahun (1970-1972) dikirimkan UGM sebagai dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, Korea Selatan, memberikan kuliah dalam bidang Kesusastraan dan Bahasa Indonesia.
Dia menulis puisi dan esai dimuat di berbagai majalah dan koran dan dibukukan. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama Manifest (PKPI Yogya, 1968), Tugu (Dewan Kesenian Yogyarta, 1986), Tonggak (Gramedia, 1987). Karyanya yang lain sebagai berikut: Matahari Pagi di Tanah Air (kumpulan sajak(1967): Bahasa Puisi Penyair Utama Indonesia Modern 1985: Pengkajian Puisi (1987): Prinsip-Prinsip Kritik Sastra 1988: Hutan Bunga (kumpulan sajak, (1933): Beberapa Teori dan Metode Kritik Sastra (1955):
Aubade (kumpulan sajak, 1999): Kritik Sastra Indonesia Modern (2003): Mitos Kentut Semar (kumpulan sajak, 2006).
Kumpulan puisi karya Rachmat Djoko Pradopo dalam “Kentut Semar” ini kebanyakan puisi atau hampir seluruh isinya bertemakan kritik sosial yang menyinggung sikap para petinggi yang bersikap tidak sesuai dengan peran yang seharusnya dilakukan seperti belum dapat mensejahterakan masyarakat dan malah melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral. Seperti yang kita ketahui sekarang banyak para pejabat yang mempunyai simpanan atau yang sedang trend sekarang, mereka berkencan dengan para artis.
Belum lagi penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat, masalah-masalah yang dirasakan sebagai penderitaan dan permasalahan serta pengalaman sendiri. Penderitaan rakyat Indonesia dari dulu sampai sekarang belum terentaskan: kemiskinan, pengungsian, pengangguran, penindasan, dan hal-hal yang lain seperti dalam sajak “Mereka Bekerja Aku Tidak”. Begitu juga beratus ribu mencapai jutaan rakyat Indonesia meratap karena penderitaan yang tidak tertanggungkan terekspresi dengan metonimia dan sinekdoke pars pro toto.
Resensi ini disusun agar kita mengetahui isi dari tiap puisi Rachmat Djoko Pradopo secara umum. Melalui tiga puisinya (Mereka Bekerja Aku Tidak, Sajak Orang Tua, Hilang: Tamat) yang ditulis dan disajikan dengan pendekatan obyektif dan pendekatan historis. Kita akan mengetahui nilai dan amanat yang terkandung dalam puisi tersebut.
Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra. Dengan pendekatan obyektif ini penelaah melihat karya sastra sebagai produk manusia atau artifak. Karya sastra, dalam hal ini, merupakan suatu karya yang otonom, yang dipisahkan dari hal-hal di luar karya itu sendiri. Dengan demikian telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif beranjak dari aspek-aspek atau unsur-unsur yang langsung membangun karya sastra. Signifikansi dan nilai karya sastra dilihat dari unsur-unsur dan keterhubungan antara unsur-unsur karya sastra. Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.
Pendekatan sosiologis-historis menyaran kepada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban di sini dapat didefisikan sebagai sikap-sikap dan tindakan-tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa sastra mewadahi sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka sebagai persolan pokoknya
Puisi 1
MEREKA BEKERJA AKU TIDAK
Matahari membuka hari riang berseri
Orang-orang di depan cermin menalikan dasi
dengan pakaian rapi sarapan pagi
tapi, aku cuma mencuci muka
memandang sawang dipinggir jalan
dengan bimbang kan kumulai perjalanan
karena mereka bekerja dan aku tidak
Orang-orang naik sepda, motor, mobil menyandang tas kerja
Dengan nafas lonngar, seri memancar di mata
Sedang aku lusuh jalan kaki menatap bumi
Dari jalan ke jalan tak henti-henti
Karena mereka menuju kerja aku tidak
Orang-orang tertawa gemerenceng di hari liburan
bergandengan tangan dengan pacar atau istri
dengan pakaian rapi gaya bergengsi
sedang aku berlusuh dedu dengan pandang jemu
karena mereka bekerja, aku tidak
Orang-orang mendirikan rumah, istana
vila-vila, taman-taman, dan peristirahatan
tapi, aku Cuma bisa memandang
dengan mata kepingin dan berangan
karena mereka bekerja, aku tidak
Orang-orang pergi ke sawah, toko, kantor, pabrik,
dan pelabuhan; ya dimana saja, dimana orang
bisa bersemangat dan gairah kerja
tapi, aku cuma bergelandangan dari jalan
ke jalan karena dari berjuta penganggur,
akulahseorang di atas tanah air subur makmur termasyur
akulah seorang yang tak kebagian kerja dari berjuta
akulah seorang di palang pintu
sebelum tangan menyentuh, punggung membungkuk
kepala menunduk melamar kerja
(16 Maret 1966)
Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang lugas dan mudah dipahami karena kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang konkrit. Sehingga para pembaca tidak sulit untuk memehami isi dari puisi tersebut. Misalnya saja pada bait pertama baris kedua, /orang-orang di depan cermin menalikan dasi/, dan baris ketiga /dengan pakaian rapi sarapan pagi/, kata-kata tersebut jelas menggambarkan bahwa dalam puisi tersebut memang benar-benar menalikan dasi dengan berpakaian rapi setelah itu sarapan pagi.
Imaji yang digunakan dalam puisi ini adalah imaji taktil, yang terdapat pada bait keempat baris keempat /dengan mata kepingin dan berangan/, dengan imaji ini pembaca diajak untuk ikut merasakan keingin pengarang bahwa pengarang ingin sekali bisa mendirikan rumah, istana, vila, dan sebagainya. Kemudian imaji visual yang terdapat pada bait kesatu baris kelima /memandang sawang di pinggir jalan/, pengarang ingin mengajak pembaca melihat aku liris yang memandang kosong di pinggir jalan karena dia tidak tahu harus kemanakah dia berjalan, karena dia tidak memiliki arah tujuan yang pasti.
Dalam puisi ini sarana retorika yang muncul yaitu personifikasi, yang terdapat pada bait ketiga baris pertama /orang-orang tertawa gemerenceng di hari liburan/, seolah-olah tawa yang riang disamakan dengan suara gemerenceng yang seharusnya gemerenceng tersebut dihasilkan dari suara benda-benda yang saling bertubrukan. Kemudian Litotes pada bait kedua baris ketiga /sedang aku lusuh jalan kaki menatap bumi/, pengarang merendahkan dirinya terhadap orang-orang yang menaiki sepeda motor, mobil dan menyandang tas kerja yang hendak menuju tempat kerjanya masng-masing. Perumpamaan pada bait keenam baris ketiga /akulah seorang di palang pintu/, yang mengumpamakan seorang gelandangan ibarat orang yang menghambat kelancaran orang yang sedang berjalan melewati pintu.
Puisi ini dibedakan menjadi dua, yakni bunyi dan verfikasi. Bunyi dibedakan lagi menjadi dua, yang mencangkup rima dan aliterasi. Rima dalam puisi ini adalah sebagai berikut: pada bait pertama, a,a,a,b,b,b,b; bait kedua, b,b,a,a,b; bait ketiga, b,a,a,b,b; bait keempat, b,b,b,b,b; kelima, a,b,b,b,b, dan bait keenam, b,b,b,b,b. Kemudian aliterasi adalah perulangan bunyi vokal dan konsonan. Muncul pada bait ketiga baris kedua, alitersi [an] pada kata dengan dan aliterasi [an] pada kata bergandengan. Kemudian asonansi pada bait kedua baris ketiga, asonansi [i] pada kata kaki dan asonansi [i] pada kata bumi. Rima yang terdapat pada puisi ini tidak terikat, Karena rima yang terdapat pada puisi ini tidak teratur. Pengulangan kata atau repetisi yang terdapat pada puisi di atas antara lain: /taman-taman/, /vila-vila/, /henti-henti/, dan /orang-orang/.
Nilai yang terkandung pada puisi ini adalah rasa kepedulian pengarang terhadap gelandanga yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang hanya bisa melihat orang lain yang bekerja dan mempunyai rumah dan sebagainya. Suasana yang terdapat dalam puisi ini sangat menyedihkan, menceritakan si aku liris dan juga mereka kebingungan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Amanat yang dapat disampaikan oleh pengarang adalah, penyair menghendaki agar pembaca mengetahui isi dari puisi dan juga mengajak pembaca untuk memperhatikan nasib para orang kecil yang tertindas dan janganlah hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri saja.
Latar belakang pengarang menulis puisi ini adalah, akibat terjadinnya
kesenjangan sosial yang terjadi pada saat itu dan mengakibatkan rakyat kecil menjadi tertindas dan menderita. Untuk memperoleh pekerjaan saja misalnya, mereka boleh dibilang hanyalah mimpi. Yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak serta penghidupan yang layak dan dengan mudah pula adalah para petinggi dan juga anak-anaknya. Karena pada saat itu sedang marak-maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme.
Puisi 2
SAJAK ORANG TUA
Akulah orang tua
segala macam penyakit
kencan bersama-sama
menggerogot daging dan tulangku
yang kian aus dan keropos saja
Mungkin sudah dua kuintal atau lebih
kuminum atau kutelan
sejak aku lahir hingga kini
tapi waktu kinilah kuminum dan kutelan
obat bermacam-macam
untuk menghancurkan penyakit
tapi karena onderdil-onderdil tubuh
sedah keropos dan aus
uzur, segala obat sudah tak mangkus
mengusir penakut yang kian menggigil
paling Cuma menahan sebentar
sebelum badan sungguh tak bisa
bertahan sampai akhirnya
ke batas usia
tapi, kapan aku tak peduli
Cuma tangan yang kukepalkan
Meski dalam kesakitan
(12 Maret 2005)
Puisi kedua adalah ”Sajak Orang Tua”. Dalam puisi ini Rachmat Djoko Pradopo lebih singkat dan padat dalam mengemas puisinya. Pilihan kata yang digunakan merupakan bentuk konkret semua. Karena kata-kata yang dipakai dalam penulisan puisinya ini pernah kita dengar semua dalam komunikasi sehari-hari. Seperti /akulah orang tua/ menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar sudah tua. Kemudian pada baris kelima baris pertama /yang kian aus dan keropos/ kalimat tersebut menunjukkan bahwa badannya benar-benar sudah tua dan sudah berkurang pula fungsinya. Karena sudah mulai keropos tulang-tulang di badannya.
Imaji yang digunakan pada puisi ini adalah imaji taktil yang terdapat pada bait keempat baris kelima /tapi, kapan aku tak peduli/ seakan pembaca diajak untuk merasakan kepedulian aku liris bahwa dia selalu peduli terhadap keadaa dirinya yang sudah di batas usia yang semakin dekat saja. Kemudian pada bait ketiga baris kelima /mengusir rasa sakit karena penyakit yang kian menggigil/, pembaca diajak untuk merasakan penyakit-penyakit yang sudah melekat dan menggerogoti tubuhnya yang keropos dan aus.
Bahasa kias dan sarana retorika yang terdapat pada puisi ini adalah retoris, yang terdapat pada bait keempat baris kelima /tapi kapan aku tak peduli/, penggunaan kalimat tanya dengan maksud untuk menyatakan rasa kecewanya tentang penderitaannya yang tidak pernah berakhir, padahal ia selalu berusaha untuk sembuh dari penyakitnya tersebut. Kemudian gaya bahasa metafora terdapat pada bait ketiga baris kedua /tapi karena onderdil-onderdil tubuh/, karena tubuh dibandingkan dengan onderdil.
Aliterasi yang terdapat pada bait kedua baris keempat, aliterasi [ku] pada kuminum dan aliterasi [ku] pada kutelan. Aliterasi pada bait keempat baris keenam, aliterasi [an] pada kata tangan dan aliterasi [an] pada kata kukepalkan, sedangkan asonansi yang muncul adalah asonansi [i] pada kata tapi dan asonansi [i] pada kata peduli.
Rima yang terdapat pada puisi ini adalah rima bebas karena puisi ini termasuk ke dalam puisi kontemporer. Rima pada puisi ini yaitu: pada bait pertama, a, b, a, b, a. Bait kedua b, a, b, a,a. Ketiga b, b, b, b, b. Dan keempat a, a, a, a, b, a, a. Pengulangan kata atau repetisi yang terdapat pada puisi ini adalah /bersama-sama/ dan /onderdil-onderdil/.
Nilai yang terkandung dalam puisi ini adalah rasa tersiksanya penyair dengan keadaan tubuhnya yang semakin rapuh dan tua. Tema puisi di atas adalah penyesalan dan rintihan penyair terhadap keadaan yang dialaminya. Suasana dalam puisi ini sangat menyedihkan, karena di dalamnya terdapat keluhan-keluhan penyair terhadap keadaan dirinya yang sudah tua. Amanat yang terdapat dalam puisi ini adalah bagi yang masih kecil dan sehat agar menghargai dan menjaga kesehatannya. Agar kelak di masa tuanya ia tidak terlalu tersiksa.
Latar belakang penciptaan puisi ini yakni banyaknya orang-orang tua yang terbaring di rumah sakit dengan berbagai macam penyakit yang diderita. Mulai dari penyakit yang ringan hingga yang parah. Oleh karena itu, penyair mengangkat tema tersebut dalam puisinya yang akhirnya menjadi inspirasi dalam penciptaan puisi ini.
Puisi 3
HILANG: TAMAT
Orang tau diciptakan Tuhan
tapi tak tahu di mana Tuhan
orang tak pernah melihat Tuhan
orang tak akan pernah bersatu dengan Tuhan
hanya orang berkhayal menganggap dirinya Tuhan
hanya orang berkhayal menganggap bersatu dengan Tuhan
yang bukan berkhayal dan sungguh ada
manusia tak tahu apa sesungguhnya Tuhan
tapi memang hanya Tuhan yang ada
manusia akan tamat setamatnya
ketika Tuhannya tergeletak
nyawanya pun tak bergarak
hilang musnah menjadi tanah
(13 Februari 2003)
Puisi ketiga adalah “Hilang : Tamat”. Puisi ini menceritakan tentang keberdaan dan ketidakberadaan Tuhan. Puisi ketiga ini membahas tentang ketuhanan. Bahasa yang digunakan pada puisi yang telah dibahas sebelumnya, kata-kata yang digunakan adalah kata konkret, seperti pada bait pertama baris pertama /orang tau diciptakan Tuhan/ baris tersebut menjelaskan arti yang sebenarnya bahwa orang-orang tahu bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan YME.
Imaji yang digunakan dalam puisi ini adalah imaji visual. Yang terdapat pada bait pertama baris ketiga /orang tak pernah melihat Tuhan/ dengan ini pembaca secara tidak langsung diberi pengertian bahwa Tuhan itu tidak bisa dilihat tetapi hanya dapat diyakini keberadaannya.
Dalam puisi ini sarana retorika yang digunakan adalah hiperbola, pada bait ketiga baris kedua /manusia akan tamat-setamatnya/. Bahasa yang digunakan terlalu melebih-lebihkan. Kemudian ironi pada bait kedya baris keempat /manusia tak tahu apa sesungguhnya Tuhan/, penyair ingin menyindir tentang apa yang diyakini dan disembah oleh manusia selama ini.
Rima dalam puisi ini adalah pada bait pertama, a, a, a, a, bait kedua a, a, a, a, bait ketiga a, a, a, a, a. Aliterasi pada bait ketiga baris kedua, aliterasi pada [t] pada kata tamat dan aliterasi [t] pada kata tamat. Kemudian asonansi yang terdapat pada bait ketiga baris 3 dan 4, asonansi [k] pada kata tergeletak dan asonansi [k] pada kata bergerak. Repetisis yang teradpat pada puisi ini yakni /orang tak/; /hanya orang/; /tamat/.
Tema puisi diatas adalah ketuhanan yang berisi tentang pencarian di mana, apa, dan bagaimana kah Tuhan itu sebenarnya. Suasana yang terdapat pada puisi di atas yakni tegang dan bersifat menyindir terhadap manusia yang menyembah Tuhan tidak sepenuh hati. Bahkan mereka ada yang tidak memepercayai adanya Tuhan sama sekali. Hal ini dapat terlihat dari diksi yang digunakan penyair. Amanat yang terdapat pada puisi ini adalah penyair mengajak pembaca untuk merenungkan tentang keberadaan Tuhan serta mengajak kita untuk mengimani Tuhan dengan sepenuh hati dan bukan hanya secara indrawi saja.
Latar belakang penciptaan puisi ini yakni adanya beberapa masyarakat yang tidak memepercayai adanya Tuhan, selin itu juga banyaknya manusia di dunia ini yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak meyakini dan mengimani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Hanya menganggap Tuhan itu ada, tetapi tidak melakukan perintahNya.
Dalam kumpulan puisi Rachmat Djoko Pradopo ini, hampir seluruh puisi yang dimuat di dalamnya berisi tentang kritik sosial. Akan tetapi puisi yang ditulis rata-rata sangat panjang sehingga membuat pembaca merasa malas untuk membacanya setelah melihatnya. Bahasa yang digunakan hampir semua juga mudah dipahami karea kata-kata yang dipakainya adalah kata-kata yang konkret.Sehingga pembaca mudah untuk memahami maksud dari tiap puisi yang ditulisnya. Sehingga puisi ini layak untuk dibeli dan dijadikan sebagai koleksi
DAFTAR RUJUKAN
http://id.wikipedia.org/wiki/Rachmat_Djoko_Pradopo
Rachmat Djoko Pradopo. 2006. Mitos Kentut Semar. Yogyakarta: Poetindo dan Pustaka Pelajar.
Judul Antologi : Mitos Kentut Semar
Nama pengarang : Rachmat Djoko Pradopo
Tebal buku : 156 hlm
Cetakan : ke-1
Tahun terbit : Juli 2006
Nama penerbit : Pustaka Pelajar
Kota terbit :Yogyakarta
Peresensi : Siti Nurhasanah
Biografi: Rachmat Djoko Pradopo lahir di Klaten 3 November 1939. Umur 69 tahun. Tamat SD, SMP, (1955) di Klaten, SMA A2 (1958) di Yogyakarta. Tamat Sarjana Sastra Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1965), Penataran Sastra yang diselenggarakan Pusat Bahasa Jakarta kerja sama dengan ILDEP (1978), studi sastra di Rijksuniversiteit di Leiden, Netherland (1980-1981), kuliah kerja di School of Oriental and African Studies (SOAS), London (1981), Lulus Program Doktor (S3) Ilmu Sastra UGM (1989).
Dia menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra dan Kebudayaan (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) (Januari 1967 - Desember 2004). Hingga kini, dia masih memberikan kuliah bidang studi sastra (Kritik Sastra dan Stilistika) sebagai profesor emiritus. Diangkat sebagai guru besar madya (1993), dan guru besar penuh (2003). Di samping itu, dia pernah menjadi dosen tidak tetap di IKIP Sanata Dharma (1968-1969), IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Sastra Unej Jember (1968-2003), dan memberikan kuliah Kajian Puisi dan Kritik Sastra di Fakultas Sastra Undip Semarang (1967 sampai sekarang). Selain memberi kuliah di S-1 Fakultas Ilmu Budaya, dia juga memberi kuliah di Program Studi Sastra Sekolah Pascasarjana UGM. Selama tiga tahun (1970-1972) dikirimkan UGM sebagai dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, Korea Selatan, memberikan kuliah dalam bidang Kesusastraan dan Bahasa Indonesia.
Dia menulis puisi dan esai dimuat di berbagai majalah dan koran dan dibukukan. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama Manifest (PKPI Yogya, 1968), Tugu (Dewan Kesenian Yogyarta, 1986), Tonggak (Gramedia, 1987). Karyanya yang lain sebagai berikut: Matahari Pagi di Tanah Air (kumpulan sajak(1967): Bahasa Puisi Penyair Utama Indonesia Modern 1985: Pengkajian Puisi (1987): Prinsip-Prinsip Kritik Sastra 1988: Hutan Bunga (kumpulan sajak, (1933): Beberapa Teori dan Metode Kritik Sastra (1955):
Aubade (kumpulan sajak, 1999): Kritik Sastra Indonesia Modern (2003): Mitos Kentut Semar (kumpulan sajak, 2006).
Kumpulan puisi karya Rachmat Djoko Pradopo dalam “Kentut Semar” ini kebanyakan puisi atau hampir seluruh isinya bertemakan kritik sosial yang menyinggung sikap para petinggi yang bersikap tidak sesuai dengan peran yang seharusnya dilakukan seperti belum dapat mensejahterakan masyarakat dan malah melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral. Seperti yang kita ketahui sekarang banyak para pejabat yang mempunyai simpanan atau yang sedang trend sekarang, mereka berkencan dengan para artis.
Belum lagi penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat, masalah-masalah yang dirasakan sebagai penderitaan dan permasalahan serta pengalaman sendiri. Penderitaan rakyat Indonesia dari dulu sampai sekarang belum terentaskan: kemiskinan, pengungsian, pengangguran, penindasan, dan hal-hal yang lain seperti dalam sajak “Mereka Bekerja Aku Tidak”. Begitu juga beratus ribu mencapai jutaan rakyat Indonesia meratap karena penderitaan yang tidak tertanggungkan terekspresi dengan metonimia dan sinekdoke pars pro toto.
Resensi ini disusun agar kita mengetahui isi dari tiap puisi Rachmat Djoko Pradopo secara umum. Melalui tiga puisinya (Mereka Bekerja Aku Tidak, Sajak Orang Tua, Hilang: Tamat) yang ditulis dan disajikan dengan pendekatan obyektif dan pendekatan historis. Kita akan mengetahui nilai dan amanat yang terkandung dalam puisi tersebut.
Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra. Dengan pendekatan obyektif ini penelaah melihat karya sastra sebagai produk manusia atau artifak. Karya sastra, dalam hal ini, merupakan suatu karya yang otonom, yang dipisahkan dari hal-hal di luar karya itu sendiri. Dengan demikian telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif beranjak dari aspek-aspek atau unsur-unsur yang langsung membangun karya sastra. Signifikansi dan nilai karya sastra dilihat dari unsur-unsur dan keterhubungan antara unsur-unsur karya sastra. Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.
Pendekatan sosiologis-historis menyaran kepada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban di sini dapat didefisikan sebagai sikap-sikap dan tindakan-tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa sastra mewadahi sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka sebagai persolan pokoknya
Puisi 1
MEREKA BEKERJA AKU TIDAK
Matahari membuka hari riang berseri
Orang-orang di depan cermin menalikan dasi
dengan pakaian rapi sarapan pagi
tapi, aku cuma mencuci muka
memandang sawang dipinggir jalan
dengan bimbang kan kumulai perjalanan
karena mereka bekerja dan aku tidak
Orang-orang naik sepda, motor, mobil menyandang tas kerja
Dengan nafas lonngar, seri memancar di mata
Sedang aku lusuh jalan kaki menatap bumi
Dari jalan ke jalan tak henti-henti
Karena mereka menuju kerja aku tidak
Orang-orang tertawa gemerenceng di hari liburan
bergandengan tangan dengan pacar atau istri
dengan pakaian rapi gaya bergengsi
sedang aku berlusuh dedu dengan pandang jemu
karena mereka bekerja, aku tidak
Orang-orang mendirikan rumah, istana
vila-vila, taman-taman, dan peristirahatan
tapi, aku Cuma bisa memandang
dengan mata kepingin dan berangan
karena mereka bekerja, aku tidak
Orang-orang pergi ke sawah, toko, kantor, pabrik,
dan pelabuhan; ya dimana saja, dimana orang
bisa bersemangat dan gairah kerja
tapi, aku cuma bergelandangan dari jalan
ke jalan karena dari berjuta penganggur,
akulahseorang di atas tanah air subur makmur termasyur
akulah seorang yang tak kebagian kerja dari berjuta
akulah seorang di palang pintu
sebelum tangan menyentuh, punggung membungkuk
kepala menunduk melamar kerja
(16 Maret 1966)
Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang lugas dan mudah dipahami karena kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang konkrit. Sehingga para pembaca tidak sulit untuk memehami isi dari puisi tersebut. Misalnya saja pada bait pertama baris kedua, /orang-orang di depan cermin menalikan dasi/, dan baris ketiga /dengan pakaian rapi sarapan pagi/, kata-kata tersebut jelas menggambarkan bahwa dalam puisi tersebut memang benar-benar menalikan dasi dengan berpakaian rapi setelah itu sarapan pagi.
Imaji yang digunakan dalam puisi ini adalah imaji taktil, yang terdapat pada bait keempat baris keempat /dengan mata kepingin dan berangan/, dengan imaji ini pembaca diajak untuk ikut merasakan keingin pengarang bahwa pengarang ingin sekali bisa mendirikan rumah, istana, vila, dan sebagainya. Kemudian imaji visual yang terdapat pada bait kesatu baris kelima /memandang sawang di pinggir jalan/, pengarang ingin mengajak pembaca melihat aku liris yang memandang kosong di pinggir jalan karena dia tidak tahu harus kemanakah dia berjalan, karena dia tidak memiliki arah tujuan yang pasti.
Dalam puisi ini sarana retorika yang muncul yaitu personifikasi, yang terdapat pada bait ketiga baris pertama /orang-orang tertawa gemerenceng di hari liburan/, seolah-olah tawa yang riang disamakan dengan suara gemerenceng yang seharusnya gemerenceng tersebut dihasilkan dari suara benda-benda yang saling bertubrukan. Kemudian Litotes pada bait kedua baris ketiga /sedang aku lusuh jalan kaki menatap bumi/, pengarang merendahkan dirinya terhadap orang-orang yang menaiki sepeda motor, mobil dan menyandang tas kerja yang hendak menuju tempat kerjanya masng-masing. Perumpamaan pada bait keenam baris ketiga /akulah seorang di palang pintu/, yang mengumpamakan seorang gelandangan ibarat orang yang menghambat kelancaran orang yang sedang berjalan melewati pintu.
Puisi ini dibedakan menjadi dua, yakni bunyi dan verfikasi. Bunyi dibedakan lagi menjadi dua, yang mencangkup rima dan aliterasi. Rima dalam puisi ini adalah sebagai berikut: pada bait pertama, a,a,a,b,b,b,b; bait kedua, b,b,a,a,b; bait ketiga, b,a,a,b,b; bait keempat, b,b,b,b,b; kelima, a,b,b,b,b, dan bait keenam, b,b,b,b,b. Kemudian aliterasi adalah perulangan bunyi vokal dan konsonan. Muncul pada bait ketiga baris kedua, alitersi [an] pada kata dengan dan aliterasi [an] pada kata bergandengan. Kemudian asonansi pada bait kedua baris ketiga, asonansi [i] pada kata kaki dan asonansi [i] pada kata bumi. Rima yang terdapat pada puisi ini tidak terikat, Karena rima yang terdapat pada puisi ini tidak teratur. Pengulangan kata atau repetisi yang terdapat pada puisi di atas antara lain: /taman-taman/, /vila-vila/, /henti-henti/, dan /orang-orang/.
Nilai yang terkandung pada puisi ini adalah rasa kepedulian pengarang terhadap gelandanga yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang hanya bisa melihat orang lain yang bekerja dan mempunyai rumah dan sebagainya. Suasana yang terdapat dalam puisi ini sangat menyedihkan, menceritakan si aku liris dan juga mereka kebingungan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Amanat yang dapat disampaikan oleh pengarang adalah, penyair menghendaki agar pembaca mengetahui isi dari puisi dan juga mengajak pembaca untuk memperhatikan nasib para orang kecil yang tertindas dan janganlah hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri saja.
Latar belakang pengarang menulis puisi ini adalah, akibat terjadinnya
kesenjangan sosial yang terjadi pada saat itu dan mengakibatkan rakyat kecil menjadi tertindas dan menderita. Untuk memperoleh pekerjaan saja misalnya, mereka boleh dibilang hanyalah mimpi. Yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak serta penghidupan yang layak dan dengan mudah pula adalah para petinggi dan juga anak-anaknya. Karena pada saat itu sedang marak-maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme.
Puisi 2
SAJAK ORANG TUA
Akulah orang tua
segala macam penyakit
kencan bersama-sama
menggerogot daging dan tulangku
yang kian aus dan keropos saja
Mungkin sudah dua kuintal atau lebih
kuminum atau kutelan
sejak aku lahir hingga kini
tapi waktu kinilah kuminum dan kutelan
obat bermacam-macam
untuk menghancurkan penyakit
tapi karena onderdil-onderdil tubuh
sedah keropos dan aus
uzur, segala obat sudah tak mangkus
mengusir penakut yang kian menggigil
paling Cuma menahan sebentar
sebelum badan sungguh tak bisa
bertahan sampai akhirnya
ke batas usia
tapi, kapan aku tak peduli
Cuma tangan yang kukepalkan
Meski dalam kesakitan
(12 Maret 2005)
Puisi kedua adalah ”Sajak Orang Tua”. Dalam puisi ini Rachmat Djoko Pradopo lebih singkat dan padat dalam mengemas puisinya. Pilihan kata yang digunakan merupakan bentuk konkret semua. Karena kata-kata yang dipakai dalam penulisan puisinya ini pernah kita dengar semua dalam komunikasi sehari-hari. Seperti /akulah orang tua/ menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar sudah tua. Kemudian pada baris kelima baris pertama /yang kian aus dan keropos/ kalimat tersebut menunjukkan bahwa badannya benar-benar sudah tua dan sudah berkurang pula fungsinya. Karena sudah mulai keropos tulang-tulang di badannya.
Imaji yang digunakan pada puisi ini adalah imaji taktil yang terdapat pada bait keempat baris kelima /tapi, kapan aku tak peduli/ seakan pembaca diajak untuk merasakan kepedulian aku liris bahwa dia selalu peduli terhadap keadaa dirinya yang sudah di batas usia yang semakin dekat saja. Kemudian pada bait ketiga baris kelima /mengusir rasa sakit karena penyakit yang kian menggigil/, pembaca diajak untuk merasakan penyakit-penyakit yang sudah melekat dan menggerogoti tubuhnya yang keropos dan aus.
Bahasa kias dan sarana retorika yang terdapat pada puisi ini adalah retoris, yang terdapat pada bait keempat baris kelima /tapi kapan aku tak peduli/, penggunaan kalimat tanya dengan maksud untuk menyatakan rasa kecewanya tentang penderitaannya yang tidak pernah berakhir, padahal ia selalu berusaha untuk sembuh dari penyakitnya tersebut. Kemudian gaya bahasa metafora terdapat pada bait ketiga baris kedua /tapi karena onderdil-onderdil tubuh/, karena tubuh dibandingkan dengan onderdil.
Aliterasi yang terdapat pada bait kedua baris keempat, aliterasi [ku] pada kuminum dan aliterasi [ku] pada kutelan. Aliterasi pada bait keempat baris keenam, aliterasi [an] pada kata tangan dan aliterasi [an] pada kata kukepalkan, sedangkan asonansi yang muncul adalah asonansi [i] pada kata tapi dan asonansi [i] pada kata peduli.
Rima yang terdapat pada puisi ini adalah rima bebas karena puisi ini termasuk ke dalam puisi kontemporer. Rima pada puisi ini yaitu: pada bait pertama, a, b, a, b, a. Bait kedua b, a, b, a,a. Ketiga b, b, b, b, b. Dan keempat a, a, a, a, b, a, a. Pengulangan kata atau repetisi yang terdapat pada puisi ini adalah /bersama-sama/ dan /onderdil-onderdil/.
Nilai yang terkandung dalam puisi ini adalah rasa tersiksanya penyair dengan keadaan tubuhnya yang semakin rapuh dan tua. Tema puisi di atas adalah penyesalan dan rintihan penyair terhadap keadaan yang dialaminya. Suasana dalam puisi ini sangat menyedihkan, karena di dalamnya terdapat keluhan-keluhan penyair terhadap keadaan dirinya yang sudah tua. Amanat yang terdapat dalam puisi ini adalah bagi yang masih kecil dan sehat agar menghargai dan menjaga kesehatannya. Agar kelak di masa tuanya ia tidak terlalu tersiksa.
Latar belakang penciptaan puisi ini yakni banyaknya orang-orang tua yang terbaring di rumah sakit dengan berbagai macam penyakit yang diderita. Mulai dari penyakit yang ringan hingga yang parah. Oleh karena itu, penyair mengangkat tema tersebut dalam puisinya yang akhirnya menjadi inspirasi dalam penciptaan puisi ini.
Puisi 3
HILANG: TAMAT
Orang tau diciptakan Tuhan
tapi tak tahu di mana Tuhan
orang tak pernah melihat Tuhan
orang tak akan pernah bersatu dengan Tuhan
hanya orang berkhayal menganggap dirinya Tuhan
hanya orang berkhayal menganggap bersatu dengan Tuhan
yang bukan berkhayal dan sungguh ada
manusia tak tahu apa sesungguhnya Tuhan
tapi memang hanya Tuhan yang ada
manusia akan tamat setamatnya
ketika Tuhannya tergeletak
nyawanya pun tak bergarak
hilang musnah menjadi tanah
(13 Februari 2003)
Puisi ketiga adalah “Hilang : Tamat”. Puisi ini menceritakan tentang keberdaan dan ketidakberadaan Tuhan. Puisi ketiga ini membahas tentang ketuhanan. Bahasa yang digunakan pada puisi yang telah dibahas sebelumnya, kata-kata yang digunakan adalah kata konkret, seperti pada bait pertama baris pertama /orang tau diciptakan Tuhan/ baris tersebut menjelaskan arti yang sebenarnya bahwa orang-orang tahu bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan YME.
Imaji yang digunakan dalam puisi ini adalah imaji visual. Yang terdapat pada bait pertama baris ketiga /orang tak pernah melihat Tuhan/ dengan ini pembaca secara tidak langsung diberi pengertian bahwa Tuhan itu tidak bisa dilihat tetapi hanya dapat diyakini keberadaannya.
Dalam puisi ini sarana retorika yang digunakan adalah hiperbola, pada bait ketiga baris kedua /manusia akan tamat-setamatnya/. Bahasa yang digunakan terlalu melebih-lebihkan. Kemudian ironi pada bait kedya baris keempat /manusia tak tahu apa sesungguhnya Tuhan/, penyair ingin menyindir tentang apa yang diyakini dan disembah oleh manusia selama ini.
Rima dalam puisi ini adalah pada bait pertama, a, a, a, a, bait kedua a, a, a, a, bait ketiga a, a, a, a, a. Aliterasi pada bait ketiga baris kedua, aliterasi pada [t] pada kata tamat dan aliterasi [t] pada kata tamat. Kemudian asonansi yang terdapat pada bait ketiga baris 3 dan 4, asonansi [k] pada kata tergeletak dan asonansi [k] pada kata bergerak. Repetisis yang teradpat pada puisi ini yakni /orang tak/; /hanya orang/; /tamat/.
Tema puisi diatas adalah ketuhanan yang berisi tentang pencarian di mana, apa, dan bagaimana kah Tuhan itu sebenarnya. Suasana yang terdapat pada puisi di atas yakni tegang dan bersifat menyindir terhadap manusia yang menyembah Tuhan tidak sepenuh hati. Bahkan mereka ada yang tidak memepercayai adanya Tuhan sama sekali. Hal ini dapat terlihat dari diksi yang digunakan penyair. Amanat yang terdapat pada puisi ini adalah penyair mengajak pembaca untuk merenungkan tentang keberadaan Tuhan serta mengajak kita untuk mengimani Tuhan dengan sepenuh hati dan bukan hanya secara indrawi saja.
Latar belakang penciptaan puisi ini yakni adanya beberapa masyarakat yang tidak memepercayai adanya Tuhan, selin itu juga banyaknya manusia di dunia ini yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak meyakini dan mengimani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Hanya menganggap Tuhan itu ada, tetapi tidak melakukan perintahNya.
Dalam kumpulan puisi Rachmat Djoko Pradopo ini, hampir seluruh puisi yang dimuat di dalamnya berisi tentang kritik sosial. Akan tetapi puisi yang ditulis rata-rata sangat panjang sehingga membuat pembaca merasa malas untuk membacanya setelah melihatnya. Bahasa yang digunakan hampir semua juga mudah dipahami karea kata-kata yang dipakainya adalah kata-kata yang konkret.Sehingga pembaca mudah untuk memahami maksud dari tiap puisi yang ditulisnya. Sehingga puisi ini layak untuk dibeli dan dijadikan sebagai koleksi
DAFTAR RUJUKAN
http://id.wikipedia.org/wiki/Rachmat_Djoko_Pradopo
Rachmat Djoko Pradopo. 2006. Mitos Kentut Semar. Yogyakarta: Poetindo dan Pustaka Pelajar.
Komentar
Posting Komentar