Dari beberapa teks di bawah dapat kita analisis penggunaan piranti kohesi gramatikalnya sebagai berikut:
1. (1) Bayouni memiliki dua buah kamar dalam flat disebuah gang yang sempit. (2) Memiliki pemandangan ke arah pasar ikan. (3) Saya harus menyapu dan membersihkan kamar-kamar itu, membeli ikan dari pasar di bawah rumah kami, atau seekor kelinci, atau daging dan memasak untuknya. (4) Dia bekerja sepanjang hari di warung kopi tanpa makan, dan apabila dia pulang pada petang harinya, dia akan makan dengan lahap, dan kemudian pergi tidur di kamarnya. (5) Saya biasa tidur di kamar sebelah, di lantai, di atas sebuah kasur.
(Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol, hal. 68)
Dalam kalimat (2) terdapat satu piranti penanda kohesi pronomina demonstratif jauh ke arah mengacu secara katafora terhadap anteseden pasar ikan pada kalimat (2). Dalam kalimat (3) terdapat dua macam piranti kohesi, yaitu (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden dua buah kamar dalam flat disebuah gang yang sempit pada kalimat (1); (b) pronomina enklitik –nya (dalam untuknya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Bayouni di kalimat (1). Pada kalimat (4) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu (a) kata dia mengacu pada kata anteseden Bayouni di kalimat (1); (b) kata kemudian sebagai piranti kohesi konjungsi; dan (c) pronomina enklitik –nya (dalam kamarnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Bayouni di kalimat (1).
2. (1) Srintil bukan tidak lapar. (2) Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. (3) Masalahnya dia hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. (4) Namun ketika sepiring nasi lontong dengan kuah panas siap di hadapannya, Srintil mengalah. (5) Hidangan itu dihabiskannya dalam waktu singkat. (6) Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah serta pedasnya cabai. (7) Keringat serta air matanya kembali menitik. (8) Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
(Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, hal. 131)
Dalam kalimat (2) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu (a) pada kata sejak kemarin sebagai piranti kohesi urutan waktu; (b) pronomina enklitik –nya (dalam perutnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1). Dalam kalimat (3) kata dia mengacu pada kata anteseden Srintil pada kalimat (1). Dalam kalimat (4) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu, (a) terdapat kojungsi kontras pada kata namun (b) pronomina enklitik –nya (dalam hadapannya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1); (c) sebagai referensi katafora yang mengacu pada antiseden Srintil di kalimat (4). Dalam kalimat (5) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu, (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden sepiring nasi lontong dengan kuah panas di kalimat (4); (b) pronomina enklitik –nya (dalam dihabiskannya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), dan (4). Dalam kalimat (6) terdapat pemarkah kohesi, yaitu (a) elipsis (ф) merah oleh panasnya kuah serta pedasnya cabai yang dilesapkan dari bibirnya; (b) pronomina enklitik –nya (dalam panasnya) sebagai referensi personal katafora yang mengacu pada anteseden kuah di kalimat (6); (c) pronomina enklitik –nya (dalam pedasnya) sebagai referensi personal katafora yang mengacu pada anteseden cabai di kalimat (6). Dalam kalimat (7) terdapat satu piranti kohesi pronomina persona enklitik –nya (dalam matanya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), (4), (5) dan (6). Dalam kalimat (8) terdapat satu piranti kohesi pronomina enklitik –nya (dalam hidupnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), (4), (5), (6) dan (7).
3. (1) Waktu ia akhirnya pergi ke sana dengan agak ragu, seorang perempuan muda yang tengah mengandung muncul membukakan pintu. (2) Wis terkejut, tak siap menghadapi orang lain di rumah masa kecilnya, tak siap menjadi asing di bekas tempat-tinggalnya. (3) Dan wanita itu hamil tua, seperti Ibu ketika hidup di situ. (4) Untuk beberapa detik, Wis tak bisa berkata-kata.
(Ayu Utami, Saman, hal.60)
Dalam kalimat (1) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu (a) kata ia mengacu pada anteseden Wis di kalimat (2) dan (4); (b) pronomina demonstratif jauh ke sana mengacu secara katafora terhadap anteseden rumah masa kecil. Pada kalimat (2) terdapat 3 penanda kohesi (a) Elipsis (ф) Wis terkejut yang dilesapkan dari tak siap menjadi asing di bekas tempat-tinggalnya di kalimat (2); (b) pronomina enklitik –nya (dalam kecilnya dan tempat tinggalnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Wis di kalimat (2), (c) subtitusi dari kata rumah masa kecilnya berubah menjadi bekas tempat-tinggalnya.Pada kalimat (3) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden perempuan muda pada kalimat (1); (b) pronomina demonstratif jauh di situ mengacu secara katafora terhadap anteseden rumah masa kecilnya di kalimat (2); dan (c) kata seperti adalah pronomina komparatif dari ibu Wis yang pernah tinggal di situ.
(MARET, 2009)
1. (1) Bayouni memiliki dua buah kamar dalam flat disebuah gang yang sempit. (2) Memiliki pemandangan ke arah pasar ikan. (3) Saya harus menyapu dan membersihkan kamar-kamar itu, membeli ikan dari pasar di bawah rumah kami, atau seekor kelinci, atau daging dan memasak untuknya. (4) Dia bekerja sepanjang hari di warung kopi tanpa makan, dan apabila dia pulang pada petang harinya, dia akan makan dengan lahap, dan kemudian pergi tidur di kamarnya. (5) Saya biasa tidur di kamar sebelah, di lantai, di atas sebuah kasur.
(Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol, hal. 68)
Dalam kalimat (2) terdapat satu piranti penanda kohesi pronomina demonstratif jauh ke arah mengacu secara katafora terhadap anteseden pasar ikan pada kalimat (2). Dalam kalimat (3) terdapat dua macam piranti kohesi, yaitu (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden dua buah kamar dalam flat disebuah gang yang sempit pada kalimat (1); (b) pronomina enklitik –nya (dalam untuknya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Bayouni di kalimat (1). Pada kalimat (4) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu (a) kata dia mengacu pada kata anteseden Bayouni di kalimat (1); (b) kata kemudian sebagai piranti kohesi konjungsi; dan (c) pronomina enklitik –nya (dalam kamarnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Bayouni di kalimat (1).
2. (1) Srintil bukan tidak lapar. (2) Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. (3) Masalahnya dia hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. (4) Namun ketika sepiring nasi lontong dengan kuah panas siap di hadapannya, Srintil mengalah. (5) Hidangan itu dihabiskannya dalam waktu singkat. (6) Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah serta pedasnya cabai. (7) Keringat serta air matanya kembali menitik. (8) Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
(Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, hal. 131)
Dalam kalimat (2) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu (a) pada kata sejak kemarin sebagai piranti kohesi urutan waktu; (b) pronomina enklitik –nya (dalam perutnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1). Dalam kalimat (3) kata dia mengacu pada kata anteseden Srintil pada kalimat (1). Dalam kalimat (4) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu, (a) terdapat kojungsi kontras pada kata namun (b) pronomina enklitik –nya (dalam hadapannya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1); (c) sebagai referensi katafora yang mengacu pada antiseden Srintil di kalimat (4). Dalam kalimat (5) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu, (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden sepiring nasi lontong dengan kuah panas di kalimat (4); (b) pronomina enklitik –nya (dalam dihabiskannya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), dan (4). Dalam kalimat (6) terdapat pemarkah kohesi, yaitu (a) elipsis (ф) merah oleh panasnya kuah serta pedasnya cabai yang dilesapkan dari bibirnya; (b) pronomina enklitik –nya (dalam panasnya) sebagai referensi personal katafora yang mengacu pada anteseden kuah di kalimat (6); (c) pronomina enklitik –nya (dalam pedasnya) sebagai referensi personal katafora yang mengacu pada anteseden cabai di kalimat (6). Dalam kalimat (7) terdapat satu piranti kohesi pronomina persona enklitik –nya (dalam matanya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), (4), (5) dan (6). Dalam kalimat (8) terdapat satu piranti kohesi pronomina enklitik –nya (dalam hidupnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Srintil di kalimat (1), (4), (5), (6) dan (7).
3. (1) Waktu ia akhirnya pergi ke sana dengan agak ragu, seorang perempuan muda yang tengah mengandung muncul membukakan pintu. (2) Wis terkejut, tak siap menghadapi orang lain di rumah masa kecilnya, tak siap menjadi asing di bekas tempat-tinggalnya. (3) Dan wanita itu hamil tua, seperti Ibu ketika hidup di situ. (4) Untuk beberapa detik, Wis tak bisa berkata-kata.
(Ayu Utami, Saman, hal.60)
Dalam kalimat (1) terdapat 2 piranti kohesi, yaitu (a) kata ia mengacu pada anteseden Wis di kalimat (2) dan (4); (b) pronomina demonstratif jauh ke sana mengacu secara katafora terhadap anteseden rumah masa kecil. Pada kalimat (2) terdapat 3 penanda kohesi (a) Elipsis (ф) Wis terkejut yang dilesapkan dari tak siap menjadi asing di bekas tempat-tinggalnya di kalimat (2); (b) pronomina enklitik –nya (dalam kecilnya dan tempat tinggalnya) sebagai referensi personal anafora yang mengacu pada anteseden Wis di kalimat (2), (c) subtitusi dari kata rumah masa kecilnya berubah menjadi bekas tempat-tinggalnya.Pada kalimat (3) terdapat 3 piranti kohesi, yaitu (a) pronomina demonstratif jauh itu mengacu secara anafora terhadap anteseden perempuan muda pada kalimat (1); (b) pronomina demonstratif jauh di situ mengacu secara katafora terhadap anteseden rumah masa kecilnya di kalimat (2); dan (c) kata seperti adalah pronomina komparatif dari ibu Wis yang pernah tinggal di situ.
(MARET, 2009)
Komentar
Posting Komentar