Langsung ke konten utama

Kenangan Seputung Rokok

          

 Gadis belia itu terburu-buru berlari menuju stasiun. Nafasnya
terengah-engah ketika memasuki gerbang stasiun kecil itu. Sinar panas matahari
menyinari, hingga keringatnya bercucuran di sekitar wajahnya. Sedari tadi
terkena panas dan ia berjalan cepat dari kendaraan umum yang baru saja ia naiki
dan berjalan kurang lebih 300 meter. Lega pikirnya, karena tidak terlambat.
Matanya yang bulat dan indah itu semakin membulat saat melihat antrian panjang
di hadapannya, antrian orang yang berdesak-desakan yang sama-sama ingin segera
mendapatkan tiket pada siang itu.


            Perlahan dia menyusup pada ekor
antrian dan maju langkah demi langkah hingga akhirnya dia berada di depan loket
tepat.
“Satu Pak, jurusan Blitar.” sambil mengulurkan uang lima ribuan. Petugas
tiket itu menyerahkan tiket dan kembalian uang seribu lima ratus rupiah. Lalu
ia berlalu begitu saja dari depan loket dengan meninggalkan ucapan terima
kasih.

Matanya mengitari hampir tiap sudut ruang stasiun yang kecil itu.
Berharap ada sela yang bisa ia duduki dan meletakkan barang bawaannya yang
sangat berat. Sayangnya tak ada, dan wajahnya terlihat sangat kecewa. Ia
berjalan menuju ke dalam untuk mencari tempat di sekitar rel kereta api, lagi-lagi
mengecewakan. Akhirnya dia meletakkan tas rangselnya di lantai dan ia bersandar
di tembok stasiun meregangkan bahunya barang sejenak.

 Tak asing lagi situasi di sana,
ia hampir tiap dua minggu sekali selalu menunggu kereta di stasiun itu. Karena
tak ada yang lebih nyaman fikirnya transportasi selain kereta api. Ia trauma
saat melihat temannya saat naik bus bersamanya, yang tersungkur saat turun dari
bus karena bus terburu-buru segera menancap gasnya untuk melaju.

Ia terlihat sangat cemas, sampai-sampai tak menghiraukan orang yang
duduk di dekatnya. Belum hilang rasa capeknya, suara dari petugas terdengar.
“Kereta Penataran  jurusan Blitar,
Tulungagung dengan tujuan akhir Kertosono akan segera tiba di Stasiun
Blimbing”. Pandangan gadis itu langsung berubah arah. Ia menatap jauh ke arah
ujung rel kereta api yang akan dilalui kereta api yang dinaikinya. Segera Ia
bergegas melangkahkan kakinya ke arah rel yang kira-kira gerbong pertama
berhenti di sana. Ia lebih menyukai menaiki gerbong yang di depan dari pada di
gerbong belakang atau tengah. Karena ia sudah tahu pasti ditempat yang tidak
disukai itu pasti akan penuh sesak.

Setelah kereta datang dan gerbong pertama berhenti di depan tepat dia
berdiri, ia langsung naik dan mencari tempat duduk yang belum diduduki. Sejauh
ia mondar-mandir, sayangnya tak ada kursi yang kosong. Ia melihat bapak-bapak
dan bertanyalah dia pada bapak yang sedang duduk kelelahan itu. Rupanya bapak
itu baru sudah lama berada di kereta itu dan akan segera turun.
“Pak, anda turun mana ya?” Dengan sopan gadis itu bertanya untuk mencari
informasi. Barang kali tempat duduk bapak itu bisa segera ia tempati setelah
bapak itu turun.
“Kota Baru” jawab bapak itu dengan tersenyum. Dan segera gadis itu
meminta izin untuk mendudukinya seturun bapak itu nanti. Bapak itu mengangguk.

Sementara itu dengan tenang gadis itu berdiri saat kereta melaju,
meskipun banyak pedagang asongan yang sebentar-sebentar berlalu-lalang di jalan
tepat ia berdiri. Terpaksa dia harus merapat ke pinggir saat mereka lewat. Meskipun
tak jarang kepalanya tertubruk wadah dagangan para pedagang asongan tersebut.
Hati rasanya ingin marah, tapi hal tersebut sudah biasa baginya, karena
berkali-kali seperti itu. Ia memaklumi, ongkos yang murah tentu saja dengan
fasilitas yang kurang memuaskan, itu sudah hukum alam. Ia tersenyum saat mengingat
kata-kata yang pernah dikatakan oleh temannya.

Tak terasa sudah tiba di stasiun berikutnya, bapak itupun turun dan ia pun
berganti duduk di kursi bapak itu tadi. Ia paling senang duduk di dekat cendela
tiap kali naik kereta, tapi tak selalu ia dapat tempat di dekat cendela seperti
yang ia inginkan. Pemandangan yang indah persawahan bisa sepuasnya ia nikmati.
Saat menunggu kereta itu melaju, ia melihat dari dalam cendela ada seputung
rokok di atas bantalan kereta yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Rokok itu
masing mengepulkan asapnya, sendiri dan tak ada yang peduli.

Tiba-tiba seputung rokok itu membuat hatinya kalut dan air matanya
berkaca-kaca. Hatinya terasa tersengat listrik, nafasnya terasa berat. Ya,
seputung rokok yang membuat goresan kisah dalam cerita hidupnya. Ia terus
menatap putung rokok yang tergeletak di atas bantalan rel itu hingga kereta api
mulai melaju dan akhirnya putung rokok itu menghilang dari jarak pandangnya.

Sekali lagi dia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya lalu
menyandarkan kepalanya pada kursi tempat duduknya. Berharap apa yang baru saja
ia ingat tak membuat hatinya bersedih.
“Ya robb, berikanlah aku keiklhasan untuk melupakannya dan memaafkannya”
doanya dalam hati.
Namun gadis yang bernama Ani itu mencoba untuk memberanikan diri mengenang
kisahnya, kisah saat ia bersama mantan pacarnya yang bernama Ilham. Perkenalan
yang sangat singkat namun secepat itulah janji asmara mereka berdua terjalin. Sampai
pacarnya  mengenalkannya pada orang
tuanya dan mengajaknya ke rumahnya. Tapi tak terduga sebelumnya, ada yang
datang kerumahnya, seorang gadis yang sepertinya menyimpan amarah pada pacarnya
Ilham pada waktu itu.

“Mas, siapa gadis ini? Jawab!” Pertanyaan gadis yang baru saja datang
itu membuat Ani terperanjat. Ia berfikir dan berfikir yang tidak-tidak, dan
hanya terdiam. Secara bersamaan ia melihat percekcokan yang menegangkan di
rumah pacarnya itu. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia bingung dan ia bahkan tak
berhak memperbaiki keadaan.
“Sudah, sudah jangan buat ribut di sini. Ini ada tamu apa kamu tidak
malu?” Kata Ilham membentak da hendak memukul gadis itu karena Ilham juga tak
tau harus berbuat apa. Fikiran Ani bertambah kacau mendengar kata-kata pacarnya
itu.

 “Siapakah gadis yang sedang
marah-marah ini, apa dia pacar dari pacarku?”
Dugaannya semakin kuat dan ingin rasanya hati berteriak meminta
penjelasan dari pacarnya itu tentang gadis yang sedang marah-marah di rumahnya.
“Oh, ini ya mas yang namanya Ani itu? Yang ada di hp kamu, yang selalu
kirim sms dan sayang-sayangan sama kamu?” Tiba-tiba nada biacara gadis itu
meninggi dan membentak, tangisnya meledak dan gelas di hadapannya pun hancur
terlempar olehnya.

Ibu dan kakak dari Ilham pun keluar saat mendengar jeritan dan suara
gelas pecah. Tak lama kemudian gadis itu pingsan, dan Ani yang mematung melihat
keadaan itu langsung diajak pergi oleh kakak Ilham.
“Ayo An, kakak antar pulang, biarkan keadaan membaik dahulu baru nanti
kamu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.” Ani menurut saja, lalu ia diantar
pulang ke kostnya oleh kakak Ilham. Sepanjang jalan ia hanya meneteskan air
mata mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Ia ketakukan dan tak tau harus
bagaimana.
Satu minggu ia menanti dan tak ada kabar seperti yang diharapkannya. Ia
berharap Ilham pacarnya segera menghubunginya dan menjelaskan semuanya. Ani
sudah sangat terluka dan ia tak mau luka itu semakin menganga merajam
jantungnya. Tak sabar akhirnya ia memberanikan diri untuk mengirim pesan pada
pacarnya.

Mas, apa kamu baik-baik
saja?

Lama tak ada balasan, Ani semakin sedih. Akankah ia akan kehilangan
pacarnya dalam waktu yang amat singkat? Setengah jam kemudian hpnya berbunyi.
Ia segera membuka pesan yang bertuliskan Papa Ilham.

Iya, aku baik-baik saja.
Bagaimana denganmu di sana? Maaf aku akan segera menemuimu dan menjelaskan apa
yang telah terjadi. Aku pasrah dengan keputusanmu nanti. Sampai ketemu.

Hp yang tergenggam erat itu terjatuh di lantai. Dan Ani tak
memperdulikannya, dia hanya menangis dan takut akan apa yang sebentar lagi ia
hadapi tentang hubungannya dengan Ilham. Dua hari berlalu, tiba-tiba Ilham
mengirim pesan untuk mengajak Ani bertemu dan membicarakan semuanya.
Mereka akhirnya bertemu di depan kost Ani. Ilham menceritakan semuanya
tanpa terkecuali. Ani hanya terdiam, wajahnya terlihat pucat pasi mendengar
penjelasan dari pacarnya.
“Jadi dia pacarmu juga, pacarmu sebelum aku? Lalu kamu selama ini anggap
aku apa?” Ani bertanya terbata-bata dan terisak.
“Maafkan aku, tapi aku sayang kamu, aku sudah memutuskannya tapi ia
tidak mau menerima keputusanku. Tolong sayang mengertilah, aku sayang kamu,
tapi semua keputusan ada di tanganmu” kata Ilham meyakinkan Ani. Dengan rayuan
Ilham, akhirnya Ani mau memaafkan Ilham, dengan alsan ia segera memutuskan
ceweknya itu.

Tak terasa waktu telah berjalan dengan begitu capatnya, hingga usia
pacaran mereka berdua menginjak enam bulan. Ya, dan pada bulan inilah masalah muncul
kembali. Tanpa sebab pada satu bulan terakhir Ilham menghilang begitu saja.
Ilham adalah sosok yang sangat misterius dengan segala tingkahnya. Meskipun
sudah lama bersamanya, Ani tetap tak bisa membaca fikiran pacarnya itu. Ani
semakin bingung, ada apa sebenarnya, tiada kabar dari kekasihnya. Kenapa
menghilang tak jelas. Tak ada nomer lain yang bisa ia hubungi. Jengkel dan
sedih saat itu.
“Ya Robb, kenapa lagi-lagi nasib mempermainkan perasaanku?” ia
merebahkan tubuhnya pada ranjang dan memegangi hpnya berharap pesan pacarnya
menghubunginya dan memberi kabar.
Hp pun akhirnya
berdering. Seraya ia membuka dan membaca pesan yang masuk di kotak pesannya. Hatinya
 sangat sakit. Sakit sekali. Kenyataan
yang pahit yang ia takuti akhirnya benar-benar terjadi. Ilham yang slama ini menghindar
darinya  ternyata mempunyai alasan untuk
berpisah dengannya.  Kenapa harus tanggal
2 dia katakan semuanya? Kenapa? Dulu ia
telah terluka juga tanggal 2 oktober 2008. Dan kini terulang pada
tanggal yang sama. Ada apa dengan tanggal 2?

Malam itu Ilham
mengirim pesan setelah sekian lama Ani menunggu kabar darinya.  Kabar yang menyakitkanlah yang akhirnya ia
baca dalam pesan singkat itu. Ia tak bisa apa-apa. Hanya hanya bisa menangis.
Jeritan hatinya seakan tersumpal segumpal benda yang menyesakkan dalam
tenggorokannya. Air matanya tak kuasa terbendung. Tiba-tiba mengalir dan
menetes membasahi bajunya. Ia tetap saja membaca satu demi satu pesan yang
dikirim oleh Ilham. Ia ta percaya semua sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa.
“Ya Tuhan ampunilah segala
dosa ku dan kuatkanlah imanku dalam menjalani cobaan darimu ya Allah…” Tubuhnya
semakin lemas, tapi ia tetap saja memaksa diri untuk membaca tiap pesan dari
Ilham karena rasa ingin tahunya.

2 Jun
2009 22:11
Tolong
jangan potong dan jangan balas sms q dlu sblum aq blg selesai….
22:14
Aq tw
ni nyakitin bgt bwt km. kmu bleh benci, mrah, caci maki aq. Tpi ne jln trakhir
q, q ma ortu dh ditunangin ma tmennya anaknya bpk. Q syg bgt ma kmu, tpi…
22:15
Q
sring ngilang. Cz aq gk tega nyakitin kmu.. Syg q ma kmu nglebihin apapun. Q
harap kmu dpt cow yg baek. Tlg lupain cow brengsek kyak aq ini…
22:17
Aq
trpaksa lakuin smua ini. Aq sdih, aq skit, tpi gk ada yg tw. Aq gk mw nyakitin
kmu. Tpi nyatanya aq ingkar janji. Tlg benci aq.. Ma’apin aq.. Please… 4 give
me…
22:28
Aq ad
janji ma kmu. Aq punya hutang uang mu n janji jalan2 ma kmu. Aq psti tepati
semua.. Please dgan sangat.. jgan hub aq. Aq gk mw hati q n hatimu
tambahterluka..
22:28
Aq
jujur, aq sbenernya lum ciap ngmong cmua ini.. Tpi aq gk mw tmbah nyakiti
pean.. Aq hy makhlik bodoh yg bisanya nyakitin cmua orang…
22:28
Kmu
boleh benci aq, marah, aq tw ne nyakitin. Tpi cnta q tetep ma kmu.. Please jgn
kaci tw ciapapun.. n tlong jgn telp n sms aq… keluargaku.. Beria q n keluargaku
wktu..
22:28
Aq dh
ckup amat skit dgn semua ini, aq gk pgen nyakitin keluarga q, aq gk pengen
nyakitin kmu.. Aq mhon  dengan sangat..
Ampuni aku Ani q.. 4ever love u..
22:28
Inilah
saat terakhir q melihat kmu. Jtuh air mata q menangis pilu, hanya mampu ucapkan,
I love u Ani sayang q..
22:32
Jum’at
mlm kita ktmu dkostanmu. Ckrag aq gk pulang krumah. Aq gk terima dgn semua ini.
Gud nite met istirahat. Jgn lupa maem n sholat..

            Tangisnya
semakin meledak saat ia membaca pesan terakhir dari pacarnya itu. Lalu ia
langsung menelpon Ilham, tapi nomornya sudah tidak aktif. Di malam yang sunyi
itu hanya suaranya yang terdengar. Suara isak tangisnya yang tak bisa ia tahan.
Ia menumpahkan segala rasa yang selama ini dirasakannya dengan air matanya.

            Ia
mengirim pesan pada sahabat dekatnya. Entah tak ia pedulikan apakah temannya
sudah tertidur pulas ataukah masih terjaga. Ia hanya ingin mencari teman untuk
mendengarkan keluh kesahnya. Hpnya berbunyi dan ia segera mengangkat telepon.
            “Hallo..”
sejenak suasanya sunyi dan tiada yang berbicara.
            “Iya,”
Suara Ani terdengar sengau dan terbata-bata.
            “Kamu
menangis?” Kenapa?”  tanya pria itu.
“Aku, aku..” lalu suara
tangis memecah. Semua terdiam kembali sampai akhirnya Ani menceritakan apa yang
terjadi padanya.
“Sudah, jangan terlalu
difikirkan.  Aku tahu perasaanmu. Tapi
orang seperti itu tak pantas mendapatkan cinta darimu An.” Laki-laki itu
menghiburnya.
“Iya, makasih Pras. Ya
sudah ini sudah tengah malam aku tutup ya teleponnya.” Lalu telepon berakhir.
Tapi Ani masih saja termenung dan tak bisa memejamkan mata. Ia memeluk
gulingnya dengan erat sampai akhirnya ia terlelap.

            Sore
ini waktunya untuk mengakhiri semuanya. Sedari pagi hatinya sudah tak tenang.
Ia tak kuasa untuk bertemu dengan Ilham pacarnya, yang sebentar lagi akan
menjadi mantan pacarnya. Hpnya berbunyi tepat pukul tujuh malam. Hatinya
semakin tak karuan ketika akan beranjak dari kamarnya menuju depan rumah kostnya.
Ia takut ia tak dapat menahan rasa dan menangis di depan pacarnya. Ia ingin
terlihat kuat di depan pacarnya. Ia tak mau menunjukkan kesedihan yang
dideritanya.
             
            Akhirnya
mereka berdua bertemu kembali, sama saat dulu Ilham menjelaskan masalahnya yang
membuat hati Ani terluka. Dan malam itu terulang kembali. Bahkan lebih sakit
dari yang dulu. Mereka saling pandang dan bersalaman. Duduk terdiam
bersampingan. Hingga salah satu kata terucap dari mulut mereka.

            “Sudah,
jelaskan semua yang telah terjadi.” mata Ani tak kuasa menatap wajah Ilham, ia
tak mau menangis. Penjelasan demi penjelasan telah didengarnya.  Rokok itu mengepul di di sela-sela jari Ilham,
terkadang Ilham mengsisapnya dan mengepulkan asap dari muludnya. Hati Ani
semakin sakit saat semua itu terucap dari mulut Ilham.

“Selamat ya, semoga
hidup bahagia dengannya.” ia tak ingin mengucapkannya tapi ia tak tahu kenapa
ia mengatakan ucapan itu pada Ilham. Ia hanya tersenyum dan terdiam.
“Maafkan aku, aku
sayang kamu, tapi semua ini kehendak keluargaku. Semoga kamu akan mendapatkan
pengganti yang lebih baik dariku.” Ilham mengatakan kata-kata yang sangat tidak
ingin Ani dengar diakhir pertemuannya itu. Sampai akhirnya Ilham pamit dan
mengecup keningnya untuk terakhir kalinya. Lalu ia pamit dan pergi meninggalkan
Ani di bangku itu. Ia hanya meninggalkan putung rokok yang masih mengepulkan
asap di depan tempat duduknya tadi.

Sepeninggal Ilham, air
matanya mengalir, dia tak cukup kuat dan tegar sebagai seorang gadis yang
ditinggalkan lekasihnya. Sosok yang sekarang sudah tak lagi menjadi pacarnya
itu pun menghilang. Ani tak kuat lagi menahan tangis, kepalanya menunduk dan menangis.
Ia tak kuasa beranjak dari bangku itu. Ia  mendapati putung rokok bekas mantan pacarnya
dan memandanginya dengan terisak. Tak ia perdulikan lalu lalang orang di jalan

Malam itu sungguh
menjadi malam yang membuatku terpuruk. Hanya tangis air mata yang bias
mengungkapkan kesedihan itu. Seiring dengan berjalannya waktu, aku tak ingin
mengingatnya lagi dan aku ingin bahagia tanpa kenangan itu... Sudah ada yang
mengisi lembar cerita hidupku dan aku akan berjalan dengan coretan-coretan
itu..

Suara pengeras dari petugas stasiun membuyarkan kenangannya. Ia terkejut
mendengar bunyi kereta api yang hendak melaju. Begitu lama ia mengingat-ingat
kenangan menyakitkannya bersama mantan pacarnya itu. Hingga tak terasa tiga
stasiun lagi ia sampai di stasiun tujuannya. Dan lagi-lagi putung rokok itu mengganggu
fikirannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka dalam Rumah Tangga

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Hallloooo... selamat tahun baru 2021 semuanyaa.. semoga segala sesuatunya akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.  Sudah 3 tahun blog ini tidak pernah terisi karena yang punya malas akut buat nulis.. Selama 3 tahun itu banyak kisah yang terlewati, baik suka maupun duka. Apa kabar buah si dedek yang kami?? Alhamdulillah dedek yang kita nanti sudah lahir, cowok... sekarang usianya 3 tahun lebih 2 bulan. Sudah aktif sekali tidak bisa diam. Bisa dibilang hiperaktif😂 Sudah 5 tahun berlalu semenjak pernikahan ini, dan cobaan pun melanda. Yang dikatakan orang dalam usia pernikahan 5 tahun pertama, rumah tangga akan diuji. Dannn itu pun terjadi pada kami... Doain ya semoga kami bisa melewatinya dan akan tetap menjadi keluarga yang solid. Aamiin. Intinya pihak ketiga datang saat kami dalam keadaan jenuh...  Salah satu apk telah membuat candu untuk selalu berselancar dalam dunia halu. Hingga akhirnya aku dan suami bertengkar he...

JOGJA, TERUKIR CERITA SAATKU BERSAMAMU

"Monggo Pak" sapa Intan dengan sopan kepada bapak satpam di hotel itu. Lalu ia menuju pintu keluar menuju ke pinggir jalan dan menengok ke arah jalan. Rupanya ia mencari seseorang yang sudah berjanjian dengannya untuk bertemu. Ia melayangkan pandang ke seluruh arah jalan yang ada di depannya, hingga ia menemukan seorang pria yang sedang asyik duduk di atas sepeda motornya dengan memainkan hpnya. Karena belum yakin dengan dugaannya, Intan memandangnya lama dengan harapan pria itu melambaikan tangannya. Dan benar sekali pria itu segera melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya. Intan pun segera menghampirinya. Sesaat mereka berdua saling pandang dan tersenyum kemudian bersalaman. "Ehmm.. udah lama ya Mas nunggunya? Maaf tadi masih nunggu teman sekamar." Intan mengawali obrolan dengan rasa malu. "Iya ndak papa Mbak. Loh kamu ini ada acara apa to di hotel ini? Kok sampek lama seminggu. Itu acaranya ngapain aja?" Pria yang bernama Zaki itu bertanya deng...

Esai Gunung Kemukus

                            PUNCAK GUNUNG KEMUKUS YANG PENUH CERITA                                                              Oleh Siti Nurhasanah                    Mencengangkan bagi yang belum pernah mengetahuinya. Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Ka...