Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012
Masa awal kuliah ternyata ceritanya berlanjut sampai menjelang selesai kuliah . Baru sadar saat melihat-lihat foto ini bersama dengan dosen yang bernama Dr. Sumadi, M.Pd. Dosen mata kuliah sintaksis.  Ternyata beliau menjadi dosen pengujiku saat sidang ujian skripsiku. Wahh.. sangat berkesan. Berkesan untuk mendapatkan tanda tangan yang super keramat **menurut Sumadi Lover :-D ##Versiku Aku hampir tak bisa menikmati hari raya Idul Fitri di rumah karena tanda tangan keramat ini.  Jengkel saat aku berharap akan segera menyelesaikan tugas agung ini, namun justru aku yang paling telat dibanding dengan teman-teman seperjuangan yang lain.. Semua teman kost sudah mudik lebih awal, dan aku pun sibuk di kamar kost dengan kertas HVS ukuran A4 yang berserakan. Terkapar sendiri di kamar menatap atap plafon yang seakan-akan mau runtuh :’( Tangisan pun meledak saat tak tahan menahan.. Yah.. aku ternyata cengeng banget. Wakakakkkk... Dan saat upacara yudisium tiba, ...

Kenapa menangis.

Menahan itu rasanya tetap sakit meskipun awalnya tidak. Malam ini ku tak tau kenapa air mata ini tiba-tiba menetes, kemudian deras mengalir. Tak berani menatap apa lagi membayangkannya. Hatiku menjerit tapi aku tak memperdulikannya. Aku berusaha membohonginya namun rasanya aku gagal. Membencinya? semakin sakit rasanya menusuk jantungku. Aku tidak bisa lagi berbohong pada perasaanku. Berapa lama semua ini akan kembali seperti sedia kala? Untuk kedua kalinya mereka mendapatkan hatiku dan dengan tangkasnya mereka mengkoyaknya. Kemudian meninggalkan begitu saja. Lagi-lagi tubuh tak beda dengan kayu yang rapuh, tak mudah untuk memperbaikinya dan menjadikannya bentuk yang enak dipandang mata. Kayu itu sendiri, menanti seseorang untuk memungutnya kemudian digunakannya dia sebagai barang yang sangat dibutuhkan. Barang yang baginya adalah sesuatu yang sangat berharga sampai tak akan memperbolehkan orang lain memilikinya. Saat itu pasti indah. Dan aku percaya pasti saat itu datang. Kan kuhapu...

Mengulang rasanya mengagumi

Tadi malam tak menyangka bisa bertemu dengannya. malu-malu saat pertama bertemu. terurai senyum diantara kata yang terucap. Diam-diam kumelihat dia. pria yang dewasa sepertinya sudah mantap untuk mengarungi bahtera rumah tangga. kikuk saat memulai pembicaraan, menjaga sikap dan senyum malu-malu sebagai jurus pamungkasku. Tiba-tiba hujan turun lebat. kita berdua berteduh di atap gapura sebuah sekolah MAN. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Aku berpamitan dan menjabat tangannya. Tangannya sangat hangat, sehangat tatapannya padaku. Malam itu berakhir. Dan aku menantikan cerita selanjutnya.

Aku mengingatmu kembali.

Setelah aku berfikir, bukan tentang kamu atau aku yang salah. Tapi keadaan dan kesempatan yang kuambil, itu yang salah. Dan percayalah aku akan melupakannya. Karena aku tahu itulah yang akan membuatmu tersenyum. Kini aku hanya ingin dapat menemuimu seperti saat pertama bertemu. Hanya itu. Tapi seperseribu kesempatanpun sepertinya kamu tak akan mengabulkannya.

Sia-Sia

Ada kalanya aku hilang akal dan berfikiran bodoh. Bodoh sekali. Bayangkan saja betapa tidak bodoh jika sudah tahu tidak ada yang harus diperjuangkan kembali, namun masih saja aku ingin menulis pesan kepada dia yang sudah tidak lagi peduli denganku. Aku menulis ini saat terbersit ingatnanku dengannya, saat kangen dengannya. "Hai Lego Prasetyo bagaimana kabarmu? rasanya sudah aneh sekali menyapamu. kuharap kamu masih ingat denganku. terserah padamu sebagai apa sajalah. kurasa kamu tidak melupakan masalah kita bukan? atau memang kamu sudah melupakannya? begitukah? memang seperti  itulah harapanmu. dan selamat ya  kamu berhasil. aku hanya ingin itikat baik kamu menyikapi masalah yang terakhir antara kita. pertemuan terakhir kemarin apa ya maksudnya? tolong dijelaskan! tidak ada penyelesaian sama sekali. saya minta kamu untuk menyelesaikannya dengan cara yang baik. aku ingin mendengar secara langsung di depan mataku mau kamu apa. dan diselesaikan saat itu +uga. putus? oke putus a...

** Gara-Gara Sering Mbolang **

Geemmeess dehh... Gemes banget saat dibonceng sama teman yang ndak bisa mbalap. pengen tak gantikan aja, jadi aku yang nyetir hihihihhiiii... Ini nih efek samping kalau suka dibonceng sama pembalap.. Niru-niru juga deh jadi pembalap. Hahahahaaa.. Sejak ikut tim mbolang "Taman Asmoro" menjelajahi tempat wisata yang kebanyakan berada di sekitar Jawa Timur, aku jadi suka sekali ngebut. Jarak Blitar-Malang sekarang ibarat jarak yang tidak berarti apa-apa. Wuuusshhh.. syat syut salip sana salip sini. Becak, sepeda motor, mobil, pic up, truk, bison, dan bus lewat hahahaha.. Pagi, siang, dan malang tiada hambatan..

** Bukan Master of Badminton **

                                                            Cerita ini dimulai pagi hari saat aku berada di meja guru. 1 November 2012. Aku asik mempelajari aturan main bulu tangkis (badminton) karena ada pertandingan antar sekolah se-SMA kota Malang. Aku diajak guru olah raga. Oke aku jadi semangat untuk ikut. Saat asyik melihat dan membaca di laptop, tiba-tiba yang bernama Bu Rose muncul di depanku dan menanyakan seperti ini: "Mana meja Bu Indri?", sambil membawa kaos olah raga berwarna merah. Aku diam saja karena tercengang dan bingung. Jujur saja juga karena tidak tau yang mana yang bernama Bu Indri. "Ehhhmm Bu Indri Bahasa Indonesiakah Bu?", tanyaku pelan dengan wajah datar. "Bukan, yang satunya.", karena tidak sabar menunggu jawabanku beliau langsung tanya ke guru lain. "Di mana Bu tempat duduknya Bu Indri bahasa asing?", lalu...

Berakhir Cinta, Bukan Berarti Berakhir Segalanya

75 hari yang lalu tidak bisa kulupakan. Bukan karena aku berusaha mengingatnya, tetapi mungkin karena ingatanku yang terlalu kuat. Tanpa terbayangkan adu mulut yang selama ini kita berdua lakukan, malam itu menjadi pertengkaran terakhir yang sangat hebat. Pertengkaran yang mungkin tidak akan pernah ada lagi di antara kita berdua.             Masalah yang benar-benar sudah tidak ada jalan keluar menurutnya. Tawaran-tawaranku pun ditolaknya. Terkejut. Aku benar-benar tidak menyangk a dia akan mengatakan kata-kata itu dari mulutnya. Sesak. Dadaku sesak dan tangisku semakin terisak. Bantal yang menjadi saksi malam itu, basah oleh air mataku yang mengucur tiada henti.             Aku takut, sangat takut kehilangan dia. Aku butuh sesosok pria yang mendukungku dan ada di sisiku saat itu, dan hari itu aku sangat membutuhkannya. Namun dia rupanya tak ingin sedikitpun menghiraukan buj...