Menahan itu rasanya tetap sakit meskipun awalnya tidak. Malam ini ku tak tau kenapa air mata ini tiba-tiba menetes, kemudian deras mengalir.
Tak berani menatap apa lagi membayangkannya. Hatiku menjerit tapi aku tak memperdulikannya. Aku berusaha membohonginya namun rasanya aku gagal. Membencinya? semakin sakit rasanya menusuk jantungku. Aku tidak bisa lagi berbohong pada perasaanku. Berapa lama semua ini akan kembali seperti sedia kala? Untuk kedua kalinya mereka mendapatkan hatiku dan dengan tangkasnya mereka mengkoyaknya. Kemudian meninggalkan begitu saja.
Lagi-lagi tubuh tak beda dengan kayu yang rapuh, tak mudah untuk memperbaikinya dan menjadikannya bentuk yang enak dipandang mata. Kayu itu sendiri, menanti seseorang untuk memungutnya kemudian digunakannya dia sebagai barang yang sangat dibutuhkan. Barang yang baginya adalah sesuatu yang sangat berharga sampai tak akan memperbolehkan orang lain memilikinya.
Saat itu pasti indah. Dan aku percaya pasti saat itu datang. Kan kuhapus air mata ini demi kebahagiaanku yang sudah menungguku terlalu lama karena hal yang salah telah kulakukan begitu lama.
Aku adalah wanita yang tegar. Aku akan tersenyum bangga saat aku bisa membuktikan bahwa aku adalah yang terbaik di mata mereka terlebih di mata dunia.
Komentar
Posting Komentar