75 hari yang lalu tidak bisa kulupakan.
Bukan karena aku berusaha mengingatnya, tetapi mungkin karena ingatanku yang
terlalu kuat. Tanpa terbayangkan adu mulut yang selama ini kita berdua lakukan,
malam itu menjadi pertengkaran terakhir yang sangat hebat. Pertengkaran yang
mungkin tidak akan pernah ada lagi di antara kita berdua.
Masalah
yang benar-benar sudah tidak ada jalan keluar menurutnya. Tawaran-tawaranku pun
ditolaknya. Terkejut. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan mengatakan kata-kata
itu dari mulutnya. Sesak. Dadaku sesak dan tangisku semakin terisak. Bantal
yang menjadi saksi malam itu, basah oleh air mataku yang mengucur tiada henti.
Aku takut, sangat takut kehilangan
dia. Aku butuh sesosok pria yang mendukungku dan ada di sisiku saat itu, dan
hari itu aku sangat membutuhkannya. Namun dia rupanya tak ingin sedikitpun
menghiraukan bujuk rayuku. Hatinya sudah tak ada untukku, karena dia sudah
teramat membenciku. Apa yang dia inginkan tidak sejalan denganku. Apa yang aku
lakukan selama ini sedikit terpaksa dan penuh tekanan mental. Namun dia tidak
menunjukkan bahwa dia tahu peneritaanku yang aku lakukan untuk membuat dia
tetap tersenyum. Semakin lama aku berpikir, ternyata jawabannya adalah aku tak
sanggup lagi.
Ini adalah pembenaran
dari kalimat “Mengucapkan kata-kata negatif seperti halnya
menancapkan paku-paku pada sebatang pohon. Walaupun paku sudah tercabut, tetap
saja meninggalkan bekas.” Yaaa…. Aku sadar kata-kata
pedasku yang kulontarkan padanya yang membabi buta tanpa ingin tahu isi hatinya
saat aku sedang marah mungkin selalu dia simpan. Selalu dia simpan hingga
menjadi gunung yang siap meletuskan maghmanya menyembur keluar. Terbukti pada
malam itu juga. Aku hanya bisa diam dan menangis bersama rasa bersalahku.
Kenyataannya aku tidak dapat memperbaiki keadaan.
Aku berfikir dan terus berfikir atas
apa yang aku katakan padanya ketika marah. Sikapku terhadapnya. Apakah aku
benar-benar sepenuhnya yang telah bersalah? Ya. Aku terlalu kasar saat marah.
Aku tidak mempunyai cara yang baik dan benar untuk menyampaikan niatku sehingga
menjadi salah pengertian. Aku hanya berniat untuk membuat keadaan yang tidak
baik menjadi baik. Aku hanya ingin mempunyi seorang pendamping hidup yang ada
pada umumnya.
Terlalu membanding-bandingkan dengan
orang lain. Aku tahu itu tidak baik dan itu sangat menyakitkan. Aku pun tidak
akan mau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tap kenyataannya aku telah
melakukannya. Lagi-lagi aku menyesal. Pantaslah dia menghukumku dengan tidak
meresponku. Yaaa.. begitulah caranya yang selalu dilakukan untuk menyikapi
masalah. Cuek, diam dan semua akan selesai. Aku tidak bisa terima pola
pikirnya. Mungkin ini cara terbaik yang dimilikinya untuk meyelesaikan masalah
kita. “Kasih sayang tidak hanya
ditunjukkan oleh sanjungan dan pujian, tetapi juga teguran atas kesalahan dan
kelalaian.”
Anggap saja cerita itu sudah berakhir. Baiklah
sesuai permintaanya aku berusaha melakukannya. Sendiri meratapi nasib saat
sedang menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi dalam bulan Agustus yang
bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Bertepatan dengan dipimpongnya aku oleh
dosen saat memperjuangkan gelar S1 Pendidikan Bahasa, Sastra, Indonesia dan Daerah
di kampus Universitas Negeri Malang. “Cobaan=latihan.
Latihan ini akan menjadikan pribadi yang lebih tangguh, lebih tegar dan lebih
bisa bersabar.”
Hari demi hari
berlalu dengan berat setelah kejadian itu. Aku tak tahu harus mengadu kepada
siapa. Aku hanya bisa berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aku masih
enggan menceritakan kejadian malam itu kepada siapa pun karena aku belum percaya
apakah semua itu benar? Aku menahan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. “Kadang
ketika sedih, kamu menyendiri. Karena kamu tahu satu-satunya orang yang mampu
buatmu tersenyum kembali adalah dirimu sendiri.” Aku takut terpukul dan tak
bisa menahan sakit sendirian. Datanglah
temanku dan menanyakan kabar dia. Sakit au menahan air mataku menetes. Namun
aku tak bisa dan aku langsung memeluk temanku terisak di bahunya. Kemudian aku
menceritakan semuanya. “Hal tersulit
ketika kamu berpura-pura kuat adalah orang lain mulai berfikir bahwa kamu pasti
akan baik-baik saja meski disakiti.”
Hari terlewati tanpa terasa. Aku
lalui dengan kesibukan bekerja. Membuatku harus kuat beralih dari Blitar-Malang
tiap minggunya. Tiba-tiba sepulang dari bekerja HPku menerima 3 pesan. Aku
langsung membukanya dan itu sms dari dia. Aku tak tahu harus merasa bagaimana.
Aku berniat tidak membalasnya namun, hati berkata lain. Aku membalas singkat
dan sampailah dengan tawaran bertemu jika aku Di kota Malang.
Saat tiba di Malang aku tanpa sadar
mengharap dia menghubungiku. Berharap bisa bertemu setelah satu bulan tidak
bertemu. Namun ternyata tak ada kabar darinya. Tanganku yang nakal tak bisa berhenti
ingin memencet tombol keypad HP dan mengirim pesan padanya.
Minggu depannya. Hari itu akhirnya
kami bertemu. Namun tak seperti yang aku harapkan. Justru semakin membuatku
terpukul atas sikapnya yang aneh. Memang seperti itulah kenyataanya. Aku hanya
tersenyum masam dan menahan kekecewaan yang ada.
Setelah itu tiada kabar darinya. Aku
tetap mengharapkan itikat baik darinya untuk menyelesaikan masalah. Aku
menunggu. Menunggu kabar darinya dan menunggu sampai dia siap menemuiku. Namun
semua itu hanya isapan jempol belaka. Mustahil dia akan menurunkan egonya hanya
untuk wanita yang pernah membuat hatinya terluka.
Aku mulai berfikir untuk melupakan
dia. Foto dalam laptopku dengannya kuhapus. Namanya juga harus aku hapus dari
ingatanku. Barang yang berhubungan dengannya aku simpan di tempat yang sulit
aku lihat. Daaaann… yang tersulit sampai saat ini adalah menghapus ingatanku
dengannya. Aku akan selalu mengingat keburukannya saat aku mengingat kenangan
manis dengannya. Yaaa… aku berpikir aku pasti bisa.
Aku mencoba membuka hati untuk pria
lain yang ingin mengenalku. Berharap mendapatkan perhatian yang selama ini
kucari. Namun itu tidak berhasil. Percuma. Karena cinta tidak semudah itu
didapatkan. Yang ada hanya pelampiasan jika seperti itu.
Teman. Beruntung aku masih memiliki
teman-teman yang baik dan mengerti aku. Mereka tahu kesedihan yang aku alami.
Mereka selalu ada saat aku dalam kesusahan. “Lebih
baik kehilangan pacar daripada kehilangan satu teman.” Sepertinya pepatah itu benar adanya.
Aku sudah bisa sedikit melupakannya. Hmmm.. saat mendengar namanya,
melihat fotonya aku sudah biasa. Tidak ada perasaan apa-apa. “Mampu tertawa ketika segala sesuatu dalam
dirimu terluka, adalah salah satu bukti seberapa kuat kamu dalam menjalani
hidup ini.”
27 Oktober 2012. Muncul nama
“Beruang Nakal” di layar HPku. Aku mengangkatnya tapi tidak ada suara dan aku
langsung mematikannya. Aku melanjutkan makan siangku tanpa ingin berpikir
apa-apa. Aku melanjutkan makanku dengan santai.
Ya Allah terima kasih Engkau telah membuat aku
sadar atas segala kesalahan yang aku buat. Ampunilah aku atas segala dosa yang
lalu yang pernah aku lakukan. Engkau telah mengembalikan akal sehatku. Aku
menyesal. Aku menyesal telah melanggar laranganmu dan meninggalkan perintahmu
ya Allah. Aku bersyukur Engkau telah mengingatkanku sebelum ajal menjemputku.
Ya Allah lindungilah hambamu dan keluarga hambamu sampai maut menjemput.
“Kita
tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan
dan sakit hati di masa lalu.”
“You can’t go back and make new start.. But you can start now to
make new end” :-D
Sekarang, hidup
untuk berkarir dan menuju sukses. Pendamping hidup juga sambil terus dinanti
siapa tahu dia akan segera menyapa. Hahahahaaa…
By: Siti Nurhasanah (Based on the true story)
Kata motivasi sebagian dikutip dari: www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kata%20motivasi&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.gen22.net%2F2011%2F06%2Fkata-kata-motivasi-2011.html&ei=HS6EUIa0M4XnrAeB24HoCA&usg=AFQjCNEevkpz0WaJvCs-ROdkTnEMKWHflw.

semangat..we were beside you :D/
BalasHapusHiks pengen nulis dan ngepost every time but the conected is not suport :-D
BalasHapusMakasih adik. Kalian semua benar-benar teman, sahabat sejati yang tak meninggalkanku saat aku terjatuh bak butiran debu **katanya band rumor. :-P