Mas Budi sayang, hari ini dua hari kamu pergi ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Aku masih ingat, kemarin aku melihatmu tertidur di dalam peti. Aku tak bisa melihat wajahmu untuk terakhir kali. Hatiku lebih tercabik saat melihat dua kembar mayang diletakkan disampingmu. Aku mau marah, tapi aku tak tahu harus marah pada siapa??
Badanku lemas sayang, aku tertatih berjalan mengantarmu ke liang lahat. Doa kupanjatkan sebisaku, mengikuti bimbingan doa yang terucap. Semoga kamu tenang di alam sana. Sungguh, aku rela, hanya saja butuh waktu untuk itu. Jangan cemaskan aku.
Hari ini aku ke kelurahanmu, bukan mengurus surat keperluan untuk kita. Tetapi hanya suratmu saja. Meski berat aku tetap melangkah ke ruangan itu.
Petugas itu menanyakan keperluanku datang dan dengan berat hati aku harus menjawab bahwa aku mau mencari surat keterangan meninggal dan surat belum menikah atas namamu.
Di rumah sakit, aku juga mondar mandir mencari surat keterangan untukmu, surat keterangan... "kematian". Aku terkoyak, aku belum bisa menerima kenyataan ini sayang, maafkan aku. Di jalanan, aku selalu bertemu dengan truk tabung gas elpiji yang tentu saja aku langsung ingat padamu. Ingat saat kamu memakai seragammu, seragam yang penuh dengan tinta. Kacamata las yang kamu pakai di atas kepala. Aku benar-benar rindu membelai rambutmu. Aku harus bagaimana??
Tempat-tempat yang pernah kita datangi semakin membuatku kesal sayang... Andai aku bisa, aku akan mengubah seluruh tempat itu menjadi tempat yang tak bisa aku kenali. Tapi.. itu hanya andai-andai..
Aku berlagak sabar.. Tapi tenang sayang, jangan mencemaskan aku. Aku pernah bilang, jika aku sudah terbiasa sendiri sebelum bertemu denganmu. Dan memang, kau pun meninggalkanku tanpa meninggalkan kata terakhirmu.
Aku tahu kau tak ingin aku semakin berat meninggslkanmu. Tapi, aku merasa semua yang aku lihat disana juga ada bayang senyum manismu. Entahlah.. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana untuk menjalani hari-hariku ke depan tanpa dirimu. Sungguh, sedikit pun tak pernah terbayang di benakku.
Aku tak ingin memmbuatmu bersedih, sungguh... aku hanya butuh waktu untuk menerima hal ini.. Kau tentu tau kan.. Bahwa aku adalah wanita perkasa. Ya.. Seperti yang selalu kau katakan saat meledekku.. Aku merindumu..
Ini adalah caraku berbincang denganmu.. Aku masih merasa kamu ada di sampingku.. Saat aku sedih, aku takut engkau semakin sedih di sana.
Hari ini, aku ke rumahmu dengan teman-temanmu, kamu pasti senang karena banyak orang yang peduli dengan kita, bersimpati dengan kita..
Akh... Aku semakin berpikir yang tidak-tidak.. Aku teringat dengan rencana indah kita. Banyak rencana indah yang sudah kita susun sedemikian rupa.
Bukan hanya kita, tetapi kedua orang tua kita dan saudara-saudara kita juga pasti sangat sedih jika mengingat kisah kita. Tapi tak mengapa sayang.. Aku tahu di sana kamu lebih bahagia, bukankah begitu??? Aku tak boleh egois, aku harus bahagia jika kamu sudah bahagia di pangkuan sang khalik. Amin...
Ini rasa yang kurasakan hari ini. Maaf aku belum bisa menyumbat tetesan air mata yang kadang mengalir menbasahi pipi. Semua butuh waktu, seperti membutuhkan waktu untuk mulai menyayangimu. Sampai, sayang ini tak terbendung lagi.
Komentar
Posting Komentar