Langsung ke konten utama

Hanya satu kata: Aigoo..


Menggeliat dan menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka mata saat bangun tidur adalah ritual yang tak pernah terlupa olehku. Pagi itu aku akan berangkat untuk pertama kalinya menuju tempat kerjaku. Banyak yang mengatakan tempat tersebut sangat jauh dari rumahku.
“Tapi tekatku sudah bulat.” kataku dalam hati.
Aku pun bangun pagi karena tidak ingin membuat kesan tidak baik saat pertama memperlihatkan diri di tempat kerjaku. Karena jika tak ada jam kerja, setiap pagi aku selalu sengaja bangun siang. Biar pun ibu berteriak-teriak menyuruhku bangun, aku tetap saja menikmati tidurku. Hahahaha… benar-benar tak patut dicontoh pemirsa. Jangan coba-coba di rumah ya!
Aku pun segera mencari hand phone (HP)-ku, dengan cepat meraba ke samping kanan dan kiri, dari bawah bantal sampai di bawah selimut namun tak kutemukan juga. Nah akhirnya kutemukan tertindih di bawah badanku. Kasian sekali, andai saja benda itu bisa bersuara, pasti sudah berteriak-teriak. Setelah melihat jam dalam HP, aku menuju kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk berangkat.  Padanan baju batik dan jilbab berwarna orange serta rok dan sepatu berwarna hitam. Siap berangkat Cin…
“Wooooowww….!!” Dalam hati aku terkejut karena medan yang kulalui tak sama seperti yang ada dalam benakku. Lebih parah, bahkan sangat parah ketimbang dugaanku. Entah berapa lama waktu yang aku lalui saat itu, karena aku hanya fokus pada jalanan terjal di depanku. Aku hanya tinggal mengikuti motor seseorang yang statusnya adalah teman dari ayahku.
Awalnya kuberpikir, bagaimana situasi para anggota di sekolah akan menyambutku, dengan ramah ataukah dengan sambutan yang dingin. Namun pada saat melewati jalanan berbatu tersebut, aku berubah pikiran, karena setelah itu yang aku pikirkan adalah apa aku nanti bisa pulang tanpa tersesat?
Jalanan yang aku lewati bisa dibilang sangat rawan, bisa dibayangkan melewati jalan yang sepanjang jalan tersebut hamper keseluruhan adalah hutan dan kebun milik orang di daerah tersebut. 15 menit pertama jalanan mulus, kira-kira 20 menit jalanan lumayan berlubang dan sisanya adalah aspal yang sudah rusak. Jalanan yang dulunya aspal ini, sekarang seperti batuan yang di sebar di permukaan seluruh jalan yang bisa saja sangat berpotensi terhadap kecelakaan individu yang tidak konsentrasi saat mengemudikan motornya.
Usai melewati jalanan di hutan, akhirnnya terlihat sebuah desa.
“Pasti sebentar lagi sampai.” Pikirku dengan senyum senang. Tapi mana sekolahnya? Bahkan Pak Slamet, teman ayahku masih saja meneruskan laju motornya. Masih jauhkah? Melewati bukit tinggi di depanku inikah? Dan tebakanku benar. Kami menaiki bukit menjulang yang membatasi desa pertama aku masuk dengan desa setelahnya. Dari sinilah cerita dimulai.
Pepohonan masih rindang di sisi kiri dan kanan jalan. Pekarangan yang dimiliki setiap rumah milik sebagian besar warga masih sangat luas, seperti umumnya rumah-rumah di pedesaan. Jalanan yang bisa dibilang sangat tidak layak untuk dilewati pengendara motor, melainkan untuk pejalan kaki ini aku lewati dengan was-was. Tanganku mencengkeram kuat kedua setir motorku karena takut terjatuh. Sebentar-sebentar aku mempebaiki posisi dudukku karena tergeser ke depan saat melawati jalan turunan.
“Wah, jalannya kok ngalah-ngalahi touring The Riderz aja ya.” kataku. Karena jalannya yang penuh tantangan. The Riderz adalah kumpulan anggota yang suka sekali menjelajahi alam sekitar, saat ini masih dalam kawasan jawa saja, paling banyak tempat yang dikunjungi adalah di wilayah Jawa Timur. Menjadi anggota The Riderz seolah-olah adalah latihan menapaki jalanan terjal, berliku, curam, berlumpur, dan semacamnya. Benar-benar menguras tenaga dan nyali.
Tiba-tiba perutku merasa mulas. Mulas yang aku tahan sedari pagi semakin membuat ku tak nyaman untuk berkendara. Menyesal aku tadi tak meluangkan waktu sedikit untuk mampir ke kamar mandi. Walhasil sekarang semakin bercampur aduk rasanya di tengah jalan berbatu.
“Oh tidak! Bedakku pun mulai luntur karena terkena keringat yang keluar. Benar-benar woowww….” Kataku lagi dalam hati sambil bergidik.
Sempat aku mengira bahwa kami sudah sampai. Ternyata lagi-lagi motor terus saja tak berhenti. Di sebelah kiri jalan yang aku lewati ternyata sekolah Taman Kanak-kanak (TK). Dan ya sudah kami melanjutkan perjalanan sambil merasakan goncangan dari motor yang lumayan keras. Kemudian di sebelah kanan jalan tak jauh dari TK, kupikir kami sudah sampai tujuan. Namun lagi-lagi motor terus saja tak berhenti. Sempat aku menoleh, ternyata itu adalah sebuah Sekolah Dasar (SD).
“Lalu dimana Sekolah Menengah Pertama (SMP) nya? Kapan ku sampai?” tanyaku dalam hati karena sudah mulai capek bergetar di atas jalanan berbatu (lagi).
Beberapa kilometer kemudian,  ini yang membuatku paling terkejut dan mulutku ternganga adalah saat melihat jalanan di depanku. Kini tidak hanya berbatu namun jalanan curam dengan batuan besar seolah menggodaku di tengah jalan. “Oh Good apa lagi setelah ini?” pikirku. Setelah menuruni jalan yang curam berbatu tersebut, kami berhenti sejenak.
“Bagaimana Nduk, masih sanggup?” tanya Pak Slamet sambil menarik nafas panjang.
“Jalan yang baru saja kita lewati ini adalah jalan yang tersulit dan terparah kondisinya di daerah sini. Namanya jalan Mbah Turiem.” Aku mendengarkan dengan seksama dan berpikir bahwa nama itu sedikit lucu bagiku. Kenapa tidak Mbah Tukiem pikirku. Lalu kamipun melanjutkan perjalanan.
Tak jauh dari tempat tersebut nampk sebuah sekolah di bagian kiri jalan. TK,SD, dan SMP jadi satu kawasan yang saling berdekatan. Nah inilah tempat kerja baruku yang dengan susah payah aku temukan hahahahaaa… Di sana kami disambut oleh tiga orang. Bu Rini, Pak Edy, Bu Arie, dan Pak Benny. Aku biasanya sulit mengafalkan nama. Namun saat itu aku serasa menjadi guru Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Sehingga aku harus ingat setiap nama guru yang ada di sana. Aku ingin terlihat profesional dalam berkenalan. Saat itu aku melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 08.15 WIB.
Panjang lebar kami bercakap-cakap. Mulai dari keberuntunganku bisa masuk di sekolah tersebut, sampai perkenalan setiap karakter guru yang ada di situ. Cukup membuat aku kesulitan untuk menelan ludah. Baiklah ini adalah jalan yang sudah kupilih. Setelah itu aku mulai berinteraksi dengan mereka.
Sekolah tempat aku menjadi pendidik ini adalah di SMPN SATU ATAP yang berada di Kelurahan Ngadipuro Kecamatan Wonotirto. Seperti yang aku bilang, ini adalah pertama kali aku kesini. Siswanya yang bersikap sopan dan santun membuat aku menyunggingkan senyum. Aku seolah-olah melihat masa-masa di bangku sekolahku dulu ada di sekolah ini. Dimana saat ini budaya menghormati sudah mulai luntur, namun tidak berlaku di sekolah ini.
Pukul 11.00 Bapak kepala sekolah datang, suasana sudah mulai cair, kami menata ulang ruang guru dan bercanda tawa dan makan siang bersama. Jam sudah menunjukkan pukul  15.00 lebih saat aku melirik kea rah jam tanganku. Aku harus segera pulang, karena pukul 16.00 aku harus mengisi les di Omega Excel. Bisa dibayangkan badanku remuk sekali seharian berkelana dan rindu dengan empuknya kasur dan bantalku di kamar.
Oke pukul 20.00 aku pulang ke rumah. Tapi tak semudah itu. Bahkan aku mau cepat sampai di rumah dan menikmati mimpi indahku pun terusik oleh mobil Tronton (truk gandeng) yang macet di tengah jalan. Bapak polisi mengarahkan semua yang akan melewati jalan tersebut untuk berbalik arah dan mencari jalan alteratif. Okelah karena tak tahu jalan, aku pun mengekor rombongan yang sama-sama menuju arah Lodoyo. Banyak belokan, aku tak tau itu jalan yang tembusannya di mana. Karena malam dan gelap lagi-lagi aku seperti orang hilang di tengah jalan. Tapi tak lama kemudian aku menemukan jalan pulang kea rah rumahku.
Sebelum melanjutkan perjalan, aku mampir ke pom untuk mengisi bensin.. Errrrrrrr… mataku sembab karena kecapekan. Kepalaku pusing karena sedari pagi tali rambut dan jilbabku menekan rambut dan kepalaku.
“Isi berapa Mbak?” Tanya mas petugas pom dengan ramah. Kupanggila mask arena masih muda.
“Full Mas.” Jawabku sambil mengantuk. Nah petugas tersebut Tanya-tanya melulu, sehingga kedua petugas sam-sama teledor dan lupa total bensin yang aku harus bayar. Akhirnya petugas tersebut mengira-ngira jumlah uang kembalian yang diberikan padaku. Setelah aku hitung ulang di rumah, ternyata aku masih untung. Lumayanlah..Hohohohooo… Alhamdulillah..
Sesampainya di rumah badan terasa remuk, terkapar di atas ranjang yang empuk. Benar-benar empuk. HHmmmmm…. Nikmatnya bersantai setelah lelah melakukan aktivitas seharian.
Saat mengingat perjalananku sehari tersebut, aku merasa seperti tokoh dalam cerita yang ada dalam televisi. Menjadi sosok pendidik yang mengabdi di daerah-daerah terpencil di wilayah Indonesia seperti dalam film Laskar Pelangi. Namun ini terjadi di dekat daerahku sendiri. Tekstur pegunungan yang masih asri dan alami dapat dilihat menjulang di antara jalan berliku. Benar-benar sesuatu yang menenankan hati. Semoga di hari kedepan akan lebaih baik, baik, baik, baik lagi dari hari kemarin.
NB: Keaadaan jalan yang terdapat di daerah Ngadipuro seharusnya segera dilakukan perbaikan jalan. Sehingga seluruh pihak akan menikmati kenyamanan saat berkendara.

Kejadian pada Kamis, 14 Maret 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka dalam Rumah Tangga

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Hallloooo... selamat tahun baru 2021 semuanyaa.. semoga segala sesuatunya akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.  Sudah 3 tahun blog ini tidak pernah terisi karena yang punya malas akut buat nulis.. Selama 3 tahun itu banyak kisah yang terlewati, baik suka maupun duka. Apa kabar buah si dedek yang kami?? Alhamdulillah dedek yang kita nanti sudah lahir, cowok... sekarang usianya 3 tahun lebih 2 bulan. Sudah aktif sekali tidak bisa diam. Bisa dibilang hiperaktif😂 Sudah 5 tahun berlalu semenjak pernikahan ini, dan cobaan pun melanda. Yang dikatakan orang dalam usia pernikahan 5 tahun pertama, rumah tangga akan diuji. Dannn itu pun terjadi pada kami... Doain ya semoga kami bisa melewatinya dan akan tetap menjadi keluarga yang solid. Aamiin. Intinya pihak ketiga datang saat kami dalam keadaan jenuh...  Salah satu apk telah membuat candu untuk selalu berselancar dalam dunia halu. Hingga akhirnya aku dan suami bertengkar he...

JOGJA, TERUKIR CERITA SAATKU BERSAMAMU

"Monggo Pak" sapa Intan dengan sopan kepada bapak satpam di hotel itu. Lalu ia menuju pintu keluar menuju ke pinggir jalan dan menengok ke arah jalan. Rupanya ia mencari seseorang yang sudah berjanjian dengannya untuk bertemu. Ia melayangkan pandang ke seluruh arah jalan yang ada di depannya, hingga ia menemukan seorang pria yang sedang asyik duduk di atas sepeda motornya dengan memainkan hpnya. Karena belum yakin dengan dugaannya, Intan memandangnya lama dengan harapan pria itu melambaikan tangannya. Dan benar sekali pria itu segera melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya. Intan pun segera menghampirinya. Sesaat mereka berdua saling pandang dan tersenyum kemudian bersalaman. "Ehmm.. udah lama ya Mas nunggunya? Maaf tadi masih nunggu teman sekamar." Intan mengawali obrolan dengan rasa malu. "Iya ndak papa Mbak. Loh kamu ini ada acara apa to di hotel ini? Kok sampek lama seminggu. Itu acaranya ngapain aja?" Pria yang bernama Zaki itu bertanya deng...

Esai Gunung Kemukus

                            PUNCAK GUNUNG KEMUKUS YANG PENUH CERITA                                                              Oleh Siti Nurhasanah                    Mencengangkan bagi yang belum pernah mengetahuinya. Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Ka...