Ini nyata. Rasa empaty yang sangat rentan terhadap seseorang saat bersedih atau situasi yang menyedihkan. Rasanya terbangun dari mimpi buruk. Terhentak tiba-tiba pada memori yang tak mudah untuk terlupa.
Masih teringat jelas isak tangis di sisi lain hati sedang menahan rasa sakit yang seolah menghujam berkali-kali.
Ketika sudah tak mampu lagi tuk menahan dan menyimpan duka seorang diri.
Mulut tak dapat lagi menutup erat untuk menunjukkan tidak ada apa-apa yang terjadi.
Pengalihan atas kesedihan yang terwujud diam akhirnya tak terbendung lagi dan tumpah air mata yang berlinang keluar dari kedua sudut mata yang mulai memerah.
Dekapan yang erat pada pundak sahabat saat itu sangat melegakan. Kata-kata tak mampu terucap, hanya isak tangis beberapa menit yang berlalu.
Terima kasih cinta. Karenamu aku tahu rasanya kehilangan, rasanya sedih yang amat pedih, rasa sakit saat menolak untuk mengingat semua yang telah berlalu, rasa sendirian tanpa ada lagi sapa mesra, dan rasanya dekapan sahabat yang hangat menenangkan. Terima kasih sahabatku Coulina Dike Virginis Sholikha. Kini kau telah bahagia atas kesuksesanmu dengan gelar sarjanamu. Selamat ya... aku turut berbahagia.
Komentar
Posting Komentar