Edisi pengen nulis di blog ini lagi sebagai pertanda bahwa masih ada kehidupan kok di sini.
Banyak kisah yang belum tertulis karena sibuk ini dan itu, alahhh sok sibuk yang bener. π
Ini ceritanya mau ngomongin perasaan menanti si dedek utun yang di dalem perut. Sebagai calon ibu untuk anak pertama ini sangat luar biasa. Bagi ibu yang sudah menanti kelahiran anaknya untuk kesekian kalinya beda lah ya.
Ceritanya mundur sedikit dari awal setelah menikah, kita... maksudnya aku, minta sama suami untuk menunda dulu memiliki momongan. Loh kok aneh? Ya tiap pasangan beda-beda dong rencananya dalam menjalani rumah tangganya. Bukan apa-apa, aku pikir karena kami masih long distance relationship / LDR Blitar-Malang. Akunya yang belum rela melepaskan pekerjaan di ketiga tempat sekaligus yang setiap harinya mewajibkanku untuk menyusuri jalan aspal dengan kuda besiku.
***
Perjuangan pengen hamil.
Ketika aku menulis ini, usia pernikahan kami sudah hampir 2 tahun, di bulan kelahiranku, bulan September, bulan Besar, beberapa hari sebelum hari Raya Idul Adha tahun 2015, 1 tahun 10 bulan yang lalu. Februari 2016 kami memutuskan untuk program, bismillah.
Kukira semudah membalikkan telapak tangan untuk menghendaki kehamilan dalam perut ini. Ternyata tidak, mungkin Allah murka karena aku terlalu sombong untuk menolak dan menunda segera mendapatkan momongan. Sebelas bulan kami mencoba beberapa cara dari jamu tradisional, madu kurma, mempelajari menghitung masa subur dan ovulasi, posisi hubungan, membaca bermacam artikel tentang program hamil, hingga terakhir kami mencoba program di dokter kandungan dengan saran salah satu teman, karena programnya sudah berhasil. Nahhh jadi kepikiran kok belum isi juga ya, ada rasa takut menjalar dalam tubuhku. Jangan-jangan... ada kelainan dalam rahim, ada kista, miom atau virus yang mengganggu rahimku. Akhirnya kuputuskan datang ke sebuah rumah sakit tempat dokter kandungan tersebut praktik dengan minta anterin suami. π
Masih ingat pagi itu tanggal 22 Desember 2016 kami daftar di rumah sakit itu. Sampai parkiran sudah deg-deg serrrr hati ini, langsung kami masuk rumah sakit menuju meja resepsionis yang tak jauh dari parkiran. Jenggg-jeeeeeeenngg... kami pun langsung menyatakan maksud kami, petugasnya menjelaskan tentang gangguan yang mungkin timbul pada rahim calon ibu. Blaaa... blaaaaa... kami cuma bengong dan makin takut. "Apa ibu sudah pernah melakukan Ultrasonography (USG)?" Kami menggelengkan kepala. Mereka melanjutkan penjelasan mereka yang tidak bisa kupahami karena banyak menggunakan istilah kedokteran yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Terus salah satu petugas mengantar kami daftar di resepsionis depan, tempat dokternya peaktik. (Ealaaahhh dalaahhh, salah tempat to ini tadi tanya-tanyanya?" Ketawa dalam hati sambil mengikuti petugas dari belakang.
Tiba di resepsionis depan sudah banyak ibu-ibu dengan perut buncitnya, ada juga beberapa calon bapak yang menemani di sampingnya. Selesai daftar, cek tensi, berat badan, dan mendapat kartu member pelayanan rumah sakit tersebut, aku pun ikut antre seperti yqng lain. Pukul sebelas antre dan pukul 14.00 baru masuk ruang. Beberapa saat kntong rahimku muncul di layar, bersih dan kata dokter rahimnya bersih, tidak ada kelainan dan siap untuk tempat nempelnya si calon janin. Alhamdulillah ayah dan bunda girang dong yaaa.... Hihihiii π
Selesai periksa kita menuju kasir dan menebus resep vitamin untuk kami minum sebagai pelancar usaha kami. Untukku 2 kaplet vitamin E merk Shanta-E dan umtuk suami pun w kaplet vitamin merk apa lupa, folavit mungkin.
Bulan Januari vitamin tinggal separuh, dan aku haid. Penonton kecewa, dan kita yang seharusnya balik lagi ke dokter haid hari kedua. Kami memutuskan tidak kembali karena saya takut diperiksa dari dalam. Akhirnya kuputuskan mengahabiskan setengah vitamin tadi dengan harapan semoga bulan depan sudah terlambat datang bulan.
***
Penantian itu tiba.
Bulan sudah menunjukkan Februari awal, harap-harap cemas dan harapan untuk terlambat datang bulan muncul kembali, sepulang kerja tiba-tiba pengen mampir ke apotek untuk beli madu kurma TJ dan alat test pack. Sesampainya di rumah langsung buka aplikasi My Calender dan harusnya besok sudah telat 1 hari nih. Nah karena siklus haidku selalu tepat waktu 28 hari, girang bangetlah telat sehari aja. Besoknya pas mau mandi iseng-iseng tes. Masih teringat jelas hari itu hari Jumat, 3 Februari 2017. Hasil test packnya 2 garis, yang satu garisnya masih remang-remang hampir tidak terlihat. Aku terdiam, rasanya ndak percaya, semakin melototin semakin ndak percaya. Tiba-tiba lebayku datang, air mata netes dahhh... Haduhhhh... Buru-buru ambil HP dan mau ngasih kejutan suami, ternyata sananya sudah ada feeling kali ya, tebakannya benar. "Garis merah dua kan?"
Mulai saat itu hari-hari rasanya berjalan dengan pelan, menanti saat gari merah semakin jelas, menanti kapan mau periksa pasca hamil dan berhati-hati sekali setiap melakukan aktivitas apa pun. Semua terasa berbeda, setiap saat bisa tersenyum sendiri menikmati hari demi hari itu. Mulai merasa mual, sering bolak balik ke kamar mandi karena frekuensi buang air kecil yang lebih sering dari biasanya. Pergi ke toko, membeli susu kehamilan itu pun masih hal yang canggung kulakukan. Aaaaahhhhh.... aku berpikir apakah semua calon ibu hamil pertama juga sepertiku?
***
Periksa perdana pasca hamil.
Jumat, 17 Februari 2017 aku ngajak suami periksa ke dokter untuk memastikan kehamilanku, ucapan selamat disampaikan oleh resepsionis dan yang selanjutnya dikuatkan oleh ucapan selamat dari dokter sendiri. Saat itu usia kehamilan 5minggu1hari. kantong calon tumbuh janin sudah terlihat dan alhamdulillah normal tumbuh dalam rahim.
Sabtu, 15 April 2017 alhamdulillah sampai usia janin 3,5 bulan. Diadakan acara 3 bulanan semoga adek dalam perut selalu sehat dan pinter. Alhamdulillah pada kehamilan pertama ini aku tetap bisa aktivitas lancar dan tanpa keluhan trimester pertama yang menyiksa. Tetep bisa makan enak dan banyak. Tidak ada istilah turun berat badan di awal kehamilan. Alamak..... Siap-siap badan mengembang.
Malam sepulang dari kota, aku mampir ke bidan desa untuk periksa dan meminta buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), buku petunjuk seputar kehamilan dan perkembangan anak.
Minggu demi minggu terlewati dan masuk trimester kedua. Senengnya... Di sini aku penasaran kapan ya bisa merasakan tendangan halus dedek? Perut juga sudah mulai menonjol, tapi belum terlalu terlihat karena perutku yang gembul.
***
Periksa kedua pasca hamil.
Senin, 15 Mei 2017, aku ngajak suami periksa ke dokter. Hasil USG semuanya normal, Di layar aku pertama melihat wujud dedek yang sudah berbentuk. Dokter menunjukkan dan menjelaskan satu persatu mulai dari posisi kepala, cairan otak besar, cairan otak kecil, tangan kanan, tangan kiri, jantung, kaki kanan dan kaki kirinya, bahkan yang membuat terkejut, kami berdua dapat bonus bocoran jenis kelaminnya. Subhanallah, yang bikin aku terharu saat pertama kali dengar detak jantungmu, Dek. Saat itu usia kehamilan 19minggu3hari.
***
Bulan ramadhan kuat puasa nggak ya?
Memasuki usia kehamilan 4,5 bulan kebetulan bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Sempat cemas karena kategoriku masuk doyan makan dan pagi pasti perut sudah melilit kalau tidak segera dimasuki makanan. Tapi alhamdulillah dedek pinter, mau diajak kerjasama dan akhirnya loloslah kekhawatiran itu hingga akhir bulan.
Sekarang di usia kehamilan 26minggu5hari ini berat badanku sudah naik 7,5 kg. Wahhh mau tambah berapa kg lagi, Dek? ππ
Penasaran pengen nengok adek lagi, tapi masih nunggu akhir bulan setelah adek acara 7 bulanan. Sudah berapa beratmu nanti ya, Dek? Kita sama-sama nunggu akhir bulan ya, Dek. Sekarang sementara adek nyapa bunda dengan tendangan-tendangan yang sering saja bunda sudah seneng banget. We Love You, π
Banyak kisah yang belum tertulis karena sibuk ini dan itu, alahhh sok sibuk yang bener. π
Ini ceritanya mau ngomongin perasaan menanti si dedek utun yang di dalem perut. Sebagai calon ibu untuk anak pertama ini sangat luar biasa. Bagi ibu yang sudah menanti kelahiran anaknya untuk kesekian kalinya beda lah ya.
Ceritanya mundur sedikit dari awal setelah menikah, kita... maksudnya aku, minta sama suami untuk menunda dulu memiliki momongan. Loh kok aneh? Ya tiap pasangan beda-beda dong rencananya dalam menjalani rumah tangganya. Bukan apa-apa, aku pikir karena kami masih long distance relationship / LDR Blitar-Malang. Akunya yang belum rela melepaskan pekerjaan di ketiga tempat sekaligus yang setiap harinya mewajibkanku untuk menyusuri jalan aspal dengan kuda besiku.
***
Perjuangan pengen hamil.
Ketika aku menulis ini, usia pernikahan kami sudah hampir 2 tahun, di bulan kelahiranku, bulan September, bulan Besar, beberapa hari sebelum hari Raya Idul Adha tahun 2015, 1 tahun 10 bulan yang lalu. Februari 2016 kami memutuskan untuk program, bismillah.
Kukira semudah membalikkan telapak tangan untuk menghendaki kehamilan dalam perut ini. Ternyata tidak, mungkin Allah murka karena aku terlalu sombong untuk menolak dan menunda segera mendapatkan momongan. Sebelas bulan kami mencoba beberapa cara dari jamu tradisional, madu kurma, mempelajari menghitung masa subur dan ovulasi, posisi hubungan, membaca bermacam artikel tentang program hamil, hingga terakhir kami mencoba program di dokter kandungan dengan saran salah satu teman, karena programnya sudah berhasil. Nahhh jadi kepikiran kok belum isi juga ya, ada rasa takut menjalar dalam tubuhku. Jangan-jangan... ada kelainan dalam rahim, ada kista, miom atau virus yang mengganggu rahimku. Akhirnya kuputuskan datang ke sebuah rumah sakit tempat dokter kandungan tersebut praktik dengan minta anterin suami. π
Masih ingat pagi itu tanggal 22 Desember 2016 kami daftar di rumah sakit itu. Sampai parkiran sudah deg-deg serrrr hati ini, langsung kami masuk rumah sakit menuju meja resepsionis yang tak jauh dari parkiran. Jenggg-jeeeeeeenngg... kami pun langsung menyatakan maksud kami, petugasnya menjelaskan tentang gangguan yang mungkin timbul pada rahim calon ibu. Blaaa... blaaaaa... kami cuma bengong dan makin takut. "Apa ibu sudah pernah melakukan Ultrasonography (USG)?" Kami menggelengkan kepala. Mereka melanjutkan penjelasan mereka yang tidak bisa kupahami karena banyak menggunakan istilah kedokteran yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Terus salah satu petugas mengantar kami daftar di resepsionis depan, tempat dokternya peaktik. (Ealaaahhh dalaahhh, salah tempat to ini tadi tanya-tanyanya?" Ketawa dalam hati sambil mengikuti petugas dari belakang.
Tiba di resepsionis depan sudah banyak ibu-ibu dengan perut buncitnya, ada juga beberapa calon bapak yang menemani di sampingnya. Selesai daftar, cek tensi, berat badan, dan mendapat kartu member pelayanan rumah sakit tersebut, aku pun ikut antre seperti yqng lain. Pukul sebelas antre dan pukul 14.00 baru masuk ruang. Beberapa saat kntong rahimku muncul di layar, bersih dan kata dokter rahimnya bersih, tidak ada kelainan dan siap untuk tempat nempelnya si calon janin. Alhamdulillah ayah dan bunda girang dong yaaa.... Hihihiii π
Selesai periksa kita menuju kasir dan menebus resep vitamin untuk kami minum sebagai pelancar usaha kami. Untukku 2 kaplet vitamin E merk Shanta-E dan umtuk suami pun w kaplet vitamin merk apa lupa, folavit mungkin.
Bulan Januari vitamin tinggal separuh, dan aku haid. Penonton kecewa, dan kita yang seharusnya balik lagi ke dokter haid hari kedua. Kami memutuskan tidak kembali karena saya takut diperiksa dari dalam. Akhirnya kuputuskan mengahabiskan setengah vitamin tadi dengan harapan semoga bulan depan sudah terlambat datang bulan.
***
Penantian itu tiba.
Bulan sudah menunjukkan Februari awal, harap-harap cemas dan harapan untuk terlambat datang bulan muncul kembali, sepulang kerja tiba-tiba pengen mampir ke apotek untuk beli madu kurma TJ dan alat test pack. Sesampainya di rumah langsung buka aplikasi My Calender dan harusnya besok sudah telat 1 hari nih. Nah karena siklus haidku selalu tepat waktu 28 hari, girang bangetlah telat sehari aja. Besoknya pas mau mandi iseng-iseng tes. Masih teringat jelas hari itu hari Jumat, 3 Februari 2017. Hasil test packnya 2 garis, yang satu garisnya masih remang-remang hampir tidak terlihat. Aku terdiam, rasanya ndak percaya, semakin melototin semakin ndak percaya. Tiba-tiba lebayku datang, air mata netes dahhh... Haduhhhh... Buru-buru ambil HP dan mau ngasih kejutan suami, ternyata sananya sudah ada feeling kali ya, tebakannya benar. "Garis merah dua kan?"
Mulai saat itu hari-hari rasanya berjalan dengan pelan, menanti saat gari merah semakin jelas, menanti kapan mau periksa pasca hamil dan berhati-hati sekali setiap melakukan aktivitas apa pun. Semua terasa berbeda, setiap saat bisa tersenyum sendiri menikmati hari demi hari itu. Mulai merasa mual, sering bolak balik ke kamar mandi karena frekuensi buang air kecil yang lebih sering dari biasanya. Pergi ke toko, membeli susu kehamilan itu pun masih hal yang canggung kulakukan. Aaaaahhhhh.... aku berpikir apakah semua calon ibu hamil pertama juga sepertiku?
***
Periksa perdana pasca hamil.
Jumat, 17 Februari 2017 aku ngajak suami periksa ke dokter untuk memastikan kehamilanku, ucapan selamat disampaikan oleh resepsionis dan yang selanjutnya dikuatkan oleh ucapan selamat dari dokter sendiri. Saat itu usia kehamilan 5minggu1hari. kantong calon tumbuh janin sudah terlihat dan alhamdulillah normal tumbuh dalam rahim.
Sabtu, 15 April 2017 alhamdulillah sampai usia janin 3,5 bulan. Diadakan acara 3 bulanan semoga adek dalam perut selalu sehat dan pinter. Alhamdulillah pada kehamilan pertama ini aku tetap bisa aktivitas lancar dan tanpa keluhan trimester pertama yang menyiksa. Tetep bisa makan enak dan banyak. Tidak ada istilah turun berat badan di awal kehamilan. Alamak..... Siap-siap badan mengembang.
Malam sepulang dari kota, aku mampir ke bidan desa untuk periksa dan meminta buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), buku petunjuk seputar kehamilan dan perkembangan anak.
Minggu demi minggu terlewati dan masuk trimester kedua. Senengnya... Di sini aku penasaran kapan ya bisa merasakan tendangan halus dedek? Perut juga sudah mulai menonjol, tapi belum terlalu terlihat karena perutku yang gembul.
***
Periksa kedua pasca hamil.
Senin, 15 Mei 2017, aku ngajak suami periksa ke dokter. Hasil USG semuanya normal, Di layar aku pertama melihat wujud dedek yang sudah berbentuk. Dokter menunjukkan dan menjelaskan satu persatu mulai dari posisi kepala, cairan otak besar, cairan otak kecil, tangan kanan, tangan kiri, jantung, kaki kanan dan kaki kirinya, bahkan yang membuat terkejut, kami berdua dapat bonus bocoran jenis kelaminnya. Subhanallah, yang bikin aku terharu saat pertama kali dengar detak jantungmu, Dek. Saat itu usia kehamilan 19minggu3hari.
***
Bulan ramadhan kuat puasa nggak ya?
Memasuki usia kehamilan 4,5 bulan kebetulan bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Sempat cemas karena kategoriku masuk doyan makan dan pagi pasti perut sudah melilit kalau tidak segera dimasuki makanan. Tapi alhamdulillah dedek pinter, mau diajak kerjasama dan akhirnya loloslah kekhawatiran itu hingga akhir bulan.
Sekarang di usia kehamilan 26minggu5hari ini berat badanku sudah naik 7,5 kg. Wahhh mau tambah berapa kg lagi, Dek? ππ
Penasaran pengen nengok adek lagi, tapi masih nunggu akhir bulan setelah adek acara 7 bulanan. Sudah berapa beratmu nanti ya, Dek? Kita sama-sama nunggu akhir bulan ya, Dek. Sekarang sementara adek nyapa bunda dengan tendangan-tendangan yang sering saja bunda sudah seneng banget. We Love You, π


Komentar
Posting Komentar