Ini adalah cerita Ana dan tetek bengek adat jawa yang membuat ia dan seorang laki-laki yang ia kasihi ke dalam situasi yang rumit. Niat awal mau bersikap masa bodoh dengan hal itu, akan tetapi tak semudah niatan hatinya.
Ya... Ini adalah kisah cinta yang kandas (kembali), setelah mencoba membangunnya dengan sangat hati-hati. Niatan positif thingking dan saling menguatkan satu sama lain akhirnya seperti dua tali tak berujung.
Cerita ini berawal bulan Maret akhir 2015. Ia sedang dalam keadaan berkabung dan kebetulan ada teman yang berniat baik untuk mengenalkan dengan kerabatnya. Ia pun menyambut baik niat temannya itu, ia pikir tidak ada salahnya, siapa tau laki-laki yang temannya kenalkan adalah jodohnya
Cerita ini berlanjut, hingga ia berkenalan dengan laki-laki tersebut. Namanya adalah Saif M. Hari-harinys yang kosong diisi oleh laki-laki kelahiran 1890 itu. Ia mulai bisa tersenyum dan mengurai kesedihan yang ia rasakan dengan perlahan. Alhamdulillah... Laki-laki itu adalah sesosok pria sederhana khas pondok yang pemalu, yang pasif dan lugu. Laki-laki itu pandai, kreatif. Itu kesan pertama saat berkenalan dengannya dan menjadi pertimbangan untuk melanjutkan perkenalan. Sedikit in tanyakan kepada temannya tentang keluarganya.
Ia empat bersaudara. Dan ia anak terakhir. Keempat kakaknya perempuan semua dan masing-masing sudah berkelurga. Ia hidup berdua dengan ibunya. Karena semua kakaknya hidup bersama suaminya. Bapaknya sudah tiada tahun 2014 lalu. Ia kuliah semester dua karena wasiat bapaknya sebelum meninggal.
Rasa penasaran dan keinginan lebih mengenal sosoknya membuat Ana semakin menaruh simpati kepada Saif. Lambat laun keakraban Ana dengan Saif semakin erat. Hingga mereka berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius. Hingga mereka memutusktan untuk bertemu.
Pertemuan pertama tidak diduga oleh keduanya. Mereka mengadakan janji bertemu, tentu saja Saif ingin berkunjung ke rumah Ana dan mereka ke Kampung Coklat. Kampung Coklat adalah suatu tempat seperti cafe, yang di sela-sela tempat duduknya terdapat kebun coklat. Tempat ini terletak di Plosorejo, Kademangan.
Hari itu tepatnya Minggu, 26 April 2015. Mereka memastikan rencana pertemuan itu, namun sialnya cuaca tak mendukung. Langit gelap tertutup awan. Kompak sekali kedua kota mereka. Ana tinggal di Blitar dan Saif tinggal di Malang.
Kecewa. Yaaa... Mereka berdua kecewa karena tak jadi bertemu pagi itu, hingga Saif menelpon Ana untuk mengobati rasa kecewa mereka berdua. Mereka karaoke bersama saat bertelepon. Hingga Ana iseng menawari Saif main ke rumahnya. Tanpa disangka Saif nekat berangkat, padahal hari sudah sore dan ia tak tahu jalan.
Akhirnya mereka bertemu. Pertemuan pertama di sebuah tempat fotokopi di Lodoyo sampai menjelang maghrib. Sekilas namun hati lega karena sudah bertemu. Karena tujuan Kampung Coklat gagal, akhirnya hari Jumatnya mereka ke sana.
Ana dan Saif memperkenalkan masing-masing keluarganya, mereka saling bergantian berkunjung ke rumah masing-masing secara bergantian saat ada waktu luang. Semakin dekat dan mengarah ke inti hubungan yang mereka jalani.
Namun saat hari raya Idul Fitri, semua berubah. Dari orangtua Ana yang awalnya diam saja seperti menyetujui hubungan mereka, saat hari raya keenam menanyakan sedetail-detailnya hubungan mereka berdua dan silsilah jawa yang harus jadi patokan saat dua insan ingin melangsungkan pernikahan.
Ya... Jumlah neptu calon kedua mempelai, keberdaan kedua orangtua dan arah. Disitulah hubungan mereka mengalami masalah yang sangat pelik. Lagi-lagi karena adat istiadat jawa yang melekat pada keluarga Ana tidak bisa diganggu gugat.
Keluarga Saif sudah yakin dan pada yang telah direncanakan, bersama keluarga akan datang ke rumah Ana untuk melamar. Akan tetapi rencana itu pupus dan berubah dengan linangan air mata. Ana sangat sedih karena tak bisa membalas nasihat orang tuanya.
Berita itu sampai di keluarga Saif, Ana semakin sedih meskipun Saif sudah bersikap sangat tegar di depan Ana. Ia hanya bisa menangis dan mengusap air matanya di antara kelopak matanya yang bengkak. Ia tak sanggup membayangkan betapa sedihnya, marahnya, terpukulnya keluarga Saif karena dirinya.
Sekarang mereka hanya bisa saling menyemangati untuk kembali bangkit dari masalah ini. Mengikat janji agar tetap saling mendukung satu sama lain agar tidak bersedih.
Cinta tak harus memiliki. Jika cinta itu tulus, ia pasti akan merelakan orang yang ia cintai bahagia meski tidak bersamanya. Namun itu tak semudah kata-kata semata. Hanya orang yang berhati lapang yang bisa ikhlas dengan keadaan ini.
Yang utama adalah harus tetap belajar ikhlas, merelakan apa yang memang hanya titipan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan, suatu saat kita sendirian dan hanya ditemani oleh amal ibadah kita selama di dunia dan meninggalkan segala harta benda serta Saudara.
Ya... Ini adalah kisah cinta yang kandas (kembali), setelah mencoba membangunnya dengan sangat hati-hati. Niatan positif thingking dan saling menguatkan satu sama lain akhirnya seperti dua tali tak berujung.
Cerita ini berawal bulan Maret akhir 2015. Ia sedang dalam keadaan berkabung dan kebetulan ada teman yang berniat baik untuk mengenalkan dengan kerabatnya. Ia pun menyambut baik niat temannya itu, ia pikir tidak ada salahnya, siapa tau laki-laki yang temannya kenalkan adalah jodohnya
Cerita ini berlanjut, hingga ia berkenalan dengan laki-laki tersebut. Namanya adalah Saif M. Hari-harinys yang kosong diisi oleh laki-laki kelahiran 1890 itu. Ia mulai bisa tersenyum dan mengurai kesedihan yang ia rasakan dengan perlahan. Alhamdulillah... Laki-laki itu adalah sesosok pria sederhana khas pondok yang pemalu, yang pasif dan lugu. Laki-laki itu pandai, kreatif. Itu kesan pertama saat berkenalan dengannya dan menjadi pertimbangan untuk melanjutkan perkenalan. Sedikit in tanyakan kepada temannya tentang keluarganya.
Ia empat bersaudara. Dan ia anak terakhir. Keempat kakaknya perempuan semua dan masing-masing sudah berkelurga. Ia hidup berdua dengan ibunya. Karena semua kakaknya hidup bersama suaminya. Bapaknya sudah tiada tahun 2014 lalu. Ia kuliah semester dua karena wasiat bapaknya sebelum meninggal.
Rasa penasaran dan keinginan lebih mengenal sosoknya membuat Ana semakin menaruh simpati kepada Saif. Lambat laun keakraban Ana dengan Saif semakin erat. Hingga mereka berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius. Hingga mereka memutusktan untuk bertemu.
Pertemuan pertama tidak diduga oleh keduanya. Mereka mengadakan janji bertemu, tentu saja Saif ingin berkunjung ke rumah Ana dan mereka ke Kampung Coklat. Kampung Coklat adalah suatu tempat seperti cafe, yang di sela-sela tempat duduknya terdapat kebun coklat. Tempat ini terletak di Plosorejo, Kademangan.
Hari itu tepatnya Minggu, 26 April 2015. Mereka memastikan rencana pertemuan itu, namun sialnya cuaca tak mendukung. Langit gelap tertutup awan. Kompak sekali kedua kota mereka. Ana tinggal di Blitar dan Saif tinggal di Malang.
Kecewa. Yaaa... Mereka berdua kecewa karena tak jadi bertemu pagi itu, hingga Saif menelpon Ana untuk mengobati rasa kecewa mereka berdua. Mereka karaoke bersama saat bertelepon. Hingga Ana iseng menawari Saif main ke rumahnya. Tanpa disangka Saif nekat berangkat, padahal hari sudah sore dan ia tak tahu jalan.
Akhirnya mereka bertemu. Pertemuan pertama di sebuah tempat fotokopi di Lodoyo sampai menjelang maghrib. Sekilas namun hati lega karena sudah bertemu. Karena tujuan Kampung Coklat gagal, akhirnya hari Jumatnya mereka ke sana.
Ana dan Saif memperkenalkan masing-masing keluarganya, mereka saling bergantian berkunjung ke rumah masing-masing secara bergantian saat ada waktu luang. Semakin dekat dan mengarah ke inti hubungan yang mereka jalani.
Namun saat hari raya Idul Fitri, semua berubah. Dari orangtua Ana yang awalnya diam saja seperti menyetujui hubungan mereka, saat hari raya keenam menanyakan sedetail-detailnya hubungan mereka berdua dan silsilah jawa yang harus jadi patokan saat dua insan ingin melangsungkan pernikahan.
Ya... Jumlah neptu calon kedua mempelai, keberdaan kedua orangtua dan arah. Disitulah hubungan mereka mengalami masalah yang sangat pelik. Lagi-lagi karena adat istiadat jawa yang melekat pada keluarga Ana tidak bisa diganggu gugat.
Keluarga Saif sudah yakin dan pada yang telah direncanakan, bersama keluarga akan datang ke rumah Ana untuk melamar. Akan tetapi rencana itu pupus dan berubah dengan linangan air mata. Ana sangat sedih karena tak bisa membalas nasihat orang tuanya.
Berita itu sampai di keluarga Saif, Ana semakin sedih meskipun Saif sudah bersikap sangat tegar di depan Ana. Ia hanya bisa menangis dan mengusap air matanya di antara kelopak matanya yang bengkak. Ia tak sanggup membayangkan betapa sedihnya, marahnya, terpukulnya keluarga Saif karena dirinya.
Sekarang mereka hanya bisa saling menyemangati untuk kembali bangkit dari masalah ini. Mengikat janji agar tetap saling mendukung satu sama lain agar tidak bersedih.
Cinta tak harus memiliki. Jika cinta itu tulus, ia pasti akan merelakan orang yang ia cintai bahagia meski tidak bersamanya. Namun itu tak semudah kata-kata semata. Hanya orang yang berhati lapang yang bisa ikhlas dengan keadaan ini.
Yang utama adalah harus tetap belajar ikhlas, merelakan apa yang memang hanya titipan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan, suatu saat kita sendirian dan hanya ditemani oleh amal ibadah kita selama di dunia dan meninggalkan segala harta benda serta Saudara.
Komentar
Posting Komentar