Dua tahun
cintaku tertutup dengan amarah. Menutup diri dari segala urusan yang disebut
cinta dan laki-laki. Menganggap semua adalah sama, tanpa rasa. Saat-saat itu
terasa baik-baik saja pada awalnya, namun lama-kelamaan terasa ada yang kurang
juga dalam cerita hidupku.
Rasa
itu membuat diri ini berpikir untuk mencoba membuka celah di hati. Mencoba
mengenal dan dekat dengan laki-laki. Kurasa waktu yang kuputuskan untuk sendiri
alias menjomblo sudah saatnya diakhiri. Hehehe… mungkin memang seharusnya
begitu.
Cerita
ini tentang seseorang, yang belum lama kukenal, yang sehari-hari mengisi lembar
kosong yang sempat terabaikan. Tepat
pada tanggal 7 Juni 2014 pada pukul 19.18 WIB ia menyapaku di whatsapp,
memperkenalkan dirinya sebagai temannya temanku saat di bangku SMA. Karena
jelas asalnya, kupikir untuk membalas pesannya. Biasa dalam perkenalan pasti
membahas seputar nama dan alamat, ditambah lagi mengorek cerita bagaimana
sampai bisa no.HPku jatuh ditangannya. Obrolan itu berlanjut sampai malam,
diselingi bercandaan yang membuat senyumku selalu mengembang membaca
ketikannya. Sampai akhirnya obrolan itu usai pada pukul 23.41 WIB.
Hari
selanjutnya kita saling sapa, sekedar mengucap selamat pagi dan ucapan semangat
untuk meniti hari. Bahas motor, motoGP, cilok, olahraga, mie ayam, bakso, sampai film. Ia pernah mengirim fotonya saat
bersama dengan teman-temannya, aku disuruh
menebak dan memilih mana foto dia
saat masih muda. Hahahahaa.. Apes banget, nebak 2x salah semua, traktiran mie
ayam melambaikan tangan deh. Jelas saja 180˚ bentuk badannya sudah berubah gitu.
Peace TOm Tono.. :-D
Hari
berikutnya, Sabtu, 14 Juni kita iseng-iseng merencanakan ketemuan. Sudah lama
tak pernah bertemu dengan seorang laki-laki di sebuah café, gimana rasanya ya?
Biasa yang dibahas selalu bingung dengan di mana tempat ketemuannya. Akhirnya
obrolan terputus karena kerjaan yang sudah menanti. Aku sekilas berfikir dan
tersenyum saat mengingat rencana siang itu dan kulanjutkan rutinitasku.
**Centung…
Pesan
whatsapp dari Tono, kulihat sekilas dan kuputuskan untuk menjawab “iya
mbak”. Tentu saja konyol, masak dia aku panggil dengan sapaan “Mbak”.
Wakakakakkk…. Tema masih seputar tempat. Tapi akhirnya deal ketemunya di café timur perempatan Kanigoro. Sebelum
berangkat, dia menelpon untuk memastikan apa benar jadi bertemu. Beberapa saat
setelah itu aku bersiap-siap dan berangkat ke Cleo Café.
Beberapa
saat kita bertemu. Obrolan dengan tema A-Z keluar, sampai tak sadar waktu sudah
lewat pukul 21.00 malam. Kita berpisah dan berjabat tangan. Aku langsung tarik
gas pol karena takut kemalaman. Hiihihihii…. Malamnya masih disambung ngobrol
di telepon sampe pukul 00.00 WIB. Obrolan dilanjut lewat whatsapp dan saat itu
ia untuk pertama kalinya meninggalkan percakapan denganku karena alas an tertidur.
ZzZZZZz…
16
Juni, Kita pun bertemu kembali. Janjian di depan pabrik tempat kerjanya dan
nongkrong di “Matoa Café”. Hari berikutnya dia cerita hal konyol yang barusaja
dia alami. Katanya dia salah baju seragam pas masuk kerja, lucunya dia pun
bilang kalo hal itu karena tema pembicaraan kita kemarin malam mengenai photo profil
whatsapp hahahahahaha… Keisengan demi keisengan pun muncul karena dia lucu dan sering
membuatku tertawa.
Karena
dia fleksibel dan humoris. Lama-lama kita asyik ngobrolnya, sampai akhirnya
cerita tentang seputar pengalaman masing-masing mengenai orang yang pernah
mengisi cerita hidup kita di masa lampau. Nah karena kebetulan kita suka main,
kita pun tak ketinggalan merencanakan main ke pantai Jolosutro dan beneran
terealisasi pada Minggu, 22 Juni. Horreee…. Liburan juga ya..
Esok
harinya aku berencana bertemu dengan teman-teman kerja di tempat lesku, lanjut
kumpul teman kuliah. Loohhh ya tak didugatak dinyana nambah ketemuan sama Tono juga loh endingnya wahahahahaha…
Akhirnya kita pun ke “Pas Pedas” ngobrol. Pulangnya diantar sampek gang rumah.
So sweet…
Hari
berikutnya obrolan semakin menjurus.. Jurus kuda liarkah?? Tentu bukan
wakakakakk… Maksudnya mulai ada rasa perhatian yang lebih dari sebelumnya.
Senyum terus pokonya, karena dia bilang bahwa BERSAMA KITA BISA. Gemmeess!!
Berapa
kali bertemu sejak saat itu? Aku sudah lupa rasanya berapa kali kita bertemu,
yang pasti aku senang saat bertemu. Hayooo kenapa ini ya?? Jangan…….
Jangaaaannnn……. ahahahahahaaa…..
28
Juni, entah bagaimana detailnya aku lupa, tapi sejak saat itu kita saling
memanggil “yank” dengan logat malu-malu meong. Lalu 28 Juni, sehari tepat
sebelum puasa Romadhon, kita berdua jalan lagi ke G.Kelud. Kata temanku: “Ciye yang barusan mengukir sejarah baru”.
Aku nyengir saja. Pagi sebelum itu, dia menjemput dan mengantarku menanti
keputusan kerja di Kademangan. Berita bahagia bonus main nih ceritanya. Sejenak
menikmati pemandangan di sekitar Kelud, tiba-tiba gerimis datang. Kita lari
bergandengan tangan menuju warung makan di sekitar situ untuk berteduh. Karena
sudah sore kita memutuskan segera pulang.
1
Juli, Bukber di rumah makan "Bengawan Solo". Dia menjemputku di perumahan melati, Blitar. Nah
malam itu kita mbolos sholat tarawih. Nakalan.. hehehee…. Di tengah bercandaan
tiba-tiba ada teman yang usil mengerjaiku. Sempat tertipu tapi ndak papa, lucu
sih. Setelah selesai berbuka lanjut jalan-jalan menyusuri jalanan malam. Sempat
mampir sebentar di salah satu rumah temannya. Alhamdulillah dapat teh dan
suguhan satu toples krupuk sambel.
Hari
tetap berlanjut dengan indah, meski ndak tiap hari bertemu, rasanya dia selalu
disampingku. Suaranya dari seberang sana selalu menemaniku. Terima kasih sayang Tono.
cieee cieeeeee
BalasHapus