Langsung ke konten utama

JOGJA, TERUKIR CERITA SAATKU BERSAMAMU

"Monggo Pak" sapa Intan dengan sopan kepada bapak satpam di hotel itu. Lalu ia menuju pintu keluar menuju ke pinggir jalan dan menengok ke arah jalan. Rupanya ia mencari seseorang yang sudah berjanjian dengannya untuk bertemu. Ia melayangkan pandang ke seluruh arah jalan yang ada di depannya, hingga ia menemukan seorang pria yang sedang asyik duduk di atas sepeda motornya dengan memainkan hpnya. Karena belum yakin dengan dugaannya, Intan memandangnya lama dengan harapan pria itu melambaikan tangannya. Dan benar sekali pria itu segera melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya. Intan pun segera menghampirinya. Sesaat mereka berdua saling pandang dan tersenyum kemudian bersalaman.

"Ehmm.. udah lama ya Mas nunggunya? Maaf tadi masih nunggu teman sekamar." Intan mengawali obrolan dengan rasa malu.

"Iya ndak papa Mbak. Loh kamu ini ada acara apa to di hotel ini? Kok sampek lama seminggu. Itu acaranya ngapain aja?" Pria yang bernama Zaki itu bertanya dengan nada penasaran dan sedikit memberondong Intan.

"Oh.. itu Mas, acara yang mengundang beberapa sekolah untuk ikut bimbingan teknik mapel UN gitu. Ya yang di bahas tentang mata pelajaran yang di UN kan semacam itu hehehe." Jelas Intan sambil cengingisan.

"Ouuhhhhh.. Ternyata Mbak ini seorang guru toh? Oalah Bu guru, Bu guru." Pria itu melambankan nada suaranya dengan nada memanjang lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah apa yang difikirkannya.
Mau keluar kemana nih? Katanya pengen jalan-jalan menikmati malam di Jogja. Tapi ini udah jam sepuluh lebih loh Mbak.

"Mau kemana ya tapi? Aku ndak tau mana-mana loh Mas." Idih Intan berpura-pura tak tau tempat-tempat di Jogja. Padahal kan neneknya juga ada di Jogja. Lebih tepatnya di daerah Bantul. Jauh sih dari kota.

"Ya kemana aja lah Mbak, aku siap nih nganterin. Maunya kemana dah ngopi, muterin kota Jogja atau gimana? Ngikut wae lah akunya." Zaki menawarkan pilihan yang membuat Intan tergiur. Karena pada dasarnya ia emang demen banget jalan-jalan. Dan ini adalah kesempatan. Katanya dalam hati.

"Hehehe.. beneran nih? Jadi guideku dong ya. Aku seneng banget kalo beneran kamu mau." Intan pun terlihat bersemangat meskipun di dalam hatinya terbersit rasa takut terhadap pria ini. Ya maklumlah kan mereka baru saja bertemu dan untuk pertama kalinya.

"Iya beneran, aku juga seneng kalo ada temannya jalan-jalan." Intan tak perfikir panjang, beberapa hari saja ia tinggal di kota Jogja, lebih tepatnya tujuh hari terhitung mulai dari tanggal 4 November 2013. Sekarang sudah tanggal 6 November, baru saja dua hari Intan berada di kota tersebut sudah ketemuan sama orang. Ia memang gemar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ya seperti ini misalnya, bisa keluar jalan-jalan dengan seorang pria yang baru saja dikenalnya di antara jadwal perjalanan dinasnya.

Keduanya kemudian mengenakan helm dan berangkat menyusuri jalanan malioboro dan sekitarnya.
Nanti jalan-jalan sama aku ada yang marah gimana? Zaki membuka percakapan dengan nada pengen segera tau jawaban Intan.

"Akh.. ndak ada kok. Kamu paling yang nanti dimarahin sama ceweknya. Timpal Intan dengan rasa puas. Ia merasa takut perbincangan itu merusak kebahagiaanya saat itu.
Ya kali saja nanti kepikiran sama yang di rumah suaminya nungguin gitu.

"Enggak lah. Trus kalo di rumah udah ada suami, ngapain akunya masih mau diajak keluar sama kamu. Kan lucu aja. Jangan-jangan malah kamu yang udah punya istri dan anak ya?" Intan mulai tidak nyaman dengan topik pembicaraan ini. Benar-benar merusak moodnya malam itu. Ia berfikir dan semakin penasaran ingin tau seperti apa sih pria yang sedang duduk di depannya ini.

"Kamu suka mbolang ya?" Tanya Zaki dengan santai.
"Hahhh Apaaa?" Ndak denger aku kamu tanya apa?
"Kamu itu loh suka mbolang?" Tak liat di momentnya banyak foto lagi mbolang.
"Suka tapi ya masih amatir lah, Masih banyak tempat yang belum tercapai untuk kukunjungi."
"Ke Semeru udah pernah?"
"Belum, belum kesampaian hiks." jawab Intan dengan nada gemas.
"Oh.. gak papa nanti kapan-kapan ya kesana kalo ada kesempatan." Jawab Zaki dengan santai.
"Kamu ini mapala ya?" Tanya Intan dengan penuh rasa penasaran.
"Menurutmu tampangku gimana?" Pria itu malah bertanya balik.
"Yaiya begitulah." Intan mengiyakan pertanyaan Zaki.

"Ya sudah benar banget. Oh iya ngomong-ngomong ini mau kemana? Masak dari tadi muter-muter terus. Malioboro udah tau kan? Itu tadi benteng namanya Plengkong Gading, nah mana lagi yang belum tau? Atau sudah pernah tau semua malah?" Tanya Zaki sambil menoleh ke arah Intan.

"Iya aku sudah pernah tau kok." Aku cuma pengen jalan-jalan menikmati jalanan malam di kota yang besar ini." Jawabnya sambil melayangkan pandangan separuh lamunan yang wenerawang.
"Lah kalo sudah tau tempat-tempat di sini mendingan kita ngopi aja lah." Pria itu menawarinya untuk berhenti di suatu tempat. Tempat yang ramai sekali dengan pemuda-pemudi yang asyik menikmati kopi dan sibuk bercanda dengan teman-temannya. Mobil dan motor penuh berjejer di depan halaman Legen Cofe kota baru itu.
"
Aku malu." Bisiknya lirih kepada Zaki.
"Loh kenapa musti malu? Wong ora nyolong wae." Jawabnya dengan santai.

"Bukan apa-apa. Tapi pakaianku ini loh.. Pake hem batik sama rok hitam. Malam-malam ngopi di sini hahahaha." Intan salah tingkah sambil memperbaiki jilbabnya yang agak penceng.
Sudahlah ndak apa-apa yang penting kamu pede itu ndak masalah. Sorry ya kalo pakaianku kaya preman. Ucapnya dengan santai.

"Iya ndak papa. Nyantai aja lagi. Aku juga biasanya gitu. Ini tadi juga berpakaian begini karena malas aja ganti baju." Jawab Intan dengan lega karena udah ndak ada yang dipermasalahkan.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Dan dia tau itu, tau Intan sudah lelah. Akhirnya ia mengantar Intan pulang kembali ke Ros-In Hotel. Mereka berdua saling berpamitan, namun dalam pandangan kedua insan itu mengisyaratkan bahwa masih belum cukup untuk melewatkan malam ini.
Intan langsung menuju kamarnya. Lantai III kamar 308. Ia senyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju kamar, bahkan saat sudah berada di kamarnya. Rasanya mimpi, awalnya ia hanya iseng mencoba mencari teman mumpung lagi di Jogja dengan menggunakan fasilitas #shake dan #people nearby yang disediakan oleh aplikasi chat di hpnya yang bernama wechat. Pengen punya temen asli Jogja gitu. Dan akhirnya ada satu orang yang ngasih greetings sama dia. Diliat bentar, berfikir diterima pertemanannya atau enggak. Dan akhirnya ujung jarinya menunjuk arah kolom berwarna hijau Accept.

Bermula dari itu Zaki dan Intan ngobrol dan ia mengetahui kalo ngakunya sih aslinya dari kota Kediri. Karena itu Intan menanggapinya lebih daripada teman yang di accept lainnya. Ya hanya menanggapi seadanya aja. Berbincangan lewat chat di wechat inilah yang akhinya membuat ia penasaran dan menerima ajakan Zaki untuk bertemu.

"Udah sampai nih, makasih ya tadi." Masuk satu pesan di hp Intan dari Zaki.
"Iya sama-sama. Makasih ya aku seneng banget tadi." Balas Intan sambil cengar-cengir sendiri kemudian terlelap dalam mimpi yang indah. Ia memimpikan sedang berjalan-jalan dengan Zaki. Sepertinya Intan suka sama Zaki pada pandangan pertama. Akh tidak.. mungkin hanya perasaan kagum sementara saja karena nampaknya mereka berdua nyambung banget saat ngobrol. Kebetulan saja mereka suka mbolang.

Mentari mulai menebarkan hangatnya saat muncul dari peraduan. Intan bangun dan melakukan rutinitasnya di Jogja yang kurang empat hari lagi. Ia berasa seperti seorang ratu setiba di kota itu. Betapa tidak, fasilitas mewah yang lengkap. Kamar yang nyaman dengan bed yang empuk, selimut yang hangat, tv layar datar yang gede nancap di dinding, kaca berhias seperti miliknya para artis dan kamar mandi yang menyediakan air hangat dan air dingin mo pake yang mana juga suka-suka gitu. Menu setiap hari yang bikin selera makan meningkat. Gimana ndak bikin gendut setelah tujuh hari tinggal di kota ini. Beruntung sekali Intan.

Intan menghitung hari, rasanya bukannya enggan meninggalkan segala fasilitas yang dinikmatinya, namun alasannya adalah pria yang kemarin ditemuinya yang membuat hatinya sedih. Jika ia pulang, ia tidak bisa bertemu dengannya lagi. Sehingga malam berikutnya ia ingin keluar lagi dengan Zaki. Merekapun janjian di tempat yang sama. Lagi-lagi Zaki harus menunggu lama di dekat pintu keluar hotel hingga akirnya mereka bertemu. Zaki hanya membawa satu helm, bahkan dia masih mengenakan sepatu dan hem serta mengendong tasnya di belakang. Rupanya ia baru saja pulang kerja.

"Mo kemana Bu guru?" Sapaannya yang khas itu selalu membuat Intan tersenyum.
"Seperti kemarin jalan-jalan yuk! Guidenya kan yang lebih tau. Aku manut wes. Heheehehee." Mereka cap cus muterin kota Jogja. Sampai akhirnya menemukan sebuah tempat ngopi dan menikmati jagung bakar pedas dan segelas kopi di alun-alun kidul. Intan makin suka sama Zaki karena sikapnya yang baik, apa adanya, santai yang membuatnya semakin nyaman. Diluar itu ia tak mau tau tentang Zaki. Ia hanya ingin menatap Zaki dengan penuh rasa kagum.

"Sudah! Jangan sampai kamu simpati sama aku loh. Pokoknya jangan sampek ya." Tiba-tiba Zaki memutus cerita Intan.
"Yee sapa yang simpati sama kamu. Aku kan cuma sekedar cerita pengalamanku yang udah-udah gitu. Intan malu sepertinya Zaki mengetahui maksudnya. Namun mendengar perkataan Zaki, ia menjadi sedih dan berkecil hati. Entah tak tau kenapa. Mungkin karena Intan sudah lama tidak berhubungan dengan pria sampai sebahagia ini. Sehingga jika dia tak sanggup jika harus merasa sedih lagi karena kehilangan seseorang yang dekat dengannya.

Sejak setahun yang lalu ia berpisah dengan mantan pacarnya. Ia berusaha menutup erat-erat pintu hatinya dan sibuk menyembuhkan luka yang dirasakannya. Sepanjang perjalan pulang ia kepikiran dengan ucapan Zaki di alun-alun tadi. Sepanjang jalan pulang ia setengah melamun. Menanggapi pertanyaan Zaki dengan menjawab secukupnya. Ia mengira malam itu malam terakhir dia bertemu Zaki. Semakin sedih dan rasanya langit akan runtuh saat membayangkannya.

"Ndak boleh kangen loh ya, janji!" kata itu menghentakkan lamunan Intan. Jari kelingking Zaki tiba-tiba diacungkan di depan Intan. Hati Intan semakin sedih, ia tetap berikir kenapa ia bisa merasa sedih. Zaki bukan siapa-siapanya. Ia berusaha berpikir positif dan mengait jari kelingking Zaki dengan perasaan bercampur aduk.

"Iya." Jawab Intan pendek. Dalam hati ia tak rela mengatakan itu. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan Zaki di lain waktu. Namun percuma saja karena ia tak mampu mengatakannya kepada Zaki. Dan hanya terdiam.

Tak terasa sepeda motor yang mereka kendarai sudah sampai di depan pintu masuk hotel. Zaki berpamitan, tak lupa Intan menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepada Zaki.

"Kalau saja kamu pacarku, pasti aku akan memintamu mengajakku keluar sampai pagi hari." gerutu Intan dalam hati sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian Zaki. Ia tak peduli sedari tadi ia diperhatikan oleh recepcionist.

"Mas, minta tolong saya mau naik ke lantai tiga lupa ndak bawa kunci kamar." Dengan tenang ia menuju lift dan menuju kamar. Menombol bel berkali-kali mengganggu teman sekamar untuk membukakan pintu.
"Jam berapa ini Mbak?" tanya bu Ningsih yang sekamar dengan Intan.
"Jam setengah duabelas Bu." terima kasih sudah membukakan pintu.

Sebelum tidur, Intan menunggu kabar dari Zaki.Memikirkan kata-kata Zaki sewaktu perjalan pulang tadi Intan tanpa terasa meneteskn air mata. Air mata yang tak tahu alasannya keluar dari kedua pelupuk matanya. Merasa kehilangan bahkan belum sempat memiliki.
Meskipun sudah lelah dan mengantuk, ia belum mau memejamkan mata supaya bisa ngobrol sama Zaki. Lagi Lagi Zaki, Zaki, dan Zaki. Nama itu berputar-putar di kepalanya, di kamar mandi, di ruang meeting, di tempat makan, apalagi di atas tempat tidur. Sepertinya Intan sudah teracuni virus dari yang namanya Zaki ini.

Esok harinya ia mendapat kabar dari teman-temannya bahwa acara bimbingan teknisnya dimampatkan menjadi lima hari saja. Sehingga Jumat, 8 November 2013 jam 19.00 WIB diadakan acara penutupan. Paginya bisa ceck out dari hotel.

"Yess! Masih ada satu malam untuk keluar dan bertemu masnya." Girang sekali Intan mendengar berita itu. Langsung ia mengabarkan hal itu pada Zaki. Mereka janjian untuk ketemu lagi.
Namun tak sesuai harapan. Zaki mengatakan bahwa malam ini ia lembur malam.
Lihat nanti ya, soalnya aku lembur. Jawab Zaki dari seberang sana.
Intan mempunyai pikiran dari A-Z. Salah satunya, itu hanya alasan Zaki saja karena tidak mau bertemu dengannya lagi. Mungkin sudah cukup cerita yang mereka berdua jalani di dua malam kemarin. Tidak mau menambah beban dan perasaan yang nantinya semakin menyulitkan.

Selesai acara penutupan sekitar 21.30 WIB Intan ingin sekali menghubungi Zaki dan mengajaknya bertemu. Malam terakhir, ia ingin menikmati lebih banyak waktu dengan Zaki. Ia tak berani mengganggu Zaki hingga akhirnya ia update status di moment wechat dengan harapan Zaki mengetahuinya dan memberi comment.
Ia tidak rela jika malam itu hanya dihabiskannya dalam kamar. Ia ingin pergi ke suatu tempat. Dan itu bersama Zaki.
"Tidur." Akhirnya Zaki mengomentari updatean Intan dan Intan langsung menjawabnya.
"belum ngantuk"
"Jalan-jalan?"
"kemana?"
"Kemana saja. Mau?"
"Iya. Aku mau ke tempat yang sering dikunjungi orang tapi aku belum pernah ke sana."
"xxx669."
"Maksudnya?"
"Sms di nomor itu. Hpku mau mati. Bawa powerbank ya!"
"Oke."
"lima belas menit aku sampek."
Selang beberapa menit ada pesan masuk. Rupanya yang ditunggu-tunggu oleh Intan tiba juga.

"Mo kemana nih jadinya Bu guru?" Muter-muter aja di jalanan kota Jogja ato ke Patuk? Bisa lihat bintang. Zaki menawarkan dua pilihan.

"Ke Patuk saja liat bintang." jawab Intan dengan pasti. Mereka pun menuju bukit bintang. Sebelumnya Zaki mampir ke pom untuk mengisi BBM. Pukul 00.30 WIB mereka baru tiba di sana. Mereka memesan kopi dan berbincang-bincang. Zaki tau kopi kesukaan Intan. Cappuccino. Dan Intan hanya tersenyum.

Intan lebih banyak menatap wajah Zaki yang terlihat digegelapan malam. Ia takut tak bisa lagi melihatnya. Zaki menceritakan sebagian kecil kisah hidupnya. Intan memperhatikan cerita Zaki karena ingin tahu tentang Zaki lebih dalam dan berusaha membuka matanya meskipun kantuk melanda. Intan menggigil karena kedinginan. Kedua tangannya mengepal dan menunjukkannya kepada Zaki.

"Bbbrr dingin banget ya di sini." Ucap Intan sambil menahan dingin.
Dingin itu jangan di lawan, tapi nikmati saja nanti akhirnya juga terbiasa. Zaki memegangi tangan Intan yang dingin. Tangan Zaki terasa hangat sekali.
"
Sudah yuk kita pulang! Kamu kedinginan gitu. Ini juga sudah pagi. Kasian kamunya jadi sentrap-sentrup gitu loh." Zaki mengajak pulang Intan.

"Kita mau kemana lagi?" tanya Intan.
Ya pulang nganter kamu ke hotel lah. Emang kamu masih mau kemana lagi?

"Aku mau muter-muter kota dulu, ya?" Intan merajuk kepada Zaki.
Iya deh. Zaki menuruti permintaan Intan. Mereka mengitari kota dan Zaki sesekali menunjukkan lokasi dan tempat-tempat yang ada di sekitar jalan yang dilaluinya. Zaki juga menunjukkan kantor tempatnya bekerja. Mereka bercanda di tengah malam yang masih ramai dengan lampu yang menyala. Tiba-tiba tangan Zaki menyentuh tangan Intan, menggenggamnya sambil bercerita dan menyusuri jalanan kota. Zaki menawari Intan untuk berfoto di salah satu sudut kota tersebut namun Intan menolak karena merasa mukanya sudah kusut karena mulai kemarin pagi ia beraktivitas dan belum tidur.

Zaki menghentikan motornya tepat di perempatan lampu merah. Tertulis di sana Jl. Parangtritis di salah satu sudut jalan. Mereka ngobrol sejenak di sana. Zaki duduk di atas motornya dan Intan berdiri di depannya. Orang yang lewat menatap mereka kemudian berlalu.

"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Intan keheranan.
Bentar aku mau merokok sebentar akh. Tuh liat! Dikiranya kita ini orang pacaran yang lagi bertengkar kali yak orang yang lewat ngeliatin kita begitu? kata Zaki menghentikan tawa Intan.

"Yaiyalah mereka ngeliatin kita begitu, ini sudah jam berapa kita masih berada di tengah jalan. Hoohooohooo." Jawab Intan dengan nada humor.
Lalu mereka pulang dan malam itu benar-benar malam terakhir bagi Intan bertemu dengan Zaki. Mereka kini hanya bisa saling berkomunikasi melewati aplikasi whatsapp dan wechat karena jarak mereka Blitar-Yogyakarta cukup jauh sekitar 8-9 jam perjalanan. Beberapa hari kemudian, topik pembicaraan mereka mulai merambah ke hati. Percakapan dari hati ke hati. Zaki tetap dengan pendirian awal, menginginkan untuk berteman saja dan meminta Intan untuk mencari yang lebih baik. Lagi-lagi air mata Intan tumpah. Saat membaca pesan dari Zaki Aku sayang kamu, tapi aku tau itu tidak mungkin. Aku tahu cinta tak harus memiliki.

Entah apa alasan yang dimiliki Zaki mengatakan, tapi sesungguhnya Intan berharap Zaki mengatakan yang sebaliknya, namun Intan hanya bisa pasrah. Karena separuh hati Intan tertinggal di kota Jogja bersama Zaki. Cerita ini ditulis tepat satu minggu saat pertemuan terakhir antara Intan dan Zaki. Intan memilih bersabar dan berusaha menjauhi kata mekso untuk perasaannya. Dan mencoba merelakan sesuatu yang sangat diharapkannya meskipun terasa menyesakkan dada. Zaki, baik-baik di sana. Aku akan menjadi Intan yang baik, yang menuruti permintaanmu. Jika memang kita tak berjodoh, semoga kamu mendapatkan yang lebih baik di sana.

Komentar

  1. The 8 Best Baccarat Sites 2021 - FBCasino
    The 8 Best Baccarat Sites 1xbet · Baccarat Rules · Learn How to Play · Win Big on a choegocasino Baccarat Baccarat · How to Play · Tips and 바카라 사이트 Tricks to Win · Strategy to Win.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka dalam Rumah Tangga

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Hallloooo... selamat tahun baru 2021 semuanyaa.. semoga segala sesuatunya akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.  Sudah 3 tahun blog ini tidak pernah terisi karena yang punya malas akut buat nulis.. Selama 3 tahun itu banyak kisah yang terlewati, baik suka maupun duka. Apa kabar buah si dedek yang kami?? Alhamdulillah dedek yang kita nanti sudah lahir, cowok... sekarang usianya 3 tahun lebih 2 bulan. Sudah aktif sekali tidak bisa diam. Bisa dibilang hiperaktif😂 Sudah 5 tahun berlalu semenjak pernikahan ini, dan cobaan pun melanda. Yang dikatakan orang dalam usia pernikahan 5 tahun pertama, rumah tangga akan diuji. Dannn itu pun terjadi pada kami... Doain ya semoga kami bisa melewatinya dan akan tetap menjadi keluarga yang solid. Aamiin. Intinya pihak ketiga datang saat kami dalam keadaan jenuh...  Salah satu apk telah membuat candu untuk selalu berselancar dalam dunia halu. Hingga akhirnya aku dan suami bertengkar he...

Esai Gunung Kemukus

                            PUNCAK GUNUNG KEMUKUS YANG PENUH CERITA                                                              Oleh Siti Nurhasanah                    Mencengangkan bagi yang belum pernah mengetahuinya. Ada suatu kebudayaan yang aneh dan tidak wajar tetapi membudaya yang ditulis dalam cerpen yang berjudul Kembang Kemukus karya Karkono Supadi Putra. Budaya ini berasal dari Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Ka...